Rektor yang Lahir Bersama Kampusnya: Dr. Edhy Sutanta dan 52 Tahun Perjalanan Universitas AKPRIND Indonesia
19 Aug 2026
19 Aug 2026

SEVIMA.COM- Universitas Janabadra (UJB) memasuki usia 68 tahun dengan identitas yang tidak berubah sejak awal berdiri. Kampus ini dikenal sebagai kampus kebangsaan yang terbuka bagi siapa saja, tanpa memandang latar belakang agama maupun ekonomi.
Didirikan pada 7 Oktober 1958 oleh Mr. KPH. Soedarisman Poerwokoesoemo, Wali Kota Yogyakarta periode 1947 hingga 1950, kampus ini lahir dari satu prinsip yang terus digaungkan hingga kini, yaitu “ora entuk wong melarat ora iso kuliah” yang bermakna tidak boleh ada orang yang karena keterbatasan ekonomi tidak dapat menempuh pendidikan tinggi. Pada masa itu, calon mahasiswa yang tidak lolos seleksi ketat di perguruan tinggi negeri maupun tidak mampu secara finansial menempuh pendidikan di perguruan tinggi swasta besar, menemukan jalan tengah di Universitas Janabadra.
Dalam wawancara bersama tim SEVIMA, Dr. Risdiyanto, S.T., M.T., Rektor Universitas Janabadra yang telah mengabdi di kampus ini sejak 1999 dan kini menjalani periode pertamanya sebagai rektor, menyampaikan keyakinannya terhadap keberlangsungan institusi ini. “Persoalan di dalamnya memang banyak gejolak, tapi nilai baik dari pendiri itu yang saya yakini membuat kampus ini bertahan,” ujarnya. “Program studi bisa saja buka tutup, tapi institusinya insyaallah tetap sustain karena semangatnya adalah semangat kebaikan,” lanjutnya.
Semangat inklusif dari pendiri tersebut, menurut Dr. Risdiyanto, juga tercermin dalam identitas lain yang melekat pada Janabadra, yaitu sebagai “kampus kebangsaan”. Istilah ini merujuk pada keterbukaan kampus dalam menghadirkan dan menerima seluruh pemeluk agama untuk hadir di dalamnya, atau bersifat multi-religion.
Mengenai latar belakangnya sebagai insinyur sipil, termasuk riset yang pernah ia lakukan mengenai transportasi dan perilaku masyarakat dalam memilih moda transportasi, Dr. Risdiyanto menjelaskan bahwa latar belakang tersebut justru relevan dengan tugasnya memimpin institusi pendidikan. “Sipil sebenarnya punya lima bidang, salah satunya transportasi,” katanya.
Di dalam bidang transportasi sendiri terdapat sisi fisik murni dan sisi sosial, dan ia mengaku lebih banyak berkecimpung pada sisi sosial tersebut. Kelebihan kedua dari cara berpikir engineering, menurutnya, adalah adanya kriteria yang terukur dan objektif, yang kemudian ia terapkan langsung dalam tata kelola kampus. Kelebihan ketiga adalah kebiasaan berorganisasi yang telah dijalaninya sejak jenjang SD, SMP, hingga SMA, sehingga menangani orang telah menjadi hal yang biasa baginya jauh sebelum menjabat sebagai rektor.
Selama menjabat, Dr. Risdiyanto mencatat tiga pencapaian yang ia anggap paling berarti. Pertama, hadirnya dua program studi baru dalam tiga tahun terakhir, yaitu Bisnis Digital dan Magister Kenotariatan, setelah lebih dari 12 tahun kampus ini tidak membuka program studi baru. Kedua, kenaikan status akreditasi di hampir seluruh program studi dari peringkat “Baik” menjadi “Baik Sekali”, yang didorong melalui pembenahan tim akreditasi internal. Ketiga, peletakan batu pertama proyek Kampus Terpadu yang sempat tertunda lebih dari 20 tahun sejak lahannya tersedia pada tahun 2000, dan kini terealisasi setelah ia mendorong pihak yayasan secara proaktif untuk memulai pembangunan.
