Dr. Sely, Dosen Teknik Sipil ITNY yang Kembangkan Machine Learning untuk Mitigasi Bencana Gempa
20 Aug 2026
20 Aug 2026

SEVIMA.COM- Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Widya Wiwaha Yogyakarta, kampus swasta yang berdiri sejak 1982, memasuki babak baru kepemimpinan sejak Januari 2024 di bawah Dr. Nur Widiastuti, S.E., M.Si., yang sebelumnya dikenal sebagai dosen dan Direktur Operasional Program Magister Manajemen di kampus yang sama.
Di tengah kesibukannya memimpin, Nur Widiastuti juga tetap aktif menjalankan tugas sebagai akademisi, termasuk penelitian, publikasi, dan partisipasi dalam forum ilmiah internasional, sebuah konsistensi yang menurutnya penting untuk menjaga kredibilitas kepemimpinannya di mata sivitas akademika.
Kepemimpinan baru ini hadir di tengah tantangan berat. Pada tahun pertama menjabat, tiga program studi STIE Widya Wiwaha harus mengajukan reakreditasi secara bersamaan, termasuk program magister yang sempat mengalami penurunan status dan menjadi prioritas perbaikan. Tim juga harus mengelola beberapa kerangka penjaminan mutu sekaligus, seperti BAN-PT, LAMEMBA, SPMI, hingga Indikator Kinerja Utama atau IKU, yang masing-masing memiliki fokus pelaporan berbeda.
Soliditas tim internal tergambar ketika seluruh jajaran berhasil menuntaskan ratusan poin indikator kinerja hanya dalam satu hari kerja, sebuah proses yang menurut Nur Widiastuti juga dibangun lewat suasana kerja yang cair dan kolaboratif antar lini, bukan sekadar instruksi dari pucuk pimpinan. Semangat kerja tim ini bahkan tercermin dalam jargon internal yang menggambarkan ritme kerja mereka.
“Gas Pol Rem Blong, tapi bensinnya harus penuh,” ujarnya menirukan semangat timnya, yakni bergerak cepat namun tetap terkendali, dengan energi yang selalu terjaga. Kerja keras itu membuahkan hasil. Dalam dua hingga tiga tahun terakhir, STIE Widya Wiwaha mencatat peningkatan perolehan hibah penelitian dan pengabdian, sekaligus mulai merasakan langkah yang menurutnya tidak lagi tersengal-sengal seperti tahun-tahun sebelumnya.
Momentum ini berlanjut pada 2026, saat STIE Widya Wiwaha menjadi salah satu dari sejumlah PTS di Yogyakarta yang diundang dan diarahkan untuk mengajukan status akreditasi institusi menuju predikat unggul, yakni tingkatan yang saat ini baru dicapai sepuluh persen PTS dari total sekitar seratus PTS di provinsi tersebut. Dalam prosesnya, STIE Widya Wiwaha turut menjadi tuan rumah pertemuan koordinasi antar PTS yang tengah bersama-sama menuju status tersebut.
Nama Widya Wiwaha, yang secara harfiah bermakna ilmu yang dimuliakan, mencerminkan semangat awal para pendiri kampus pada 1982 untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Lebih dari empat dekade kemudian, semangat itu diterjemahkan kepemimpinan baru menjadi tanggung jawab menjaga keberlangsungan kampus sebagai rumah bagi ribuan alumni, sekaligus terus mengangkat derajat sivitas akademika di tengah lanskap persaingan pendidikan tinggi Yogyakarta yang semakin ketat. Nur Widiastuti menggambarkan posisi kampusnya sebagai pemain ketiga, berhadapan dengan perguruan tinggi negeri di satu sisi dan universitas swasta besar di sisi lain.
“Kami ini pemain ketiga, jadi harus bersaing dengan begitu banyak PTS maupun PTN yang ada di Yogyakarta,” ujarnya, sehingga strategi bertahan dan bertumbuh harus dirumuskan secara mandiri.
Persaingan itu terasa pula di tingkat rumpun ilmu. Program studi Manajemen di Yogyakarta sangat banyak jumlahnya, hingga perguruan tinggi swasta di kota ini membentuk aliansi fakultas ekonomi tersendiri karena tidak dapat bergabung dalam aliansi serupa milik kampus kampus negeri. Menurut Nur Widiastuti, sebagian PTS berskala kecil menengah kerap kesulitan mendapatkan ruang untuk menyuarakan kendala di lapangan dibandingkan kampus kampus besar, sementara regulasi pemerintah yang terus berubah menuntut adaptasi berkelanjutan.
