RPL Bukan Masalah Minat: 5 Titik Rawan Penerapan yang Menguji Kendali Perguruan Tinggi
22 Jan 2026
23 Jan 2026

SEVIMA.COM– Saat jumlah mahasiswa mulai menyusut drastis, barulah banyak pimpinan kampus tersadar bahwa perubahan tidak bisa ditunda. Rapat demi rapat digelar, jargon transformasi digaungkan, digitalisasi mulai dibicarakan serius. Namun seperti yang diingatkan Rhenald Kasali, pada fase ini institusi sering kali sudah kehabisan energi, modal, dan ruang manuver. Waktu ideal untuk berubah sesungguhnya bukan saat krisis, melainkan ketika perguruan tinggi masih berada dalam posisi mapan.
Pesan ini menjadi benang merah dalam diskusi strategis yang digelar di Rumah Perubahan Jakarta Escape pada 31 Agustus 2023. Forum tersebut membedah secara kritis bagaimana perguruan tinggi Indonesia harus merespons disrupsi melalui strategi adaptasi yang terstruktur, kolaboratif, dan berbasis teknologi—terutama dalam konteks implementasi Outcome-Based Education (OBE).
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa mayoritas perguruan tinggi di Indonesia melakukan perubahan ketika sumber daya sudah menipis. Mahasiswa mulai berkurang, keuangan kampus tersedot untuk operasional darurat, dan dosen dibebani administrasi alih-alih pengembangan keilmuan. Transformasi yang dilakukan dalam kondisi seperti ini cenderung reaktif, bukan strategis.
Gejala ini memiliki dampak berlapis. Ketika perubahan baru dimulai saat jumlah mahasiswa menurun, institusi tidak lagi memiliki anggaran untuk berinvestasi pada teknologi dan penguatan sistem akademik. Dosen, yang semestinya menjadi produsen pengetahuan, justru lebih banyak berperan sebagai konsumen ilmu. Akibatnya, kurikulum tidak berkembang seiring dinamika industri, dan lulusan yang dihasilkan semakin tidak relevan dengan kebutuhan pasar kerja.
Dalam banyak kasus, teknologi pun diperlakukan sebagai “kotak Pandora”—sesuatu yang ditakuti untuk dibuka karena dianggap rumit dan mahal. Padahal, sikap ini justru memperlebar jurang digital dengan kompetitor yang lebih adaptif. Ketidaksinkronan antara supply pendidikan dan demand industri akhirnya bermuara pada satu persoalan klasik: lulusan sarjana kesulitan memperoleh pekerjaan yang layak.
Rhenald Kasali merangkum situasi ini dengan tajam: perubahan sering kali ditunda ketika institusi memiliki banyak sumber daya, tetapi dipaksakan saat semua sudah habis. Perguruan tinggi yang terjebak dalam pola ini berisiko besar mengalami disrupsi dalam waktu dekat.
Sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya pimpinan perguruan tinggi melakukan refleksi internal melalui tiga pertanyaan berikut:
Jawaban atas ketiga pertanyaan ini akan menentukan seberapa mendesak institusi Anda membutuhkan reorientasi strategis.
Berdasarkan paparan dalam forum tersebut, terdapat tiga strategi adaptasi kunci yang dapat menjadi kerangka kerja pimpinan perguruan tinggi dalam menghadapi disrupsi.
Outcome-Based Education sejatinya bukan konsep baru. Gagasan ini sudah dikenal sejak 1930-an, dengan penekanan pada capaian pembelajaran yang terukur dan relevan. Namun, persoalan utama perguruan tinggi bukan pada ketiadaan konsep, melainkan kurangnya keberanian dan kepercayaan diri untuk berubah.
Dalam kerangka OBE, pendidikan tidak berhenti pada hafalan, tetapi menuntut aplikasi dan penciptaan. Mahasiswa diarahkan untuk memiliki kompetensi nyata, sementara dosen berperan sebagai fasilitator sekaligus inovator. Tanpa confidence untuk bertransformasi, institusi akan terus berada dalam posisi sebagai pengikut, bukan pencipta arah perubahan.
