Kontak Kami

Akademik & Mutu | Perguruan Tinggi

Implementasi OBE di 33 Prodi IAIN Parepare: Dari Dokumen Kurikulum ke Pembelajaran yang Diukur

19 Oct 2026

SEVIMA.COM– Instruksi beralih ke kurikulum Outcome-Based Education (OBE) sering tiba lebih dulu daripada pemahaman tentangnya. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare mengalaminya pada 2022, dua tahun setelah program studi (prodi) di kampus itu menyesuaikan kurikulum dengan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Menurut Nurleli Ramli, M.Pd., dari tim implementasi kurikulum OBE di IAIN Parepare, saat itu belum ada seorang pun di tim yang benar-benar memahami kurikulum OBE.

Perlu waktu dua tahun hingga kurikulum itu berjalan di sistem. Satu pelajaran yang ia tekankan: implementasi OBE di perguruan tinggi bukan sekadar mengganti sampul.

Instruksi OBE Datang Saat Kurikulum MBKM Baru Selesai

Pada 2022, Rektor IAIN Parepare menginstruksikan peralihan ke kurikulum OBE sesuai kebijakan pemerintah. Saat itu, kampus mendeklarasikannya sebagai pemutakhiran kurikulum secara menyeluruh.

Keputusan peralihan itu lahir dari tiga pemicu utama. Pertama, Program Studi Pendidikan Agama Islam sedang mengajukan reakreditasi dan instrumen akreditasinya mensyaratkan kurikulum OBE. Kedua, regulasi pemerintah mendorong kampus beralih ke OBE. Panduan Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi (KPT) terbitan pemerintah sejak edisi 2020 sudah memakai pendekatan ini. Ketiga, tim melihat OBE berangkat dari profil lulusan sehingga kampus punya alat untuk mengarahkan mahasiswa menjadi lulusan yang sesuai dengan harapan mitra.

Langkah pertama yang dijalani tim pada masa peralihan adalah belajar. Menurut Nurleli, IAIN Parepare mengikuti coaching OBE pada akhir 2022 hingga 2023, lalu menghadirkan pakar dari Kementerian Agama.

Tantangan terberat justru soal waktu. Para ketua program studi (kaprodi) baru saja merampungkan kurikulum MBKM, lengkap dengan capaian pembelajaran yang dirumuskan terpisah per unsur.

“Mereka baru diinstruksikan mengimplementasikan kurikulum MBKM, tiba-tiba berganti lagi ke kurikulum OBE. Jadi, menjelaskan kepada mereka itu tidak mudah,” kata Nurleli.

Baca Juga: OBE Tak Cukup di Atas Kertas, SEVIMA Ajak Kampus Bedah Implementasi hingga Akreditasi

Nilainya Ada, Jejaknya ke CPL Tidak Ada

Masuk sistem ternyata belum berarti selesai. Untuk mengetahui capaian pembelajaran lulusan (CPL) mana yang tercapai, dibutuhkan rantai yang utuh, yaitu komponen nilai mengukur capaian pembelajaran mata kuliah (CPMK), lalu CPMK berkontribusi pada CPL. Rantai itu ditulis di rencana pembelajaran semester (RPS) melalui rencana evaluasi dan bobotnya. Jika yang tersimpan hanya nilai akhir, jejak dari kelas ke CPL berhenti di atas kertas.

“Kurikulum OBE, meskipun sudah ada di sistem, ketika tidak didukung penginputan RPS OBE-nya, capaian CPL juga tidak akan sempurna,” ujar Nurleli.

Di IAIN Parepare, Nurleli mengakui bahwa mata rantai yang putus pertama kali ada di pelaporan. Pada awal penerapan OBE, unit pelaporan Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) mendapati banyak mata kuliah yang datanya gagal terkirim. Penyebabnya, nilai mahasiswa hanya berupa satu angka tanpa rincian komponen.

Kendala berikutnya muncul saat dosen mengisi RPS di sistem. Tidak semua dosen langsung memahami mengapa rencana evaluasi perlu diselaraskan dengan bobot setiap pertemuan. Tim implementasi lantas menjelaskannya kepada prodi yang membutuhkan.

Di ruang kelas, pola lama juga perlu berubah. Sebelum OBE, banyak perkuliahan berjalan dengan pola makalah, presentasi, lalu selesai. Tim implementasi pun menyampaikan kepada dosen bahwa proses pembelajaran dalam OBE tidak lagi sama. “Implementasi kurikulum OBE jangan sampai hanya sampulnya yang berganti, sementara isinya tidak,” kata Nurleli.

