Berita | Event SEVIMA | Webinar

Sukses Memenuhi Capaian Pembelajaran Mata Kuliah di Tengah Pandemi

SEVIMA.COM – Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) merupakan capaian dari suatu pembelajaran yang mencakup seluruh aspek sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Capaian ini dibutuhkan untuk memperoleh hasil memuaskan di akhir perkuliahan. Sehingga, capaian tersebut dijadikan sebagai tolok ukur selama proses belajar mengajar. 

Menerapkan capaian pembelajaran, ternyata membawa dampak terhadap tersendiri bagi suatu pembelajaran. Tanpa adanya standar capaian pembelajaran, kualitas program studi maupun perguruan tinggi akan menurun. Sehingga, ini akan menghambat kegiatan belajar-mengajar di suatu perguruan tinggi. 

Keadaan semakin memburuk ketika pandemi mulai merajalela di Indonesia. Para pendidik harus mencari strategi yang tepat untuk diaplikasikan kepada seluruh perguruan tinggi. 

Melihat situasi dan kondisi seperti sekarang ini, SEVIMA memberikan jalan keluar melalui Webinar dengan tema ‘Langkah Sukses Memenuhi Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK)’. Menghadirkan pembicara yang kompeten dalam pembelajaran online learning, yaitu Dr. Uwes Anis Chaeruman (Dewan Penasihat Asosiasi Program Studi Teknologi Pendidikan Indonesia (APS-TPI)), Syarif Iqbal, S. Sos, M.A (Dosen Hubungan Internasional), dan Tim Pengembang Konten E-Learning IAIN Parepare. 

Banyak yang mengira, adanya pandemi yang sedang mewabah di negeri kita akhir-akhir ini membuat sistem pembelajaran harus dilakukan secara online. Sayangnya anggapan itu kurang tepat. Sistem pembelajaran online seperti ini memang sudah mulai dirintis sejak tahun 2013 silam. Metode ini merupakan suatu gambaran pembelajaran online di masa mendatang.  

Pemerintah dan pihak pendidikan tinggi sudah merencanakan metode Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dari beberapa tahun lalu. Mereka beranggapan, dengan menerapkan metode PJJ tersebut sistem belajar mengajar akan lebih mudah diaplikasikan dengan baik,” ujar Uwes. 

Di Indonesia, belum banyak pihak perguruan tinggi menggunakan metode ini. Namun sejak pandemi, akhirnya seluruh elemen pendidikan di Indonesia menggunakan metode tersebut.  

Dalam bukunya yang berjudul ‘PEDATI: Model Desain Sistem Pembelajaran Blended’, Uwes menjelaskan mengenai metode PEDATI (Pembelajaran Daring Perguruan tinggi). Metode ini bisa dijadikan salah satu opsi untuk melakukan e-learning, khususnya learning pathway. 

Metode pembelajaran ini, bisa menjamin terwujudnya CPMK dalam pembelajaran daring. 

E-learning sendiri menurut Uwes bisa dibagi menjadi dua hal: synchronous learning dan asynchronous learning

Synchronous learning adalah suatu metode yang digunakan para pengajar melalui pembahasan perkuliahan secara langsung, baik melalui Live Synchronous learning (tatap muka) dan Virtual Synchronous (tatap maya). 

Berbeda dengan Synchronous learning, Asynchronous merupakan metode pembelajaran yang memanfaatkan teknologi modern, seperti aplikasi dan fitur-fitur tertentu. Asynchronous dibagi menjadi dua, yaitu Self Directed Asynchronous dan Collaborative Asynchronous

Self Directed Asynchronous merupakan metode pembelajaran yang bisa dilakukan secara mandiri, selain itu metode pembelajaran ini bisa diakses dimana saja dan kapan saja. Menurut Uwes, metode pembelajaran tersebut sangat cocok untuk diaplikasikan selama masa pandemi ini. Terlebih jika digunakan untuk memenuhi kriteria capaian pembelajaran. 

Sedangkan Collaborative Asynchronous adalah metode pembelajaran yang bisa dilakukan untuk belajar dan bertukar pikiran dengan satu dengan yang lain melalui media digital. Dengan menggunakan metode ini, dosen dan mahasiswa akan lebih mudah melakukan diskusi dan kolaborasi untuk bertukar pikiran. 

Menentukan Metode Belajar yang Tepat

Setiap perguruan tinggi memang sudah memiliki pakem yang tepat untuk melakukan pembelajaran tatap maya selama pandemi. Banyak mahasiswa yang merasa bosan dan kurang pas dengan metode yang sudah dilakukan pembelajaran online ini. 

Menurut Uwes, untuk mengatasi kebosanan tersebut, pengajar bisa menggunakan metode yang lebih menyenangkan saat mengajar, seperti Virtual Synchronous, Self Directed Asynchronous, dan Collaborative Asynchronous.

Gambar 1. Metode tepat untuk menentukan seting belajar

Uwes menambahkan, jika dosen cenderung memilih cara untuk menstimulasikan pengalaman nyata, metode Synchronous amat disarankan. Sementara itu, jika dosen menginginkan metode pembelajaran yang lebih fleksibel, metode Asynchronous bisa diterapkan.

