Akademik & Mutu | Perguruan Tinggi
Implementasi OBE di 33 Prodi IAIN Parepare: Dari Dokumen Kurikulum ke Pembelajaran yang Diukur
19 Oct 2026
Perguruan Tinggi | Strategi & Tata Kelola
27 Oct 2026
SEVIMA.COM – Di kalangan perguruan tinggi swasta, tren penurunan mahasiswa baru lima tahun berturut-turut nyaris selalu berujung pada satu arah: kampus meredup, lalu perlahan ditinggalkan. Universitas Peradaban di Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, sempat berada di jalur itu. Tapi tahun ini, arahnya berbalik. Jumlah mahasiswa barunya melonjak 39,7 persen dibanding tahun sebelumnya.
Di balik lonjakan itu ada Assoc. Prof. Dr. Sutarmin, S.Si., M.M. Ia dilantik Yayasan Ta’allumul Huda Bumiayu sebagai rektor pada 28 Februari 2026 untuk masa jabatan 2026–2030. Kepada SEVIMA, pria kelahiran Boyolali, 21 September 1974, itu menuturkan “resep” yang ia jalankan sejak hari-hari pertama menjabat.
Universitas Peradaban bukan kampus tua. Berdiri pada 2014 dari penggabungan STIE dan STKIP Islam Bumiayu, kampus di Jalan Raya Pagojengan, Paguyangan, Brebes, ini tercatat sebagai universitas kedua di Kabupaten Brebes, dengan empat fakultas dan 14 program studi. Rektor pertamanya adalah Prof. Dr. H. Yahya A. Muhaimin, mantan Menteri Pendidikan Nasional RI.
Saat mulai menjabat, Prof. Sutarmin mencatat ada sekitar sembilan sampai sepuluh persoalan yang menunggu dibenahi. Ia memilih tidak mengerjakan semuanya sekaligus. “Saya fokus pada tiga bidang yang urgensinya tinggi,” ujarnya.
Yang pertama, jumlah mahasiswa. “Karena kita swasta, mau tidak mau sumber pendapatan itu dari mahasiswa. Sementara trennya beberapa tahun turun terus, padahal harusnya naik. Jadi pertama kita harus punya visi dulu, bahwa yang perlu ditangani adalah jumlah mahasiswa,” ungkapnya.
Tim penerimaan mahasiswa baru diperkuat. SDM yang perannya kurang optimal diperbantukan ke sana. Seluruh elemen kampus, dari dosen hingga mahasiswa, digerakkan dengan satu visi bersama yang dikawal sampai lapisan paling bawah.
“Pengetahuan dan observasi itu seluas-luasnya, analisis sedalam-dalamnya, dan pekerjaan setuntas-tuntasnya. Karena itu yang meyakinkan bahwa apa yang kita putuskan menjadi kebijakan yang benar,” kata alumnus Kimia Universitas Gadjah Mada itu.
Yang kedua, digitalisasi. Jalan awal yang umum ditempuh kampus, yakni menambah tenaga IT internal, ternyata tidak membuahkan hasil.
“Dampaknya sangat tidak memuaskan. Apalagi saya sendiri tidak begitu paham dengan apa yang dikerjakan,” kenangnya.
Universitas Peradaban akhirnya menggandeng mitra strategis agar kampus tidak lagi memikirkan pengembangan sistem sendiri. Harapannya, seluruh sistem terhubung dalam satu sumber data dan pimpinan bisa mengakses apa saja dari mana saja. Kemitraan itu juga mengawal Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) agar benar-benar berjalan seiring penerapan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE).
“Simpel. Kalau saya, basisnya kinerja. Jadi segala sesuatunya harus terasa, harus berdampak,” tegasnya.
Baca juga: STIE Indonesia Jakarta Pangkas Alur Administrasi lewat Digitalisasi
Yang ketiga, kemandirian keuangan. Caranya bukan mencari pemasukan baru, melainkan menutup kebocoran yang selama ini dibiarkan. Contohnya, tagihan listrik asrama yang nilainya hampir menyamai tagihan kampus langsung ia periksa. “Ini yang aneh, tidak masuk akal. Akhirnya saya bereskan setelah tahu ternyata ada kebocoran” ujarnya.
