Dr. Risdiyanto dan Janabadra: 68 Tahun Mencetak Pemimpin Bangsa, Kini Giliran Generasi Berikutnya
19 Aug 2026
19 Aug 2026

SEVIMA.COM- Ada kebetulan yang jarang ditemui dalam sejarah kepemimpinan perguruan tinggi swasta di Indonesia. Dr. Edhy Sutanta, S.T., M.Kom., Rektor Universitas AKPRIND Indonesia, lahir pada 1972, tahun yang sama dengan berdirinya kampus yang kini ia pimpin. Bagi Edhy, kesamaan itu bukan sekadar kebetulan, melainkan bagian dari garis hidup yang ia jalani dengan penuh kesadaran.
Edhy menuturkan, “Tuhan punya cara yang unik. Unik, dan itu menjadi indah karena kita bisa merangkai kisah kita sendiri. Kita tidak tahu dari mana asalnya, dan tidak tahu ke mana arahnya. Sebagai makhluk Tuhan, tentu saya hanya bisa menjalani saja garis Tuhan itu, biarkan jadi cerita yang unik dan indah.”
Edhy masuk sebagai mahasiswa AKPRIND pada angkatan 1990 dan menempuh masa studi selama enam tahun sebelum lulus Ujian Negara pada 1996. Setelah lulus, ia langsung bergabung sebagai dosen di almamaternya. Kini ia menjabat sebagai rektor ketujuh kampus tersebut. Posisinya unik karena ia disebut sebagai rektor terakhir Institut Sains dan Teknologi AKPRIND sekaligus rektor pertama Universitas AKPRIND Indonesia, sehingga menjembatani dua era kelembagaan dalam satu masa kepemimpinan.
Proses menuju kursi rektor sendiri diwarnai kisah unik terlaksana pada 2021, dalam situasi COVID-19. Dalam pemungutan suara di tingkat senat, Edhy memperoleh dukungan tertinggi, dibandingkan 6 kandidat lain, dan dilantik pada 17 Februari 2021.
“Saya bukan tipikal yang kerja kantoran, apalagi jadi pimpinan tertinggi. Ada beban moral di situ,” ujarnya, mengenang keraguan yang sempat ia rasakan sebelum akhirnya menerima amanah tersebut dan menjalankannya hingga saat ini.
Sebelum menjadi pimpinan kampus, Edhy dikenal sebagai penulis buku yang cukup produktif di bidang informatika, terutama tentang basis data. Karya pertamanya, yang berawal dari naskah skripsinya, diterbitkan oleh Penerbit Andi pada saat literatur tentang basis data di dalam negeri masih terbatas. Buku itu direvisi kembali pada 2004 dan 2010, dengan puncak produktivitasnya terjadi pada 2011 hingga 2012, saat ia menerbitkan hingga lima buku dalam setahun.
Ia juga pernah aktif di Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) AKPRIND sejak 2017, dan turut mendorong peningkatan klaster penelitian serta pengabdian kampus dari binaan pada 2017, lalu melompat dua tingkat menjadi “utama” pada 2019, dan dari kurang memuaskan pada 2017, melompat dua tingkat menjadi “sangat memuaskan” pada 2019. Momentum ini diikuti lahirnya guru besar pertama AKPRIND, yaitu Prof. Dr. Ir. Sudarsono, M.T., dari unit kerja LPPM, dan Prof. Dr. Anak Agung Putu Susastriawan, S.T., M.Tech., dari bidang teknik mesin yang menyusul pada 2023.
Edhy sendiri mengaku belum berhasil meraih gelar guru besar untuk dirinya sendiri dan masih perlu melengkapi sejumlah persyaratan artikel ilmiah. Proses menuju jenjang fungsional tertingginya juga sempat tertunda cukup lama karena aturan yang melarang pengajuan kenaikan jabatan fungsional bagi dosen yang sedang menempuh tugas belajar S3. “Saya harus memastikan bahwa apa yang saya usulkan itu benar. Saya masih perlu memantaskan diri. Saya tidak mau coba-coba. Jadi kalau belum yakin betul senjatanya, saya tidak mau maju,” ujarnya, seraya menegaskan target guru besar tersebut tetap ada dan sedang diusahakan, sejalan dengan prinsipnya untuk tetap aktif meneliti dan mengabdi meski kini menjabat sebagai rektor.
