Perguruan Tinggi | PMB & Retensi
Pakar Marketing Kampus Ungkap 3 Kesalahan PMB yang Diam-diam Menguras Anggaran Iklan
07 Oct 2026

SEVIMA.COM – Saat ini dunia pendidikan sedang mengalami masalah yang serius. Dengan perubahan Iptek yang sangat cepat dan kompleks, menuntut untuk lebih bersiap secara matang dalam menghadapi perubahan dunia yang serba cepat ini. Belum lama ini Society 5.0 sedang hangat-hangatnya diperbincangkan.
Dilaporkan dari laman ditpsd.kemdikbud.go.id, era masyarakat super cerdas (society 5.0) sendiri dimulai oleh Pemerintah Jepang pada tahun 2019, yang dibuat sebagai antisipasi dari gangguan gejolak akibat revolusi industri 4.0, yang menyebabkan kerusakan yang kompleks dan ambigu (VUCA). Dikhawatirkan invansi tersebut dapat menggerus nilai-nilai karakter kemanusiaan yang dipertahankan selama ini.
Baca juga : 5 Infrastruktur yang Harus Disiapkan Untuk Digitalisasi Perguruan Tinggi
Dalam menghadapi era society 5.0, dunia pendidikan berperan penting dalam meningkatkan kualitas SDM. Selain pendidikan beberapa elemen dan pemangku kepentingan seperti pemerintah, Organisasi Masyarakat (Ormas) dan seluruh masyarakat juga ikut andil dalam menyambut era society 5.0 mendatang.
Untuk menjawab tantangan Revolusi industri 4.0 dan Society 5.0 dalam dunia pendidikan diperlukan kecakapan hidup abad 21 atau lebih dikenal dengan istilah 4C (Creativity, Critical Thingking, Communication, Collaboration).
Sementara itu di abad 21 kompetensi yang diharapkan dimiliki oleh pelajar adalah memiliki kemampuan 6 Literasi Dasar (literasi numerasi, literasi sains, literasi informasi, literasi finansial, literasi budaya dan kewarganegaraan).
Tidak hanya literasi dasar namun juga memiliki kompetensi lainnya yaitu mampu berpikir kritis, bernalar, kreatif, berkomunikasi, berkolaborasi serta memiliki kemampuan pemecahan masalah. Dan yang terpenting memiliki perilaku (karakter) yang mencerminkan profil pelajar pancasila seperti rasa ingin tahu, inisiasi, kegigihan, mudah beradaptasi memiliki jiwa kepemimpinan, memiliki kepedulian sosial dan budaya.
Society 5.0 adalah masyarakat yang dapat menyelesaikan berbagai tantangan dan permasalahan sosial dengan memanfaatkan berbagai inovasi yang lahir di era Revolusi industri 4.0 seperti Internet on Things (internet untuk segala sesuatu), Artificial Intelligence (kecerdasan buatan), Big Data (data dalam jumlah besar), dan robot untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Society 5.0 juga dapat diartikan sebagai sebuah konsep masyarakat yang berpusat pada manusia dan berbasis teknologi.
Terjadi perubahan pendidikan di abad 20 dan 21. Pada 20th Century Education fokus pendidikan pada anak informasi yang bersumber dari buku. Serta cenderung fokus pada wilayah lokal dan nasional. Sementara era 21th Century Education, fokus pada segala usia, setiap anak merupakan di komunitas pembelajar, pembelajaran diperoleh dari berbagai macam sumber bukan hanya dari buku saja, tetapi bias dari internet, berbagai macam platform teknologi & informasi serta perkembangan kurikulum secara global, Di indonesia dimaknai dengan merdeka belajar.
Baca juga : Digitalisasi Kegiatan Belajar Mengajar dengan SEVIMA EdLink
Sebagai Pendidik di era society 5.0, para pendidik harus memiliki keterampilan di bidang digital dan berpikir kreatif. Menurut Zulfikar Alimuddin, Director of Hafecs (Highly Functioning Education Consulting Services) menilai di era masyarakat 5.0 (society 5.0) pendidik dituntut untuk lebih inovatif dan dinamis dalam mengajar di kelas (Alimuddin, 2019).
Oleh karena itu ada tiga hal yang harus dimanfaatkan pendidik di era society 5.0. diantaranya Internet of Things pada dunia Pendidikan (IoT), Virtual/Augmented Reality dalam dunia pendidikan, Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan untuk mengetahui serta mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran yang dibutuhkan oleh pelajar.
Berdasarkan riset World Economic Forum (WEF) 2020, terdapat 10 kemampuan utama yang paling dibutuhkan untuk menghadapi era Revolusi Industri 4.0, yaitu bisa memecahkan masalah yang kompleks, berpikir kritis, kreatif, kemampuan memanajemen manusia, bisa berkoordinasi dengan orang lain, kecerdasan emosional, kemampuan menilai dan mengambil keputusan, mencakup mengedepankan pelayanan, kemampuan negosiasi, serta kemampuan kognitif. 10 kemampuan ini juga relevan dalam menghadapi Society 5.0.
Untuk memberi ruang kepada orang-orang yang didik untuk menemukan konsep pengetahuan dan kreativitas. Pendidik dapat memilih berbagai model pembelajaran seperti pembelajaran penemuan, pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis masalah, dan pembelajaran inkuiri. Dari berbagai model tersebut mendorong perseta didik untuk membangun kreativitas serta berpikir kritis.
Baca juga : 10 Digitalisasi yang Harus Dilakukan Perguruan Tinggi di Era Disruptif
Pembelajaran di era revolusi 4.0 dalam menghadapi Society 5.0 apalagi di masa pandemi Covid-19 dapat menerapkan hybrid/blended learning. Dikti juga memberikan berbagai dukungan kepada dunia pendidikan dengan menyediakan platform untuk pembelajaran berani, seperti:
Bagi kampus Anda yang menginginkan pembelajaran yang tepat dengan hybrid learning. EdLink bisa menjadi salah satu solusi yang tepat dalam kegiatan belajar mengajar Anda. Di sini Anda akan menemukan kemudahan dan keefektifan selama proses belajar. edlink.id
Sumber Referensi Artikel:
– http://ditpsd.kemdikbud.go.id/artikel/detail/menyiapkan-pendidik-profesional-di-era-society-50
– https://smol.id/2019/12/17/memajukan-inovasi-pembelajaran-di-era-society-5-0/
– http://new.widyamataram.ac.id/content/news/menghadapi-era-society-50-perguruan-tinggi-harus-ambil-peran
Diposting Oleh:

Fadhol SEVIMA
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform.
Jadwalkan Diskusi