Berita | Liputan Media

Mahasiswa, 4 Kesempatan Unik Ini Bisa Dicoba di Era Kampus Merdeka

KOMPAS.com – Esensi Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang diluncurkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meliputi belajar dan praktek di luar kelas selama tiga semester.

Kegiatan tersebut juga diakui sebagai bagian dari perkuliahan dan diberi nilai sebesar 60 SKS.

Program yang terdapat dalam Kampus Merdeka dinilai bisa menjawab tantangan perguruan tinggi untuk menghasilkan lulusan yang sesuai perkembangan zaman.

Para mahasiswa bisa mengoptimalkan semua program yang ada dalam Kampus Merdeka. Sehingga bisa mendapatkan pengetahuan seluas-luasnya tidak hanya dari bangku perkuliahan.

Ada 4 kegiatan dalam program Kampus Merdeka yang bisa dicoba para mahasiswa.

1. Kuliah di ITB dan ITS sekaligus

Kesempatan pertama dalam program kampus merdeka, adalah pertukaran pelajar. Pada umumnya, mahasiswa membayangkan bahwa pertukaran pelajar artinya pergi jauh bahkan keluar negeri selama beberapa tahun.

Menurut Ketua Program Kompetisi Kampus Merdeka Bagus Jati Santoso, pertukaran pelajar juga bisa dilakukan antarprogram studi maupun antarkampus. Bagus menjelaskan, saat ini kualitas perkuliahan di kampus sendiri ataupun kampus luar negeri, juga tidak kalah dengan perkuliahan di luar negeri.

“Pak Dirjen Dikti juga menyatakan bahwa pertukaran pelajar dalam negeri, masih sangat sedikit,” terang Bagus dalam dalam webinar bertajuk ‘Tips Membangun Kurikulum Kampus Merdeka serta Ekuivalensinya,’ yang dilaksanakan secara daring, Rabu (31/3/2021).

Bagus mengungkapkan, dalam praktek pertukaran pelajar, mahasiswa bisa mengambil mata kuliah apapun di jurusan lain maupun kampus lain.

Caranya pun tidak sulit, tinggal mengakses website Sasrabahu.ID lalu pilih mata kuliah dan kampus yang dia inginkan. Kampus juga sudah memfasilitasi dengan cara menambah mata kuliah pilihan dan melakukan pemetaan atas kemungkinan transfer kredit (pengakuan kegiatan sebagai nilai).

“Jadi bisa saja, anak kuliah di Teknik Informatika ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember). Lalu ambil pertukaran pelajar di ITB (Institut Teknologi Bandung). Tidak ada masalah, sekarang eranya kolaborasi,” jelas Bagus.

2. Magang sambil kuliah online

Magang jadi kesempatan kedua dalam program Kampus Merdeka. Sebelum ada program Kampus Merdeka, magang artinya meninggalkan perkuliahan. Saat ini, saat mengikuti magang, mahasiswa juga tetap bisa mengikuti kelas lain di kampus jika ingin menambah nilainya.

Karena perkuliahan di era tatanan normal baru saat ini, mengarah ke sistem asynchronous (tidak langsung) dan blended (campuran online dan offline).

“Mahasiswa mau ikut kuliah di kelas pada jam tertentu silakan. Mau ikut kuliah lain waktu, juga bisa karena kuliah di kelas itu direkam dan bisa disimak lain waktu. Jadi kuliah bisa diakses secara online dari mana saja dan kapan saja. Sore hari pulang kerja setelah magang di Jakarta, buka laptop, lalu ikut kuliahnya ITS, itu bisa banget,” beber Bagus.

Direktur Pendidikan ITS Siti Machmudah menambahkan, dalam program Kampus Merdeka, magang bisa diakui hingga 20 SKS. “Di ITS, kita mengakui magang hingga 6 SKS,” kata Siti.

3. Meneliti, mengajar dan mengabdi di desa

Tridharma Pendidikan Tinggi mensyaratkan penelitian, pengajaran, dan pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa bisa meneliti, melakukan asistensi, menggelar kegiatan kemanusiaan di masyarakat, dan membangun desa lewat program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Nantinya, penelitian tersebut akan diakui sebagai pengganti nilai kuliah.

“Jadi mahasiswa mau meneliti, mengajar lewat program Kampus Mengajar, dan melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik di desa dan pelosok Indonesia. Itu diakui dan dinilai seperti kuliah,” imbuh Siti.

Cara yang diperlukan untuk mengambil kesempatan ini cukup mudah. Mahasiswa tinggal mengusulkan keinginannya untuk meneliti, mengajar, atau mengabdi, lewat dosen pembimbing masing-masing. Dengan syarat bahwa yang diterapkan sejalan dengan ilmu yang mereka pelajari di bangku kuliah.

“Misal kuliah di Teknik Kimia, maka bisa saja meneliti di pabrik pupuk, mengajarkan pemakaian pupuk ke petani, melakukan donasi ke petani hingga membangun sistem pertanian di desa. Nanti dosen pembimbing yang akan mengarahkan dan memberi lampu hijau,” terang Siti.

4. Buat bimbel dan startup

Wirausaha dan studi independen merupakan kesempatan ketujuh dan kedelapan yang bisa diakses mahasiswa. Ketua Program Studi IAIN Curup Kurniawan MPD menjelaskan, kesempatan ini adalah yang paling menarik secara finansial. Karena mahasiswa bisa mendapat profit dari hasil usahanya, sekaligus dapat nilai.

“Jadi sambil kuliah, sambil berwirausaha dan bikin startup, dan itu diakui oleh negara. Bahkan, bisa juga dapat fasilitas Pendanaan dari Program Kewirausahaan Ditjen Dikti dan Platform Kedaireka. Artinya uang dapat, nilai dapat,” tutur Kurniawan.

Di IAIN Curup, beberapa mahasiswa telah berhasil membuka bimbingan belajar dan startup seputar Pendidikan. Kegiatan ini kemudian bisa dikonversi menjadi SKS sekaligus kesempatan menerapkan ilmu mahasiswa.

Hal ini berhasil ia lakukan dengan cara menyesuaikan kurikulum, menerima pendaftaran mahasiswa, menyusun syarat pendaftaran yang rinci, dan memberdayakan dosen pendamping sebagai pamong bagi para mahasiswa.

“Kebetulan karena program studi kami adalah Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, maka mahasiswa membuka bimbel untuk anak sekolah. Ilmu mengajar mereka praktikkan, uang mereka dapat, nilai mereka dapat juga,” pungkas Kurniawan.

Dalam webinar ini selain dihadiri ribuan anggota Komunitas Sentra Vidya Utama (Sevima), sebanyak 33 Rektor dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) se-Indonesia juga turut hadir.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Mahasiswa, 4 Kesempatan Unik Ini Bisa Dicoba di Era Kampus Merdeka” pada 01 April 2021.

Bagikan artikel ini
TAGS :

Komentar