Momen paling menentukan dalam perjalanan kepemimpinan Edhy adalah saat mengawal proses perubahan bentuk dari institut menjadi universitas. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 217/E/O/2024, Institut Sains dan Teknologi AKPRIND resmi menjadi Universitas AKPRIND Indonesia pada 28 Februari 2024, disertai pembukaan program studi baru Manajemen Ritel (S1), menyusul dua program studi lain, Rekayasa Mesin (S2) dan Bisnis Digital (S1), yang izinnya telah lebih dahulu terbit pada masa awal kepemimpinannya. Menurut Edhy, kebutuhan menaungi program studi non-teknik seperti Bisnis Digital dalam rumpun ilmu yang sesuai menjadi salah satu alasan mengapa perubahan bentuk menjadi universitas dianggap perlu. Tujuan perubahan bentuk menjadi universitas, bertujuan untuk memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi berkualitas, dalam rangka berperan serta aktif dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Yang membuat proses ini istimewa adalah kecepatannya. Dokumen persyaratan, termasuk membuka dan merekrut lima dosen baru untuk prodi baru, disiapkan dan diproses hanya dalam waktu sekitar 3,5 bulan, jauh lebih singkat dibanding kampus lain yang menurut penuturan Edhy umumnya membutuhkan waktu persiapan satu tahun atau lebih untuk proses serupa. Semua itu pun dilakukan di tengah keterbatasan anggaran pascapandemi.
“Saya ingin menunjukkan bahwa kita bisa melakukan semua itu tanpa harus bergantung pada uang. Dari sisi rupiah, kita tidak ada anggaran khusus,” kenang Edhy.
Salah satu perdebatan paling panjang dalam proses ini justru soal identitas, yaitu bagaimana nama AKPRIND tetap dipertahankan meski bentuk kelembagaan berubah, mengingat aturan yang berlaku membatasi pemakaian sebuah nama tidak lebih dari dua kali, sementara nama tersebut sebelumnya sudah dipakai oleh Akademi Perindustrian dan Institut Sains dan Teknologi AKPRIND.
“Perdebatan paling panjang justru soal bagaimana agar nama AKPRIND ini bisa terus dipakai. Saya sudah diwanti-wanti sejak awal, namanya pokoknya harus tetap AKPRIND,” jelasnya.
Nama itu dinilai sebagai jangkar pengenalan publik yang krusial, mengingat banyak kampus lain kehilangan jejak nama lama setelah perubahan bentuk, yang berdampak pada penurunan penerimaan mahasiswa baru. Nama “Indonesia” dalam Universitas AKPRIND Indonesia pun dipilih untuk menegaskan jangkauan nasional kampus, meski identitasnya sebagai kampus asal Yogyakarta tetap dipertahankan.
Di luar transformasi kelembagaan, AKPRIND juga dikenal sebagai kampus yang berani mengambil langkah lebih dulu, termasuk dalam hal akreditasi. Menurut penuturan Edhy, kampus ini dua kali menjadi perguruan tinggi swasta pertama di Yogyakarta yang menggunakan instrumen akreditasi terbaru, klaim komparatif yang juga masih memerlukan verifikasi lebih lanjut.
“Saya mikirnya begini, cepat atau lambat, itu akan sampai pada saatnya juga. Pilihannya tinggal mau sekarang atau nanti. Karena ada peluang di situ, ya sudah, ayo jalan,” ujarnya, menjelaskan pikiran sederhana di balik keputusan itu.
Ke depan, AKPRIND menetapkan target untuk menjadi mitra industri nasional pada 2029, dengan setiap program studi dari total 14 program studi yang dimiliki kampus diwajibkan memiliki setidaknya dua mitra industri aktif.
“Setiap program studi harus punya minimal dua mitra industri. Kalau itu tercapai, target saya sudah terlampaui,” kata Edhy. Ia juga mendorong setiap prodi menemukan kekhasannya masing-masing. “Kenapa harus memilih Informatika AKPRIND, bukan Informatika yang lain? Pertanyaan itu akan selalu sampai ke satu titik, apa sih keunggulannya, apa keunikannya.”
Strategi ini ditopang oleh program magang di industri mitra. Saat ini AKPRIND sudah aktif menjalankan program magang di Batam, Depok, dan Karawang. Program magang diikuti dengan rekrutmen lulusan oleh industri mitra. Dimulai dari penyerapan satu mahasiswa magang per industri, bertambah menjadi dua orang pada angkatan berikutnya, hingga akhirnya seluruh peserta magang yang telah menyelesaikan skripsi ditampung untuk bekerja di industri tersebut, dengan memanfaatkan skema magang minimal enam bulan. Tanggung jawab menjalin kemitraan ini kini juga dibebankan langsung kepada masing-masing program studi, ditopang webinar series bersama alumni yang telah memasuki edisi ke-64.
Baca juga: Direktur Politeknik Sekayu Dorong Industri Tambah Kesempatan Magang untuk Mahasiswa
Sebagai bagian dari dorongan menuju keunggulan tanpa bergantung pada anggaran besar, AKPRIND mencatatkan dua program studi meraih status akreditasi unggul, yaitu program studi Statistika yang telah menyandang status unggul selama lima tahun dan program studi Teknik Lingkungan. Pencapaian ini juga diiringi bertambahnya jumlah guru besar di kampus tersebut.