Di dalam bukunya, Uwes menjelaskan rumus PEDATI yang terdiri dari 4 cara: Pelajari, Dalami, Terapkan, Evaluasi. Ini merupakan rumus yang bisa digunakan dosen sebagai acuan sebelum melakukan pembelajaran. Rumus ini bertujuan supaya perguruan tinggi dan dosen bisa membuat langkah pembelajaran yang tepat untuk mahasiswanya demi terwujudnya capaian pembelajaran sesuai target. 

Pelajari, merupakan metode tepat untuk membangun sisi kreativitas mahasiswa. Mahasiswa dianjurkan untuk mempelajari materi yang akan diberikan dosen sebelum perkuliahan dimulai. 

Dalami, berfungsi sebagai salah satu cara untuk mahasiswa bisa mendalami konten yang diberikan dosen melalui LMS. 

Terapkan, adalah penerapan ilmu yang sudah diampu dan dipelajari oleh mahasiswa. Dalam hal ini, dosen bisa memberikan tugas agar mahasiswa mampu menyelami dan menerapkan ilmu yang sudah diberikan. 

Evaluasi, merupakan langkah akhir dari rumus tersebut. Setelah melakukan seluruh sistem dan penilaian, dosen wajib melakukan dari hasil pembelajaran tersebut. 

Selain melakukan refleksi terhadap metode pembelajaran, dosen juga diharuskan untuk 

melakukan sinkronisasi pembelajaran yang sudah berjalan. Ini dimaksudkan agar dosen mampu untuk menjadi seorang fasilitator untuk bisa mengajar lebih menarik. 

—-

Sama seperti Uwes, Syarif Iqbal (Dosen Hubungan Internasional) juga menerapkan metode pembelajaran yang efektif dan menarik. Menurutnya, menemukan metode yang tepat untuk mahasiswa tidaklah semudah membalikkan tangan. Dosen harus melakukan research agar mahasiswa mampu menerima metode tersebut. 

Dalam hal ini, Iqbal memilih cara pendekatan sesuai kategori generasi kepada mahasiswanya. Cara ini dimaksud untuk melebur gap yang sering dihadapi. Gap tersebut meliputi sosial, teknologi, budaya, ekonomi, pendidikan. 

Tantangan terbesar di era digital

Memasuki era digital, GAP pada teknologi antar generasi dirasa menjadi salah satu GAP terbesar yang harus dilebur. Salah satu cara yang bisa dilakukan dengan menerapkan pembelajaran melalui media yang sedang digandrungi mahasiswa. Dengan demikian, dosen diharapkan mampu melakukan pendekatan semaksimal mungkin. Sehingga seluruh proses belajar mengajar bisa berjalan dengan maksimal. 

Selain itu, pendekatan komunikasi ini dinilai sangat cocok untuk digunakan meleburkan GAP.  Bila terjalin komunikasi yang sangat baik, maka sistem belajar mengajar juga akan berjalan dengan lancar. Terutama saat dosen menggunakan metode pembelajaran secara virtual. 

Skill yang wajib dimiliki seorang dosen 

Iqbal mengungkapkan, ada empat skill yang bisa digunakan oleh dosen selama e-learning, yaitu preparation,execution, patience, resourcefulness. Pada preparation ini, dosen sangat disarankan untuk memiliki kemampuan adaptability, creativity, technology fundamental. Sementara itu, untuk menghilangkan kebosanan yang biasanya terjadi pada mahasiswa, dosen bisa menggunakan aplikasi-aplikasi pembelajaran online yang sudah berkembang di lingkungan pendidikan. 

Lain halnya dengan preparation, execution merupakan cara dimana dosen bisa melakukan komunikasi yang baik dengan mahasiswa saat perkuliahan berlangsung. Pola interaksi ini dikategorikan sebagai salah satu pola interaksi yang cukup dinamis. 

Selain kedua metode tersebut, dosen dianjurkan untuk menumbuhkan rasa patience saat mengajar. Patience, menjadi salah satu kunci terbesar seorang pengajar ketika menghadapi perkuliahan bersama mahasiswa. 

Tak hanya memiliki sikap patience, dosen juga harus menjadi seorang yang resourcefulness. Resourcefulness, merupakan cara dosen untuk menjadi seorang inovator. Dosen harus mampu menemukan pola komunikasi yang baik dalam kegiatan belajar mengajar. 

Strategi dan model pengembangan konten e-learning juga diterapkan pada kampus IAIN Parepare. Kampus ini sudah melakukan pengembang e-learning sejak tahun 2010. Pengembangan tersebut diharapkan agar seluruh pelaku pendidikan di kampus bisa menerapkannya dengan baik. Dengan menerapkan berbagai metode tersebut, kampus ini menjalankan sistem pendidikan dengan lancar meskipun  di tengah pandemi. 

Dapat disimpulkan, bahwa pandemi bukan menjadi suatu penghalang bagi perguruan tinggi untuk melakukan proses belajar mengajar. Dengan memiliki pakem pembelajaran online yang tepat, dosen dan perguruan tinggi mampu melampaui capaian pembelajaran pada suatu perguruan tinggi.

Anda bisa tonton kembali Webinar Sukses Memenuhi Capaian Pembelajaran Mata Kuliah di Tengah Pandemi disini:

Bagikan artikel ini

Komentar