Menariknya, jajaran pimpinan STIE Widya Wiwaha saat ini mayoritas diisi oleh perempuan, sementara staf di level pelaksana justru didominasi laki-laki. Komposisi ini menurut Ketua STIE Widya Wiwaha ini turut memberi warna kepemimpinan tersendiri, bahkan tecermin hingga ke identitas visual kampus yang didominasi corak ungu keunguan. Dalam membentuk tim inti, ia juga sengaja memadukan sosok senior yang telah berpengalaman memimpin dengan talenta muda yang lebih cakap beradaptasi dengan teknologi, sebuah kombinasi yang menurutnya menjadi kunci kecepatan gerak organisasi belakangan ini.
Salah satu diferensiasi utama STIE Widya Wiwaha adalah positioning sebagai kampus pencetak wirausaha muda, mengingat ketatnya persaingan program studi akuntansi dan manajemen di Yogyakarta. Sejak 2024, mahasiswa yang menunjukkan minat wirausaha mulai dipetakan dan dibimbing sedini mungkin. Mulai semester 3, mereka sudah mendapat kesempatan magang singkat di industri selama sekitar satu bulan sekadar untuk mencicipi dunia kerja, sebelum kemudian di semester 5 dibuka opsi magang penuh enam bulan yang direkognisi penuh sebagai nilai mata kuliah, sehingga tidak memperpanjang masa studi mereka. Sejumlah mahasiswa binaan program ini disebut sudah merintis usaha sendiri sebelum lulus, mulai dari bisnis minuman hingga jasa rias wajah, dengan target aspiratif kampus agar sekitar satu dari sepuluh lulusan memiliki usaha sendiri saat diwisuda.
Pendekatan serupa diterapkan pada mahasiswa yang berminat riset. Tahun ini, misalnya, kampus memenangkan hibah riset bertema ketahanan pangan di wilayah pesisir yang dikaitkan dengan pengelolaan sampah, bekerja sama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah provinsi. Sejumlah mahasiswa terpilih dilibatkan sebagai enumerator dan diterjunkan langsung ke beberapa pantai di kawasan Gunung Kidul dan sekitarnya selama beberapa hari untuk mengumpulkan data dari warga dan wisatawan setempat. Selain honor dan sertifikat kompetensi, pengalaman lapangan ini menurut Nur Widiastuti mengasah kemampuan komunikasi dan mental kerja mahasiswa jauh lebih awal dibanding proses penyusunan skripsi.
Dari sisi kelulusan, mahasiswa dapat memilih jalur skripsi maupun jalur alternatif berupa mata kuliah pengganti skripsi dengan laporan magang. Meski begitu, bimbingan skripsi tetap dijadwalkan serentak dengan tenggat waktu seminar proposal yang jelas, layaknya jadwal UTS atau UAS, sehingga masa studi mahasiswa tidak molor sekaligus menjaga rasio kelulusan kampus. Menurutnya, mayoritas mahasiswa tetap memilih jalur skripsi dibanding jalur alternatif, karena karya tulis akhir dianggap merepresentasikan identitas dan arah minat keilmuan mahasiswa secara utuh, sesuatu yang kerap ditanyakan pula saat mereka melamar pekerjaan.
Kampus ini juga memiliki program asrama dengan pembinaan karakter semi pesantren berbasis dwibahasa, yang pada mulanya dikhususkan bagi mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah. Program ini mencakup pendidikan agama, setoran hafalan, serta pembinaan bahasa Inggris dan bahasa Arab, meskipun STIE Widya Wiwaha sendiri bukan institusi berbasis keagamaan. Menjelang akhir tahun akademik, sebelum mahasiswa penghuni asrama pulang untuk libur, digelar lomba qira’ati, pidato bahasa Inggris, dan pidato bahasa Arab, dengan para pemenang tampil dalam pentas apresiasi yang dipandu MC dalam tiga bahasa sekaligus.
Sebagai jawaban atas kebutuhan pasar yang berbeda, STIE Widya Wiwaha turut menyediakan jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau atau RPL, dengan durasi tempuh sekitar 18 bulan, serta kelas karyawan bagi masyarakat yang sudah bekerja namun ingin melanjutkan pendidikan tinggi. Menurut Nur Widiastuti, banyak pekerja sebenarnya berminat melanjutkan kuliah namun mengira prosesnya harus ditempuh penuh seperti mahasiswa reguler, sehingga sosialisasi jalur ini masih menjadi pekerjaan rumah tersendiri.