Pesan Nurleli itu layak dibawa pulang ke kampus masing-masing. Jika nilai akhir mata kuliah masih berupa satu angka, tiga uji kesiapan dalam artikel Seberapa Siap Kampus Anda untuk OBE? membantu memeriksa seberapa jauh rantai nilai, CPMK, dan CPL sudah tersambung.

Apa yang Diceritakan dari Angka

Tiga angka menunjukkan besarnya pekerjaan di balik transisi ini.

Pertama, dua tahun persiapan.

Penyusunan dokumen dimulai pada 2022 dan kurikulum OBE baru masuk sistem pada 2024 di dua fakultas (13 prodi). Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah, serta program magister di Pascasarjana menyusul pada 2025, lalu program doktor pada 2026. Artinya, perlu empat tahun sejak instruksi sampai 33 program studi menerapkannya.

Kedua, dari 20 hingga 25 rumusan menjadi paling banyak 12 CPL.

Sebelumnya, capaian pembelajaran tiap prodi dirumuskan terpisah dalam empat unsur: sikap, pengetahuan, keterampilan umum, dan keterampilan khusus. IAIN Parepare menyepakati CPL gabungan, yaitu satu rumusan memuat keempat unsur dengan batas paling banyak dua belas CPL sebagai kebijakan kampus. Bagi kaprodi, ini berarti menulis ulang rumusan yang baru selesai, bukan sekadar memangkas jumlahnya. Oleh karena itu, tahap penyusunan CPL memakan waktu cukup lama.

Ketiga, lebih dari sepuluh prodi.

Saat keputusan diambil pada 2022, lebih dari sepuluh program studi bersiap mengajukan akreditasi yang mensyaratkan kurikulum OBE. Arah itu kemudian ditegaskan Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek) saat itu, Sri Suning Kusumawardani, pada peluncuran Panduan KPT 2024, 22 Juli 2024: OBE menjadi acuan penilaian lembaga akreditasi nasional maupun internasional. Per Desember 2025, IAIN Parepare meraih akreditasi institusi Unggul dan 15 dari 33 prodinya berpredikat Unggul.

Enam Langkah Implementasi OBE yang Ditempuh IAIN Parepare

Urutan yang ditempuh IAIN Parepare bisa dibaca sebagai kerangka kerja bagi kampus lain.

  1. Menyusun template dokumen kurikulum. Tim implementasi kurikulum OBE menyusun satu template untuk semua prodi jenjang sarjana dan magister, lengkap dengan petunjuk pengisian di setiap bagian. Menurut Nurleli, tanpa pegangan seperti ini, prodi bisa tersendat karena ketidakjelasan siapa penanggung jawabnya. Kondisi ini membuat prodi rawan untuk mencari jalan sendiri, misalnya menyalin dokumen kurikulum dari internet atau kampus lain.
  2. Memulai dari mata kuliah institusi. Pimpinan menetapkan mata kuliah institusi sebagai contoh pertama. Dosen pengampu dan koordinatornya menyepakati batasan materi dan rumusan CPL-nya menjadi patokan bagi kaprodi. Saat kurikulum masuk sistem, RPS mata kuliah inilah yang pertama dimasukkan sehingga materinya kini seragam di semua kelas.
  3. Memberi ruang bagi kaprodi. Kaprodi diberi keleluasaan menghadirkan alumni, asosiasi, dan mitra untuk merumuskan profil lulusan dan CPL.
  4. Mendampingi sampai CPL tuntas. Tim implementasi berkeliling ke fakultas untuk melihat rumusan CPL setiap prodi sekaligus mendengar kesulitan kaprodi. “Jangan membiarkan kaprodi bekerja sendiri. Perlu kita rangkul, perlu kita dampingi sampai mereka menuntaskan perumusan CPL-nya,” ujar Nurleli.
  5. Menuntaskan dokumen, baru masuk sistem. Tim implementasi dan kaprodi menyelesaikan dokumen lebih dulu. Meskipun fitur kurikulum OBE di sistem sudah tersedia, tim tidak mau memasukkannya sebelum kerangka kurikulum terdokumentasi. Setelah itu, kurikulum masuk sistem bertahap per fakultas.
  6. Menyambungkan RPS, rencana evaluasi, dan nilai. Rektor meminta setiap kaprodi memantau pengisian RPS di prodinya. Pimpinan juga menjalankan strategi dosen serumpun. Dosen dengan mata kuliah atau keilmuan yang sama dikumpulkan untuk menyepakati batasan materi, dengan anggaran yang dialokasikan ke setiap prodi. Dosen muda yang akrab dengan teknologi mengisi RPS di sistem, sementara dosen yang sudah lama mengajar dengan pola sebelumnya perlahan mengikuti RPS yang tersedia. Dosen juga diajak memakai platform pembelajaran digital (LMS) untuk tugas, kuis, dan ujian berbasis komputer, sehingga nilainya tercatat langsung di sana.