“Ada titik-titik di mana ternyata ada capaian-capaian dalam situasi yang serba terbatas, tanpa harus mengeluarkan biaya lebih,” ujar Edhy.
Bagi Edhy, warisan kepemimpinannya bertumpu pada tiga hal, yaitu mutu pendidikan yang benar-benar substantif, layanan yang berorientasi pada kepentingan mahasiswa, dan pengelolaan kampus yang terukur secara profesional meski berstatus nonprofit.
“Yang ingin saya pastikan, apa yang kita jual ini benar-benar bermutu. Kalau kuliah, ya kuliah beneran,” tegasnya. “Tapi benar saja tidak cukup, bermutu saja juga tidak cukup. Kita ingin memberikan layanan yang terbaik.” Dari sisi tata kelola, Edhy mendorong penilaian kinerja pegawai yang lebih terukur dan berbasis capaian target, menggantikan sistem penilaian lama yang menurutnya cenderung kualitatif dan subjektif.
Soal keberlanjutan finansial kampus, Edhy menegaskan bahwa kampus adalah lembaga nonprofit, namun pengelolaannya harus profit. “Kalau nonprofit sepenuhnya, kita tidak bisa berkembang, tidak bisa menyediakan fasilitas yang baik untuk pembelajaran,” ujarnya. Ia mendorong pemberdayaan berbasis alumni yang berjumlah lebih dari 16.000 orang untuk membangun jejaring dengan industri, pemerintah, maupun sekolah sebagai mitra kegiatan tri dharma, baik oleh dosen maupun mahasisswa.
Kemitraan dengan alumni juga memungkinkan untuk menggali sumber pendanaan alternatif di luar SPP, misal melalui skema beasiswa dan program orang tua asuh bagi mahasiswa. Kampus juga tengah mengidentifikasi fasilitas dan sarana-prasarana yang dimiliki untuk diberdayakan sebagai sumber pendapatan baru, misalnya laboratorium pengelasan yang diarahkan untuk memproduksi barang yang benar-benar dapat dijual ke pasar.
Edhy juga menyoroti tantangan yang dihadapi perguruan tinggi swasta (PTS) di tengah ekspansi perguruan tinggi negeri (PTN) yang kini semakin gencar membuka cabang di kota-kota kecil dan memperpanjang periode penerimaan mahasiswa baru. Ia mengusulkan agar kebijakan pendidikan tinggi nasional membuat klaster yang lebih jelas antara PTN dan PTS agar keduanya tidak saling berkompetisi secara langsung. PTN dan PTS sama-sama mengemban tugas mulai, semestinya saling melengkapi (komplementer).
Persaingan tidak sehat akan berdampak buruk pada semua pihak. Terkait peran, perlu diferensiasi dan spesialisasi, misal PTN difokuskan sebagai riset utama (research university), pengembangan ilmu-ilmu dasar (basic sciences), bidang ilmu strategis nasional yang kurang populer secara komersial namun krusial, serta wadah utama pemerataan akses pendidikan bagi kelompok kurang mampu. Dengan demikian PTN fokus berkompetisi pada tingkat internasional, sedangkan PTS diberi ruang fleksibilitas untuk cepat merespons kebutuhan pasar kerja kontemporer, inovasi industri kreatif, program terapan/vokasi spesifik, dan pemenuhan akses pendidikan di tingkat daerah.
PTN dengan semua kelebihan sumber daya yang dimiliki, perlu juga diukur kontribusinya terhadap kemajuan kampus-kampus di sekitarnya. PTN yang aktif membimbing PTS lokal dalam hal akreditasi, publikasi, dan kurikulum mendapatkan insentif pendanaan tambahan dari pemerintah.
Ia juga mengusulkan pendekatan berbasis stimulus bagi program studi dengan peringkat akreditasi rendah, ketimbang membatasi akses mereka terhadap sumber pendanaan seperti yang berlaku saat ini. Misalnya dengan memberikan dukungan dana pengembangan yang disertai target peningkatan peringkat akreditasi dalam jangka waktu tertentu, dan dukungan itu dihentikan jika target tidak tercapai.
Ia turut menawarkan cara pandang alternatif dalam menilai mutu perguruan tinggi. Alih-alih menuntut input mahasiswa yang selalu unggul secara akademik sejak awal, ia menilai peningkatan signifikan dari input ke output, dari mahasiswa yang mungkin tidak menonjol secara akademik saat masuk namun menjadi kompeten dan siap kerja saat lulus, sebagai capaian yang lebih bermakna dan semestinya turut diperhitungkan dalam penilaian mutu kampus.
Diposting Oleh:

Sabella SEVIMA
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform.
Jadwalkan Diskusi