Tantangan serupa juga dihadapi program KIP Kuliah, yang menurutnya kerap terganjal stigma di masyarakat meski merupakan fasilitas negara yang semestinya dimanfaatkan oleh yang berhak. Topik strategi pengembangan RPL ini juga sempat menjadi bahan diskusi bersama tim SEVIMA sebagai bagian dari kolaborasi kemitraan yang berjalan.
Baca juga: 5 Titik Masalah Penerapan Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) di Perguruan Tinggi
Berlatar belakang ilmu ekonomi, Nur Widiastuti memandang penyelenggaraan pendidikan tinggi sebagai proses produksi yang terikat pada tiga dimensi sekaligus, yaitu mutu, biaya, dan waktu. Alih alih meniru pendekatan minim intervensi seperti di perguruan tinggi besar, STIE Widya Wiwaha memilih memberi treatment tambahan pada prosesnya.
“Kami tidak mau istilahnya masuk sampah keluar sampah,” ujarnya, dengan mengenali karakter dan kebutuhan setiap mahasiswa sejak awal, lalu mendampingi lebih intensif, demi mengantarkan mahasiswa mencapai standar kelulusan yang telah ditetapkan meski dengan sumber daya yang tidak sebesar kampus kampus besar.
Dalam menjalankan kepemimpinannya, Nur Widiastuti menekankan pendekatan humanis dalam mengelola sumber daya manusia, yang menurutnya menjadi tantangan terbesar bagi pimpinan kampus, lebih besar dari isu penerimaan mahasiswa baru maupun akreditasi.
“Sebagus apapun sistem yang digunakan, kalau SDM-nya tidak satu arah, akan sulit,” ujarnya. Di awal masa jabatannya, ia mengaku sempat menerapkan gaya kepemimpinan yang cenderung langsung dan tegas dalam menegur, namun menyadari pendekatan itu justru membuat sebagian staf merasa takut alih alih terdorong berubah.
Pendekatan itu kemudian bergeser sehingga persoalan disiplin atau kinerja lebih dulu diselesaikan di level bawah, dan ia baru turun tangan langsung sebagai opsi terakhir, lewat dialog personal untuk memahami akar masalah alih alih teguran sepihak. Ia juga membiasakan diri berkeliling area kampus setiap pagi sebelum jam kerja dimulai, bukan untuk mengawasi secara kaku, tetapi untuk memahami kondisi lapangan secara langsung, dari fasilitas yang perlu diperbaiki hingga suasana kerja tim.
“Saya ingin dikenang bahwa saya memimpin itu dengan hati,” ujar Nur Widiastuti saat menceritakan filosofi kepemimpinannya. Memasuki tahun ketiga kepemimpinannya, ia mulai mengalihkan sebagian besar urusan internal kepada jajaran wakil ketua, sementara dirinya sendiri lebih banyak berperan di ranah eksternal, termasuk mempersiapkan rencana kunjungan balasan ke sejumlah universitas di Malaysia yang sebelumnya telah berkunjung ke STIE Widya Wiwaha, sebagai bagian dari perluasan jejaring kerja sama internasional kampus.
Di tengah berbagai strategi dan diferensiasi produk, Nur Widiastuti menegaskan satu prinsip yang tidak boleh ditawar, yaitu menjaga mutu akademik. “Kita tetap menjaga mutu, tidak boleh goyah apapun godaannya,” ujarnya.
Untuk kelas daring, misalnya, jumlah pertemuan tetap dipantau ketat oleh unit penjaminan mutu internal agar memenuhi standar minimal yang ditetapkan (idealnya 14 kali pertemuan), dengan mekanisme teguran dan penambahan pertemuan bila jumlahnya kurang, sebuah aturan yang menurutnya berlaku tanpa kecuali, termasuk bagi dirinya sendiri sebagai pengajar.
Dengan strategi ini, STIE Widya Wiwaha menargetkan langkah jangka panjang untuk terus naik kelas di tengah persaingan lebih dari seratus PTS di Yogyakarta, seiring semakin matangnya konsolidasi internal kampus di bawah kepemimpinan barunya.
Diposting Oleh:

Sabella SEVIMA
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform.
Jadwalkan Diskusi