Perguruan Tinggi | Regulasi & Kepatuhan
Batas Pelaporan PDDikti 2025-2 Kian Dekat, Ini Urutan Kerja agar Data Kampus Tidak Tertahan
27 Oct 2026
Akademik & Mutu | Perguruan Tinggi
19 Oct 2026
SEVIMA.COM – Instruksi beralih ke kurikulum Outcome-Based Education (OBE) sering tiba lebih dulu daripada pemahaman tentangnya. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare mengalaminya pada tahun 2022, dua tahun setelah program studi (prodi) di kampus itu menyesuaikan kurikulum dengan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Menurut Nurleli Ramli, M.Pd., dari tim implementasi kurikulum OBE di IAIN Parepare, saat itu belum ada seorang pun di tim yang benar-benar memahami kurikulum OBE.
Perlu waktu dua tahun hingga kurikulum itu berjalan di sistem. Satu pelajaran yang ia tekankan: penerapan OBE di perguruan tinggi bukan sekadar mengganti penutup.
Pada tahun 2022, Rektor IAIN Parepare mewujudkan pelestarian ke kondisi OBE sesuai kebijakan pemerintah. Saat itu, kampus mendeklarasikannya sebagai pemutakhiran kurikulum secara menyeluruh.
Keputusan perubahan itu lahir dari tiga pemicu utama. Pertama, Program Studi Pendidikan Agama Islam sedang mengajukan reakreditasi dan instrumen akreditasinya mensyaratkan kurikulum OBE. Kedua, regulasi pemerintah mendorong kampus beralih ke OBE. Panduan Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi (KPT) terbitan pemerintah sejak edisi 2020 sudah memakai pendekatan ini. Ketiga, tim melihat OBE berangkat dari profil lulusan sehingga kampus mempunyai alat untuk mengarahkan siswa menjadi lulusan yang sesuai dengan harapan mitra.
Langkah pertama yang dijalani tim pada masa pelestarian adalah belajar. Menurut Nurleli, IAIN Parepare mengikuti coaching OBE pada akhir 2022 hingga 2023, lalu menghadirkan pakar dari Kementerian Agama.
Tantangan terberat justru soal waktu. Para ketua program studi (kaprodi) baru saja merampungkan kurikulum MBKM, lengkap dengan capaian pembelajaran yang dirumuskan terpisah per unsur.
“Mereka baru diinstruksikan mengimplementasikan kurikulum MBKM, tiba-tiba berganti lagi ke kurikulum OBE. Jadi, menjelaskan kepada mereka itu tidak mudah,” kata Nurleli.
Baca Juga: OBE Tak Cukup di Atas Kertas, SEVIMA Ajak Kampus Bedah Implementasi hingga Akreditasi
Masuk sistem ternyata belum berarti selesai. Untuk mengetahui pencapaian pembelajaran lulusan (CPL) mana yang tercapai, dibutuhkan rantai yang utuh, yaitu komponen nilai pengukuran pencapaian pembelajaran mata kuliah (CPMK), lalu CPMK berkontribusi pada CPL. Rantai itu ditulis di rencana pembelajaran semester (RPS) melalui rencana evaluasi dan bobotnya. Jika yang tersimpan hanya nilai akhir, jejak dari kelas ke CPL berhenti di atas kertas.
“Kurikulum OBE, meskipun sudah ada di sistem, ketika tidak didukung penginputan RPS OBE-nya, pencapaian CPL juga tidak akan sempurna,” ujar Nurleli.
Di IAIN Parepare, Nurleli mengakui bahwa mata rantai yang putus pertama kali ada di pelaporan. Pada awal penerapan OBE, unit pelaporan Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) menemukan banyak mata kuliah yang datanya gagal terkirim. Penyebabnya, nilai siswa hanya berupa satu angka tanpa rincian komponen.
Kendala berikutnya muncul saat dosis mengisi RPS di sistem. Tidak semua dosen langsung memahami mengapa rencana evaluasi perlu diungkapkan dengan bobot setiap pertemuan. Tim implementasi juga menjelaskannya kepada prodi yang membutuhkan.
Di ruang kelas, pola lama juga perlu berubah. Sebelum OBE, banyak perkuliahan berjalan dengan pola makalah, presentasi, lalu selesai. Tim implementasi pun menyampaikan kepada dosen bahwa proses pembelajaran dalam OBE tidak lagi sama. “ Implementasi kurikulum OBE jangan sampai hanya sampulnya yang berganti, sementara itu tidak,” kata Nurleli.