Perubahan itu terasa sampai ke ruang kelas. Lewat RPS, dosen mulai mempelajari penerapan pembelajaran aktif, seperti pembelajaran berbasis proyek (PjBL), pembelajaran berbasis kasus (CBL), berbagi pengetahuan, dan proyek mata kuliah.

“Penolakan tidak ada. Justru yang mereka rasakan, perkuliahannya sekarang lebih terarah,” kata Nurleli tentang tanggapan mahasiswa. Mahasiswa kini lebih banyak menganalisis kasus dan melakukan observasi lapangan.

Baca Juga: Dokumen OBE Sudah Lengkap, Tapi Benarkah Sudah Berjalan?

Siapa Memegang Apa

Tabel Peranan di Kampus

Tabel Peranan di Kampus

Yang Sekarang Bisa Dilihat, Dulu Tidak Bisa

Setelah kurikulum berjalan di sistem, empat hal kini terbaca dengan jelas.

RPS terpusat. “Dosen sudah mulai memahami, ketika mencari RPS tidak perlu lagi WhatsApp kaprodi minta link Google Drive. Sekarang kami tinggal menyampaikan: silakan dilihat langsung di sistem, RPS-nya sudah ada di situ,” kata Nurleli.

CPL tidak berubah-ubah. Kaprodi memetakan CPL ke mata kuliah di sistem informasi akademik dan CPL yang dibebankan ke mata kuliah tidak bisa diubah dosen. Penilaian di kelas pun tetap mengukur CPL yang sama.

Nilai tersambung ke rencana evaluasi. Nilai tugas dan ujian ditarik dari LMS, lalu disesuaikan dengan rencana evaluasi di RPS. Di akhir semester, dosen tidak lagi kewalahan menghitung nilai.

Ketercapaian CPL terbaca tanpa hitung manual. Karena CPL, RPS, dan nilai berada dalam satu ekosistem, terlihat mata kuliah mana yang sudah memenuhi target CPL dan mana yang belum. Saat mengunjungi beberapa kampus untuk penelitian, Nurleli mendapati ada yang masih mengukur CPL secara manual, satu per satu.

Jika Kampus Anda Mau Mulai

Sebelum rapat kurikulum berikutnya, coba jawab tiga pertanyaan ini:

  1.       Sudahkah kampus Anda memiliki template dokumen kurikulum dengan petunjuk pengisian di setiap bagian?
  2.       Nilai satu mata kuliah semester lalu terdiri atas berapa komponen, dan apakah bobotnya mengikuti rencana evaluasi di RPS?
  3.       Bisakah dosen membuka RPS tanpa meminta tautan kepada kaprodi?

Bila salah satu jawabannya belum memuaskan, di situlah titik mulai yang paling realistis. Pemetaan yang lebih utuh tersedia lewat tiga uji kesiapan dalam artikel Seberapa Siap Kampus Anda untuk OBE?

Di IAIN Parepare, pemetaan CPL, RPS, dan nilai kini berada di satu sistem informasi akademik yang terhubung dengan platform pembelajaran digital melalui SEVIMA Platform. Hasilnya, kaprodi dapat membaca ketercapaian CPL tanpa rekapitulasi manual, lalu memakainya sebagai dasar pemutakhiran kurikulum.

Diposting Oleh:

metaayu

Tags:

kurikulum obe obe outcome based education

Mengenal SEVIMA

SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform.

Jadwalkan Diskusi
SEVIMA Platform

Regulasi

Lihat Semua

    Video Terbaru

    Membangun Kampus Bermutu dan Mendunia tanpa Meninggalkan Budaya | Rektor Unmas Denpasar