Info Sentra Vidya Utama | Lomba Artikel

Siapkah Civitas Akademika Kampus Menghadapi Transformasi Digital ?

Penulis: Andreas Rony Wijaya, S.Mat., M.Sc.

Institut Teknologi Telkom Purwokerto

PENDAHULUAN

Perguruan Tinggi (PT) sebagai pencetak generasi akademis penerus bangsa, mempunyai tantangan besar dalam menyiapkan generasi yang terampil dan berkompeten. Pesatnya perkembangan teknologi dan informasi berpengaruh terhadap pemanfaatan teknologi di berbagai bidang kehidupan, tidak terkecuali di bidang pendidikan dan pengajaran. Terlebih di masa pandemi Covid-19 ini, pembelajaran tatap muka bertransformasi menjadi pembelajaran daring (dalam jaringan) atau yang disebut dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Adanya pandemi ini seolah-olah menjadi katalisator dalam transformasi teknologi digital pada kegiatan pembelajaran di Indonesia saat ini.

Implementasi transformasi digital membutuhkan langkah strategis dan perencanaan yang baik, yang melibatkan banyak stakeholder dan komponen yang perlu diperhatikan. Diantaranya adalah (1) Bagaimana kebijakan dari pemerintah maupun petinggi kampus (2) perangkat pendukung, baik hardware maupun software, (3) SDM pengguna, (4) Konten pembelajaran. Pada intinya semua hal tersebut digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan kualitas layanan pada suatu institusi pendidikan tinggi. 

 

Gambar. Roadmap Transformasi Digital di Institusi Pendidikan

(sumber: dokumentasi pribadi)

Perangkat Penunjang Kegiatan Pembelajaran

Dengan adanya pembelajaran jarak jauh (PJJ) memunculkan inovasi-inovasi baru mengenai pembelajaran sistem daring seperti ini. Ditandai dengan banyak munculnya berbagai starup di Indonesia yang berinovasi dengan metode belajar e-learning, seperti Ruang Guru, Quipper, Aku Pintar, dan lain sebagainya. Selain itu, mahasiswa dan dosen pengajar juga dituntut untuk terbiasa menggunakan perangkat pembelajaran semacam Zoom Meeting, Google Meet, Skype, Microsoft Teams, dan media lainnya. 

Perangkat lain seperti Sistem Informasi Akademik (Siakad), Learning Management System (LMS), dan produk e-learning lainnya juga menjadi sarana pendukung dalam proses pembelajaran di kampus. Platform ini diharapkan dapat mempermudah dalam menunjang aktivitas pembelajaran di kampus, baik untuk mahasiswa maupun dosen. Melalui platform tersebut, bisa digunakan untuk kegiatan ujian dan tugas, memeriksa kehadiran siswa, mengunggah materi, evaluasi hasil belajar, dan kegiatan pembelajaran lain yang dapat meningkatkan efisiensi proses belajar-mengajar.  

Sudah Siapkah Civitas Akademika Kampus?

Dengan adanya transformasi digital maka perlu disiapkan sumber daya manusia yang mahir dalam penguasaan Teknologi Informasi (TI). Dalam hal ini adalah kompetensi dan keterampilan dari civitas akademika di kampus yang menjadi pemeran utama dalam proses transformasi teknologi di kampus. Civitas akademika kampus ini meliputi para pengajar yaitu dosen, para staff/tenaga kependidikan, dan tentunya mahasiswa. Idealnya disamping kompetensi professionalnya, para civitas akademika perlu mengimbanginya dengan kompetensi teknologi informasi yang baik.

Yang pertama adalah mengenai penyesuaian metode mengajar. Tenaga pengajar atau dosen harus memiliki kreativitas dan metode yang sesuai saat mengajar secara daring, agar ilmu yang disampaikan dapat diserap oleh mahasiswa dengan optimal. Para dosen pengajar mestinya sudah mahir dalam menggunakan perangkat pembelajaran. 

Seringkali dosen lebih suka untuk mengajar dengan metode yang konvensional. Keengganan untuk belajar hal yang baru merupakan salah satu penyebabnya. Contoh sederhana lainnya adalah tak jarang banyak mahasiswa yang mengeluhkan karena dosennya tidak mengunggah materi perkuliahan di LMS. Belum lagi banyak dosen yang susah dihubungi via phone. Para dosen perlu menyadari bahwa saat ini jamannya sudah berbeda dengan jaman mereka yang yang belum mengenal teknologi terkini. 

