Mengenal Marketing Funnel & Flywheel untuk Tingkatkan Penerimaan Mahasiswa Baru di Kampus
17 Feb 2025
2 Hari Lagi - Sebelum Event PELATIHAN – KOPDAR CIKARANG : Kupas Tuntas Aturan Automasi Akreditasi seputar Batas Penurunan Mahasiswa Baru, Rasio Dosen Mahasiswa, dan Strategi Promosi PMB Dimulai.
Penulis : Slamet Wahyudi S.E.,M.Interbus
Dosen Kampus : Politeknik Ubaya
Teknologi Digital juga merambah cepat dan masuk ke dalam dunia Pendidikan Tinggi. Semua seolah bisa didigitalkan. Mulai dari pendaftaran mahasiswa baru secara digital, kuliah daring, ujian daring, yudisium online hingga wisuda pun memanfaatkan kecanggihan teknologi. Saat Pandemi terjadi, sebenarnya sedang terjadi pula yang namanya Euforia Teknologi Digital di Dunia Pendidikan yang sama-sama kita lakukan dan rasakan.
Awalnya terasa sangat berat untuk beralih ke Kuliah secara online, namun mau tidak mau, suka tidak suka akhirnya, semua Civitas Akademika dari berbagai lintas generasi bersedia juga untuk memanfaatkan teknologi digital, baik LMS yang dikembangkan oleh Unit Sistem Informasi Internal kampus sendiri, maupun yang membeli system dari Pihak Eksternal, hingga system yang tersedia gratis di Internet seperti Google Meet dan aplikasi conference lainnya. Kita semua tahu dampaknya positif karena memungkinkan proses belajar dan mengajar tetap berjalan selama Pandemi berlangsung.
Apakah ada dampak negatifnya terhadap peran Civitas Akademik, tentu saja ada, bahkan bisa saja berdampak bergesernya atau bahkan hilangnya peran-peran mereka, karena digantikan oleh teknologi digital yang kita ciptakan sendiri. Dibawah ini beberapa hal yang mungkin kita sudah ketahui dan alami bersama.
Teknologi belum sepenuhnya bisa menggantikan sentuhan manusiawi dan membawa beberapa imbas yang negatif. Sebagai civitas akademika, kita tentu setuju bahwa mahasiswa harus memiliki kemampuan hard skills yang mumpuni sesuai jurusannya masing-masing. Namun, bagaimana dengan softskills mereka, apakah perkulihan daring bisa menjamin mahasiswa benar-benar jujur mengikuti perkuliahan. Hampir semua dosen pernah mengalami perkuliahan online dimana semua hadir secara online, namun tidak satupun atau hanya beberapa yang menampakkan video mereka dengan berbagai macam alasan, bisa paket wifi, paket data, sinyal dan lainnya sehingga mereka menutup video. Hasilnya Dosen tak ubahnya seperti penyiar Radio yang tidak tahu sebenarnya, apakah ada yang mendengarkan dia atau tidak.
Di kampus kami, ada tiga jenis softskills yang kami ingin semua mahasiswa bisa miliki dan kembangkan dengan baik selama mereka berkuliah. Tiga softskills ini adalah adaptasi, disiplin dan integritas yang kami singkat dengan ADI. Indikator dari setiap softskills ini mempengaruhi 18% pada nilai akhir mahasiswa jadi masing-masing softskills berbobot 6%. Saat kuliah Offline, kita bisa menilai jika sering terlambat masuk kuliah, maka disiplinnya rendah. Jika sering ketahuan berbohong dan membuat alasan mengada-ada saat tidak mengumpulkan tugas misalnya, maka nilai Integritasnya bisa kita kurangi. Namun saat online banyak sekali toleransi yang kita berikan, sehingga kita tidak lagi bisa menyebut mahasiswa berbohong jika tidak mengumpulkan tugas, jika alasan mereka paketannya habis, wifi trouble dan sebagainya.
Mahasiswa yang selalu terkoneksi dengan gadgetnya, akhirnya selalu mencari jawaban instan, menurunlah kreatifitas, kerjasama, kemampuan berkomunikasi dengan baik, menurunnya tingkat kejujuran terutama saat ujian. Kita tentu sudah tahu, bahwa kejujuran adalah sebuah fondasi dan nilai dasar yang penting dimiliki, agar kelak ketika mereka terjun di dunia kerja, tidak lagi menyumbang angka korupsi dan kecurangan lainnya.