Ia menekankan bahwa proyek Kampus Terpadu bukan semata soal pendanaan, melainkan juga menyangkut perizinan. Menurutnya, semakin lama pembangunan tertunda, semakin besar pula biaya yang harus ditanggung karena izin kampus terpadu harus terus diperpanjang. Ia menambahkan, apabila dibiarkan tanpa kepastian dalam jangka waktu tertentu, lahan tersebut berisiko diambil alih oleh negara karena dinilai tidak dapat dipertanggungjawabkan. Setelah pembangunan resmi dimulai, fokus Dr. Risdiyanto saat ini bergeser kepada penerimaan mahasiswa baru (PMB), yang ia sebut sebagai tantangan paling dekat sekaligus paling berat yang dihadapinya saat ini.
Berbekal cara berpikir engineering yang mengutamakan kriteria terukur, Dr. Risdiyanto mendorong penerapan Indeks Kinerja Dosen, Karyawan, dan Unit (KPI), sebuah instrumen yang baru mulai dijalankan di kampus ini setelah melalui perdebatan panjang, mengingat sebelumnya kampus ini belum memiliki KPI yang jelas. Ia meyakini bahwa tanpa ukuran yang objektif, kontribusi setiap individu di kampus sulit dipertanggungjawabkan, termasuk kinerjanya sendiri sebagai dosen, yang ia biarkan terbuka untuk dinilai apa adanya.
Di sisi lain, ia menekankan konsep hidden curriculum, istilah yang ia pinjam dari salah satu koleganya. “Mahasiswa itu akan mencontoh apa yang dilakukan oleh dosennya,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa apa yang disampaikan dosen di ruang kelas tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang dilakukan dosen dalam praktik nyata. Karena itu, ia mendorong para dosen untuk tetap aktif berproyek dan mengabdi kepada masyarakat selama tridarma perguruan tinggi tidak terganggu, dengan syarat melibatkan mahasiswa secara langsung, agar mahasiswa lebih dahulu terpapar dunia kerja sebelum lulus.
Baca juga: Apa Itu IKU? Indikator Kinerja Utama Perguruan Tinggi: Pengertian, Tujuan & Panduannya
Kebiasaan hadir langsung ini, menurut Dr. Risdiyanto, berakar dari pengalamannya sendiri semasa bersekolah. Ia pernah gagal sebagai ketua panitia sebuah acara pada masa SMA karena kurang mendelegasikan tugas, sehingga seluruh pekerjaan ia kerjakan sendiri akibat rasa tanggung jawab yang besar. Pengalaman tersebut membentuk caranya memimpin saat ini, yaitu mendelegasikan urusan yang bersifat teknis kepada jajarannya, namun tetap mengusahakan kehadiran langsung untuk urusan yang menyangkut hubungan antarmanusia. Karena itu, selain membimbing skripsi dua kali dalam seminggu, ia juga dikenal turun langsung ke berbagai kegiatan kampus, mulai dari ospek, wisuda, hingga kegiatan mahasiswa lintas fakultas.
Kedekatan tersebut tidak mengurangi ketegasannya dalam menegakkan aturan. Pelanggaran serius ditindak melalui jalur struktural secara bertahap, mulai dari peringatan (SP1), peringatan kedua (SP2), hingga sanksi tertinggi (SP3), tanpa toleransi apabila telah mencapai tahap akhir tersebut.
Meski demikian, sisi humanisnya tetap terjaga. Ia pernah meminjamkan uang pribadi kepada mahasiswa yang jujur mengaku kesulitan membayar tepat waktu, alih-alih melonggarkan sistem dispensasi yang berlaku merata bagi seluruh mahasiswa. Menurutnya, pilihan tersebut lebih menjaga integritas sistem sekaligus menghargai kejujuran individu.
Janabadra dikenal telah mencetak alumni pada posisi strategis, termasuk seorang Hakim Agung Republik Indonesia. Namun bagi Dr. Risdiyanto, mencetak pemimpin besar bukan satu-satunya tolok ukur keberhasilan. Ia mengakui bahwa sebagai perguruan tinggi swasta yang tidak terlalu besar, raw material akademik mahasiswanya relatif terbatas dibandingkan kampus negeri, kecuali pada jenjang S2 atau melalui jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).