Para dosen pengajar hendaknya mengakrabi penggunaan perangkat teknologi digital untuk mengembangkan cara mengajar, menggali informasi, serta menciptakan konten-konten kreatif yang edukatif. Dosen harus adaptif, harus mau menyesuaikan kemajuan teknologi di dunia pendidikan. Dosen hendaknya dapat memanfaatkan semua perangkat yang sudah disediakan oleh institusinya dengan baik, agar proses belajar mengajar dapat optimal.

Pemanfaatan teknologi informasi hendaknya membuat model perkuliahan lebih dinamis. Tak lagi hanya dengan dosen mengajar lalu mahasiswa mendengarkan. Dengan semakin canggihnya teknologi digital mendorong mahasiswa untuk lebih kreatif dalam mendapatkan dan mengembangkan informasi dan pengetahuan.

Sebagai objek pengajaran pada pembelajaran daring, mahasiswa kerap kali malah tidak terlalu aktif, bahkan tidak fokus dalam mengikuti pembelajaran. Beberapa diantara mereka bahkan sama sekali tidak memperhatikan materi dari dosennya. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa tersebut belum siap dalam menghadapi transformasi teknologi ini.

Sejatinya dengan adanya transformasi teknologi ini dapat membawa banyak manfaat bagi mahasiswa. Banyak seminar maupun pelatihan yang bisa diikuti oleh mahasiswa dengan secara daring. Lebih lagi, mahasiswa bahkan dapat mengikuti short course dari kampus lain, bahkan dari kampus luar negeri. (MBKM)

Disamping sistem pembelajarannya, hal yang perlu diperhatikan lainnya adalah mengenai sistem pelayanannya. Stakeholder yang bertanggung jawab adalah para staf kependidikan. Staff kependidikan di suatu perguruan tinggi secara umum terdiri dari tenaga akademik. Laboran, bagian SDM, staff IT, dan keuangan. Sebagai seorang tenaga pendukung dalam pendidikan, hendaknya dapat menyiapkan sistem yang baik, yang dapat menunjang kegiatan akademik dan pelayanan di suatu kampus. 

Sistem tata Kelola teknologi informasi berbasis e-administrasi dapat dikembangkan yang dapat meningkatkan kinerja para civitas akademika serta memudahkan dalam mendapatkan informasi dan layanan di kampus. Pelayanan seperti pendaftaran mahasiswa baru (e-Admisi), Registrasi dan herregistrasi (e-regristrasi), pembayaran mahasiswa (e-payment), dan lain sebagainya. Dengan diterapkannya e-Administrasi diharapkan dapat terciptanya pelayanan yang efektif dan efisien, keakurasian data yang baik dan up to date, yang menjadikan pelayanan yang optimal kepada seluruh stakeholder. 

Perlunya Meningkatkan Kompetensi

Dengan adanya transformasi digital ini maka perlu menyiapkan kualitas civitas akademika dalam penguasaan Teknologi Informasi (TI). Dalam menghadapi transformasi digital dapat dilakukan melalui pelatihan teknologi. Selain itu setiap individu harus meningkatkan self-motivation pada dirinya masing-masing untuk mempunyai kemauan untuk terus belajar dan mau menyesuaikan dengan kemajuan teknologi informasi. Bukan soal usia, siapa saja wajib menambah kompetensinya dalam teknologi digital, entah yang berkarir sebagai dosen, mahasiswa, staff/tenaga kependidikan.

Dukungan dari pihak perguruan tinggi mengenai sarana prasarana IT sangat membantu dalam pelaksanaan upaya yang dilakukan oleh para dosen, mahasiswa, dan civitas akademika lainnya. Para pengambil kebijakan di sektor pendidikan di negeri ini juga perlu untuk merumuskan langkah-langkah yang strategis sehingga kemajuan teknologi informasi ini dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk kepentingan sektor pendidikan tinggi di Indonesia.

PENUTUP

Pada akhirnya, kehadiran teknologi digital tidak hanya menjadi solusi atas permasalahan di bidang pendidikan akibat dari Covid-19, melainkan juga untuk membangun ekosistem digital. Terlebih, kedepannya diprediksi metode blended learning yang memadukan pembelajaran daring dan tatap muka akan menjadi alternatif. Civitas akademika kampus sebagai pelaku utama dalam proses alih teknologi ini harus terus mau untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensinya. 

Perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan, hendaknya mampu menyesuaikan standar keilmuan yang dibutuhkan di masa sekarang dan di masa depan. Kampus sebagai lembaga pendidikan tinggi yang menghasilkan calon tenaga kerja harus mampu menghasilkan lulusan yang kompeten, inovatif, serta cakap digital.

Mengenal SEVIMA

SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen selama 18 tahun dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui sistem informasi siAkadCloud

TAGS :

Komentar