Pesan Nurleli itu layak dibawa pulang ke kampus masing-masing. Jika nilai akhir mata kuliah masih berupa satu angka, tiga uji kesiapan dalam artikel Peristiwa Siap Kampus Anda untuk OBE? membantu memeriksa seberapa jauh nilai rantai, CPMK, dan CPL sudah tersambung.
Tiga angka menunjukkan besarnya pekerjaan di balik transisi ini.
Penyusunan dokumen dimulai pada tahun 2022 dan kurikulum OBE baru masuk sistem pada tahun 2024 di dua fakultas (13 prodi). Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah, serta program magister di Pascasarjana menyusul pada tahun 2025, lalu program doktor pada tahun 2026. Artinya, perlu empat tahun sejak instruksi sampai 33 program studi penerapannya.
Sebelumnya, capaian pembelajaran setiap prodi dirumuskan secara terpisah dalam empat unsur: sikap, pengetahuan, keterampilan umum, dan keterampilan khusus. IAIN Parepare menyepakati CPL gabungan, yaitu satu merangkum memuat unsur keempat dengan batas paling banyak dua belas belas CPL sebagai kebijakan kampus. Bagi kaprodi, ini berarti menulis ulang rumusan yang baru selesai, bukan sekedar memangkas jumlahnya. Oleh karena itu, penyusunan CPL memakan waktu yang cukup lama.
Saat keputusan diambil pada tahun 2022, lebih dari sepuluh program studi siap menyetujui akreditasi yang mensyaratkan kurikulum OBE. Arah itu kemudian ditegaskan Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek) saat itu, Sri Suning Kusumawardani, pada peluncuran Panduan KPT 2024, 22 Juli 2024: OBE menjadi penilaian penilaian lembaga akreditasi nasional maupun internasional. Per Desember 2025, IAIN Parepare meraih akreditasi institusi Unggul dan 15 dari 33 prodinya berpredikat Unggul.
Urutan yang ditempuh IAIN Parepare bisa dibaca sebagai kerangka kerja bagi kampus lain.
Perubahan itu terasa sampai ke ruang kelas. Melalui RPS, dosen mulai mempelajari penerapan pembelajaran aktif, seperti pembelajaran berbasis proyek (PjBL), pembelajaran berbasis kasus (CBL), berbagi pengetahuan, dan proyek mata kuliah.
“ Penolakan tidak ada. Justru yang mereka rasakan, perkuliahannya sekarang lebih terarah,” kata Nurleli tentang tanggapan siswa. Mahasiswa kini lebih banyak menganalisis kasus dan melakukan observasi lapangan.
Baca Juga: Dokumen OBE Sudah Lengkap, Tapi Apakah Sudah Berjalan?

Tabel Peranan di Kampus
Setelah kurikulum berjalan di sistem, empat hal kini terbaca dengan jelas.
RPS singkatnya. “ Dosen sudah mulai memahami, ketika mencari RPS tidak perlu lagi WhatsApp kaprodi minta link Google Drive. Sekarang kami tinggal menyampaikan: silakan dilihat langsung di sistem, RPS-nya sudah ada di situ, ” kata Nurleli.
CPL tidak berubah-ubah. Kaprodi memetakan CPL ke mata kuliah di sistem informasi akademik dan CPL yang dibebankan ke mata kuliah tidak bisa mengubah dosen. Penilaian di kelas pun tetap mengukur CPL yang sama.
Nilai tersambung ke rencana evaluasi. Nilai tugas dan ujian ditarik dari LMS, lalu disesuaikan dengan rencana evaluasi di RPS. Di akhir semester, dosen tidak lagi menanyakan penghitungan nilai.
Ketercapaian CPL terbaca tanpa hitung manual. Karena CPL, RPS, dan nilai berada dalam satu ekosistem, terlihat mata kuliah mana yang sudah memenuhi target CPL dan mana yang belum. Saat mengunjungi beberapa kampus untuk penelitian, Nurleli menemukan ada yang masih mengukur CPL secara manual, satu per satu.
Sebelum rapat kurikulum berikutnya, coba jawab tiga pertanyaan ini:
Bila salah satu deskripsi belum memuaskan, di situlah titik mulai yang paling realistis. Pemetaan yang lebih utuh tersedia melalui tiga uji kesiapan dalam artikel Peristiwa Siap Kampus Anda untuk OBE?
Di IAIN Parepare, pemetaan CPL, RPS, dan nilai kini berada di satu sistem informasi akademik yang terhubung dengan platform pembelajaran digital melalui SEVIMA Platform. Hasilnya, kaprodi dapat membaca ketercapaian CPL tanpa rekapitulasi manual, lalu memakainya sebagai dasar pemutakhiran kurikulum.
Diposting Oleh:
metaayu
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform.
Jadwalkan Diskusi