Perubahan tidak mungkin berjalan sendirian. Ekosistem pendidikan tinggi melibatkan banyak pemangku kepentingan: institusi, dosen, mahasiswa, industri, pemerintah, hingga masyarakat. Salah satu masalah mendasar yang dihadapi saat ini adalah belum terjalinnya hubungan yang kuat antara supply pendidikan dan demand industri.
Dalam konteks ini, program nasional seperti Kedaireka hadir sebagai jembatan. Ini menegaskan bahwa Kedaireka dirancang sebagai ruang temu antara dunia industri dan pendidikan, dilengkapi dengan skema matching fund untuk mendorong kolaborasi konkret. Tanpa mekanisme gotong royong semacam ini, kurikulum akan terus tertinggal dari kebutuhan nyata dunia kerja.
Teknologi merupakan pintu masuk utama transformasi digital. Namun, adopsi teknologi tidak cukup berhenti pada penggunaan aplikasi terpisah-pisah. Perguruan tinggi membutuhkan sistem akademik yang terintegrasi sebagai fondasi perubahan jangka panjang.
Lebih dari itu, mahasiswa perlu dibekali literasi digital yang mendalam. Dunia digital bukan sekadar ruang konsumsi informasi, melainkan ekosistem kompleks dengan peluang dan risiko. Ketika institusi gagal mempersiapkan mahasiswa menghadapi realitas ini, mereka akan memasuki “rimba digital” tanpa peta dan kompas.
Ketiga strategi ini menegaskan satu prinsip penting: timing perubahan. Transformasi ideal dilakukan saat institusi masih memiliki sumber daya—anggaran, mahasiswa, dan tenaga penggerak. Sebaliknya, perubahan yang dilakukan ketika semua sudah habis justru berpotensi fatal.
Ketiga pilar adaptasi tersebut membutuhkan infrastruktur digital yang mampu mengintegrasikan kurikulum OBE, kolaborasi industri, dan manajemen akademik dalam satu ekosistem. Tanpa fondasi ini, transformasi akan berjalan parsial dan sulit berkelanjutan.
SEVIMA menyediakan pendekatan terintegrasi melalui Modul OBE dan platform sistem akademik yang telah digunakan oleh lebih dari 1.200 perguruan tinggi di Indonesia. Modul ini dirancang untuk membantu institusi menyusun profil lulusan yang komprehensif—mencakup hard skills dan soft skills—sekaligus memastikan ketercapaian learning outcomes secara terukur.
Bagi pimpinan perguruan tinggi, momentum ini menjadi kesempatan strategis untuk melakukan transformasi dari posisi kekuatan. Institusi yang mampu merespons disrupsi secara adaptif tidak hanya bertahan, tetapi juga berpeluang menarik dan mempertahankan calon mahasiswa berkualitas di masa depan.
Transformasi OBE bukan proyek satu unit atau satu semester. Ia membutuhkan orkestrasi dari pimpinan yang mampu menyelaraskan visi, tim, dan sistem dalam satu arah. Di tengah tekanan akreditasi dan perkembangan teknologi AI yang semakin cepat, pertanyaannya bukan lagi “apakah harus OBE” tetapi “bagaimana memimpin perubahan ini secara berkelanjutan.”
Rhenald Kasali akan kembali membuka sesi diskusi eksklusif bersama SEVIMA dan LLDIKTI Wilayah III, khusus untuk pimpinan perguruan tinggi yang ingin mendalami strategi implementasi OBE dan transformasi digital kampus.
Executive Workshop: Lead The Future Memimpin Orkestrasi Kampus Berdampak dengan AI & Kurikulum OBE
Kamis, 12 Februari 2026 di Jakarta
Eksklusif untuk pimpinan perguruan tinggi. Daftar Sekarang → sevi.ma/executive-obe
Diposting Oleh:

Liza SEVIMA
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami