Kontak Kami

Dunia Kampus

RPL Bukan Masalah Minat: 5 Titik Rawan Penerapan yang Menguji Kendali Perguruan Tinggi

22 Jan 2026

RPL bukan persoalan pendaftar, melainkan uji nyata kesiapan sistem dan kendali institusi.

SEVIMA.COM — Di berbagai perguruan tinggi, Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) dibuka dengan optimisme tinggi. Target mahasiswa pekerja tercapai, jalur baru diresmikan, dan institusi merasa telah mengambil langkah strategis untuk memperluas akses pendidikan tinggi.

Namun di balik pertumbuhan tersebut, muncul persoalan yang jarang dibahas secara terbuka di tingkat pimpinan: apakah RPL benar-benar berjalan sebagai sistem institusional, atau justru bertumpu pada kerja manual, kompromi operasional, dan ketergantungan pada individu tertentu?

Temuan lapangan dari wawancara pengembangan RPL terhadap 8 perguruan tinggi pada 2024—termasuk Institut Sains dan Teknologi Nasional, Universitas Bhakti Kencana, Universitas Pasundan, hingga Universitas Paramadina—menunjukkan bahwa persoalan utama bukan terletak pada rendahnya minat calon mahasiswa. Persoalan utama terletak pada kesiapan tata kelola akademik. Ketika proses asesmen, dokumentasi, dan pelaporan mutu tidak dirancang terintegrasi sejak awal, RPL berisiko bergeser dari peluang strategis menjadi titik rawan institusi—terutama saat menghadapi audit, evaluasi mutu, atau ekspansi skala.

Dalam konteks ini, RPL bukan sekadar jalur masuk alternatif. RPL adalah stress test tata kelola akademik perguruan tinggi: menguji sejauh mana institusi memiliki kendali nyata atas proses akademik yang kompleks, lintas unit, dan berdampak langsung pada reputasi mutu.

1. Puluhan Lembar LED per Mahasiswa: Titik Uji Ketahanan Sistem

Penyusunan Laporan Evaluasi Diri (LED) untuk setiap mahasiswa menjadi ujian awal ketahanan sistem RPL. Dari wawancara dengan 8 PT, ditemukan bahwa 80-90% penanggung jawab RPL kewalahan menyiapkan dokumen LED untuk pelaporan ke SIERRA. Penyebabnya jelas: setiap mahasiswa dapat menghasilkan 80-90 halaman dokumen karena asesmen dilakukan hingga level CPMK setiap mata kuliah.

Ketika jumlah pendaftar mencapai ratusan atau ribuan, beban ini segera melampaui kapasitas kerja manual tim akademik. Proses repetitif, konsolidasi dokumen lintas unit, dan verifikasi berulang membuat konsistensi data semakin sulit dijaga. Pada tahap ini, persoalan RPL bukan lagi administratif—melainkan daya tahan sistem institusi dalam menjaga kendali mutu.

2. Kerangka Akademik yang Kabur sebagai Akar Inkonsistensi Asesmen

Di banyak perguruan tinggi, jalur RPL dibuka sebelum terdapat kesepahaman akademik yang utuh mengenai alur asesmen, standar pembuktian capaian pembelajaran, dan batasan pengakuan yang dapat diberikan.

Temuan wawancara menunjukkan bahwa sebagian besar tim RPL belum sepenuhnya memahami apa yang harus dilakukan ketika membuka jalur RPL. Akibatnya, dosen dan asesor bekerja dalam ruang interpretasi yang abu-abu. Tanpa kerangka akademik yang jelas sejak awal, RPL berisiko direduksi menjadi prosedur administratif—bukan proses akademik yang sahih, terukur, dan konsisten antar program studi.

3. Asesmen RPL yang Bertabrakan dengan Realitas Kerja Dosen

Asesor RPL umumnya merupakan dosen dengan beban tridarma yang sudah tinggi. Namun proses asesmen sering menuntut pengelolaan banyak dokumen, perpindahan antar format, dan penggunaan sistem yang tidak terintegrasi.

Situasi ini mendorong praktik asesmen manual: asesor harus membuka banyak tab, dan akhirnya mencetak dokumen ke hardfile untuk kemudahan. Dampaknya, admin PMB bekerja dua kali—memasukkan ulang hasil asesmen ke sistem. Bukan hanya keterlambatan proses, tetapi juga meningkatnya risiko kesalahan data dan kelelahan organisasi yang bersifat struktural.

4. Fragmentasi Sistem yang Rawan Menjadi Temuan Audit

Keterputusan alur data antara asesmen RPL, sistem akademik, dan pelaporan institusional menjadi risiko laten. Data hasil asesmen sering tidak terhubung langsung dengan sistem penerimaan mahasiswa maupun pelaporan ke SIERRA.

Fragmentasi ini menyulitkan penelusuran eviden dan konsistensi laporan. Dari perspektif pimpinan, kondisi ini mempertaruhkan reputasi institusi ketika data tidak dapat ditelusuri secara utuh dan akurat pada saat audit atau evaluasi eksternal dilakukan. RPL menjadi pertaruhan akreditasi yang tidak terlihat sampai terlambat.

5. RPL sebagai Beban Operasional: Sinyal Kegagalan Desain Strategis

Titik rawan paling mendasar terletak pada cara RPL diposisikan. Ketika RPL diperlakukan sebagai pekerjaan tambahan tanpa dukungan sistem dan desain proses yang memadai, program ini sulit berkembang secara berkelanjutan.

Alih-alih menjadi motor pertumbuhan mahasiswa dan penguatan mutu akademik, RPL justru berpotensi menjadi titik lemah institusi dalam evaluasi eksternal dan audit mutu.

Menata RPL dengan Sistematis, Bukan Sekadar Jalur

Lima titik rawan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan RPL tidak ditentukan oleh regulasi atau antusiasme pendaftar, melainkan oleh kesiapan sistem dan kejelasan desain tata kelola.

Bagi pimpinan perguruan tinggi, RPL perlu diposisikan sebagai keputusan strategis jangka panjang pembangunan ekosistem akademik yang mampu menjaga konsistensi asesmen, ketertelusuran eviden, dan akuntabilitas pelaporan dalam skala besar.

SEVIMA Platform menjawab kebutuhan tersebut melalui pendekatan end-to-end: mulai dari pendaftaran, asesmen berbasis CPMK, pengelolaan eviden, hingga pelaporan yang terstruktur dan dapat ditelusuri sehingga RPL dapat dijalankan sebagai proses akademik yang efisien dan bermartabat, bukan sebagai sumber risiko tersembunyi.

Diposting Oleh:

Liza SEVIMA

Tags:

-

Mengenal SEVIMA

SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami

Video Terbaru

Laptop Mati di Saat Genting? Dosen Unidosoe: "EdLink Penyelamat Saya"