Karena itu, menurutnya, kampus ini harus memperkuat sisi di luar akademik. Mahasiswa didorong untuk aktif berorganisasi, sementara program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tetap diwajibkan agar mereka terbiasa berkomunikasi lintas program studi maupun dengan masyarakat luas. “Yang kita tumbuhkan itu tidak hanya akademik, tapi nilai-nilai lain, mereka berani bicara, berani mengungkapkan pendapat, dan berorganisasi,” ujarnya.
Sosok seperti Hakim Agung, menurutnya, sangat sedikit jumlahnya untuk ukuran kampus sekelas Janabadra, dan hal tersebut dinilainya wajar. Yang lebih ia utamakan adalah agar lulusannya menemukan kehidupan yang sesuai dengan potensi masing-masing.
“Kalau menjadi yang terbaik, biarkan waktu yang berjalan,” katanya, menekankan bahwa leadership yang ia maksud bukan semata soal menjadi pemimpin besar, melainkan kepemimpinan atas kehidupan diri sendiri, yaitu kebermaknaan bagi diri sendiri dan lingkungan sesuai kapasitas masing-masing individu.
Di tengah sekitar 190 perguruan tinggi yang beroperasi di Yogyakarta, sebagian besar di antaranya berstatus perguruan tinggi swasta, Dr. Risdiyanto meyakini bahwa yang membuat Janabadra tetap istimewa adalah gabungan dari dua hal, yaitu kualitas dosen dan biaya pendidikan tetap terjangkau. “Kalau fasilitas, jelas kami tidak unggul,” katanya. Meski demikian, sekitar 30 persen dosennya bergelar doktor, dan ia menekankan pentingnya menjaga rasio antara kualitas dosen dan biaya pendidikan tetap tinggi, sebab semakin tinggi biaya kuliah, semakin banyak pula calon mahasiswa dari keluarga terbatas yang tidak terjangkau, padahal niat awal pendirian kampus ini justru ditujukan bagi mereka. Karena itu, jalur KIP-K dan RPL tetap disediakan sebagai akses bagi mahasiswa dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Kampus ini juga tercatat tidak memiliki utang institusi.
Untuk memperluas akses pendidikan, UJB menyediakan sejumlah skema beasiswa selain KIP-K, yaitu Beasiswa Cerdas bagi mahasiswa berprestasi, Beasiswa Janabadra Peduli bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu, Beasiswa Tahfids bagi penghafal Al-Qur’an serta Beasiswa Sleman Pintar hasil kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Sleman bagi program studi yang bermitra dengan dunia usaha dan industri. Lulusan penerima Beasiswa Sleman Pintar diwajibkan bekerja pada mitra program studi terkait agar penyerapan kerja lebih maksimal, sekaligus menyasar pengentasan kemiskinan di Kabupaten Sleman dengan target minimal satu sarjana per kelurahan atau dusun, serta menerapkan skema pengabdian ke daerah asal selama satu hingga dua tahun setelah lulus sebelum bebas bekerja di mana saja.
Cara berpikirnya banyak dibentuk oleh dua rujukan utama, yaitu buku The 7 Habits of Highly Effective People karya Stephen Covey, dan kitab Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali. Inti dari keduanya, menurut Dr. Risdiyanto, adalah tidak menyalahkan keadaan, termasuk usia kampus yang telah puluhan tahun yang ia anggap sebagai bagian dari sejarah, qadarullah, namun juga tidak boleh berpasrah begitu saja. Yang terpenting, katanya, adalah bagaimana terus proaktif membangun kembali dan memperbaiki sistem. Filosofi tersebut yang melandasi kutipan yang pernah ia sampaikan dalam pidato wisuda resmi UJB. “Kalau pintu tak kunjung dibukakan, bangun saja pintumu sendiri.”
Ketika ditanya satu kalimat yang ingin ia sampaikan mengenai kampus ini kepada calon mahasiswa, bukan sebagai rektor, Dr. Risdiyanto menjawab dengan singkat. “Janabadra itu terjangkau, kekeluargaan, humanis. Tapi humanis bukan berarti aturan boleh dilanggar.”
Diposting Oleh:

Sabella SEVIMA
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform.
Jadwalkan Diskusi