Tak berhenti sampai di situ, kelas-kelas kecil mata kuliah umum pun digabung. “Kalau lima kelas masing-masing lima orang, jadi 25 orang satu kelas. Dari lima kelas jadi satu kelas, efisien kan,” tutur doktor ilmu manajemen lulusan Universitas Jenderal Soedirman itu.
Ketajaman membaca angka itu tidak datang tiba-tiba. Sebelum masuk dunia kampus, Prof. Sutarmin malang melintang di industri: menangani quality control, produksi, hingga sisi komersial perusahaan, bekerja dengan Systems, Applications, and Products in Data Processing (SAP), dan menjadi auditor halal. Pria yang memiliki sejumlah lini usaha ini, dari pabrikasi, rumah makan, pertokoan, hingga aplikasi, bahkan turun langsung mengawal pembangunan gedung kampus. “Saya membangun bukan karena mencari kekayaan, karena saya sudah cukup mampu secara finansial,” ucapnya.
Gaya memutuskannya pun khas eksekutif. Sebelum mengambil kebijakan, setiap unit diundang memaparkan tiga hal: apa yang sudah dilakukan, apa yang sedang berjalan, dan apa langkah berikutnya. Dari situ ia membaca peta persoalan, termasuk mental block orang-orang yang terkungkung cara lama. Menariknya, pembenahan SDM dilakukan tanpa main ganti orang.
“Kalau ada yang bisa keluar, tidak saya ganti,” kata mantan Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Peradaban itu. “Saya memilih mempertahankan dan memaksimalkan potensi yang ada.”
Berdasarkan penuturan Sutarmin, pembenahan itu membuahkan hasil nyata:
Angka terakhir menyimpan insight penting: keterjangkauan biaya ternyata salah satu penentu utama seseorang mau berkuliah. Dengan keuangan yang sehat, beasiswa justru menjadi mesin pertumbuhan, bukan beban. Ke depan, kampus ini memasang target pertumbuhan mahasiswa 25 persen per tahun.
“Kita tidak fokus pada kompetitor, tetapi pada mahasiswa sebagai pusat layanan,” kata Prof. Sutarmin saat melantik empat wakil rektornya, April lalu.
Baca juga: Pendaftaran 80% Calon Mahasiswa Baru Tidak Tuntas: Di Mana Letak Kesalahannya?
“Saya bukan orang terkenal. Tapi saya memang punya daya lenting,” ujar Prof. Sutarmin merendah. Dari kisahnya, ada enam langkah yang biasanya bisa diadaptasi kampus mana pun:
| Langkah | Penanggung jawab di kampus |
| Perumusan visi dan keputusan strategis | Rektor |
| Penguatan penerimaan mahasiswa baru | Tim PMB, didukung realokasi SDM |
| Digitalisasi dan integrasi data | Tim IT bersama mitra strategis |
| Penjaminan mutu (SPMI, OBE) | LPM/LPMI dan Wakil Rektor Akademik |
| Audit efisiensi dan keuangan | Wakil Rektor II / Biro Keuangan |
| Kultur kerja dan produktivitas | Seluruh pimpinan unit |
Pelajaran penting dari Universitas Peradaban bukanlah membenahi semua persoalan sekaligus, melainkan memilih prioritas yang paling mendesak dan menuntaskannya.
Bagi pimpinan kampus yang menghadapi tantangan serupa, mulailah dari rapat evaluasi bersama tim. Tinjau data penerimaan mahasiswa baru, kondisi keuangan, dan kesiapan digitalisasi. Pilih satu persoalan yang paling mendesak untuk ditangani terlebih dahulu, tetapkan penanggung jawab, serta target terukur yang akan dievaluasi dalam 30 hari.
Dalam perjalanan digitalisasinya, Universitas Peradaban juga menggandeng SEVIMA sebagai mitra strategis untuk sistem akademik yang terintegrasi dalam satu sumber data. Pimpinan kampus yang ingin menempuh langkah serupa dapat berdiskusi dengan tim SEVIMA.
Diposting Oleh:
Tito SEVIMA
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform.
Jadwalkan Diskusi