Dosen yang merupakan generasi diatas Millenial, kelahiran 1980 keatas, tentunya akan mengalami kesulitan dalam mengejar cepatnya perkembangan teknologi. Mereka terbiasa dengan paperbased, kegiatan tatap muka dan komunikasi langsung tanpa perantara teknologi. Kita tidak bisa mengabaikan begitu saja, kesulitan yang mereka alami. Teknologi yang dipakai akhirnya malah menyulitkan bagi mereka bukan memudahkan. Belum lagi, konsultasi via WA dan media yang lain seolah-olah terbuka selama 24 jam, mahasiswa bisa kontak dosen saat sudah saatnya mereka beristirahat, dimana bagi mahasiswa itu hal yang wajar, karena mereka bisa tidur sampai larut malam.
Namun, perlahan mau tidak mau yang tidak memanfaatkan teknologi akan ditinggal. Karena para dosen sadar akan hal itu, mereka pun belajar. Banyak dosen yang juga membuat video pembelajaran agar memudahkan mahasiswa belajar, namun itupun membutuhkan ekstra usaha ditambah dengan tugas Tridarma dan penunjang lainnya.
Apakah nanti dosen akan digantikan oleh teknologi digital, kita bisa memprediksi hal tersebut bisa saja terjadi. Mahasiswa merasa tidak terlalu membutuhkan kehadiran dosen, mereka bisa belajar mandiri, melalui video tutorial, melalui blog pendidikan, melalui media sosial dan lainnya.
Kampus adalah tempat bekerja yang cukup menjadi favorit bagi masyakat kita. Jumlah Tendik bisa lebih banyak daripada jumlah dosen yang mengajar disebuah kampus. Di hampir semua kampus jumlah tendik secara keselurahan tetap banyak. Sekarang dengan adanya teknologi, beberapa tugas merekapun mulai digantikan oleh teknologi yang kita kembangkan. Teknologi memang membantu dan memudahkan, namun bagaiamana dengan mereka yang bisa terancam kehilangan pekerjaan mereka? Mereka tentu masih ingin bekerja, namun jika semua hal sudah di digitalkan, sepertinya kita akan terus berinvestasi ke teknologi.
Saya termasuk yang sangat antusias bahwa teknologi bisa membawa perubahan yang bagus bagi dunia pendidikan bukan sebaliknya. Saya optimis, meskipun teknologi berkembang pesat, masih diperlukan sentuhan manusia agar kita memiliki generasi yang unggul, pandai memanfaatkan teknologi, namun tetap memiliki jiwa humanis yang besar. Dalam buku Sistem Informasi Managemen karya Mcleod (2001) Komputer akan berkembang semakin pesat menjadi andalan di hampir semua lini unit bisnis dalam perusahaan termasuk kampus, bidang Pemasaran, Keuangan, Produksi, SDM, hingga Akuntansinya dan itu jelas mengkhawatirkan bagi para karyawan. Mereka gelisah karena bisa saja mereka tidak bisa bekerja lagi, atau terjadi pengurangan karyawan secara besar-besaran.
Itu beberapa dampak negatif dari digitalisasi bagi citivitas akademik yang mungkin belum semuanya tertulis. Lalu bagaimana agar itu bisa kita mitigasi. Berikut beberapa usulan yang bisa dilakukan agar dampak-dampak tersebut diatas bisa kita antisipasi dan tidak merugikan namun malah bisa membawa pengaruh yang positif bagi civitas akademik.
Investasi dalam teknologi digital perlu direncanakan dengan baik dalam unit system informasi yang dimiliki, perubahan besar-besaran tentu akan menyulitkan dan berdampak sosial. Sebaiknya lakukanlah semua program yang telah direncanakan tersebut secara bertahap dan bisa diukur menggunakan indicator keberhasilan yang tercatat dan tersistem dengan baik. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah post digitalisasi itu juga dikontrol, perlu ada pengendalian sehingga teknologi akan bisa membantu namun tidak selalu menyingkirkan SDM yang ada sebelumnya, namun justru bisa menambah value dari SDM yang dimiliki.
Pelatihan, sertifikasi dan kegiatan pengembangan diri karyawan perlu dilakukan oleh lembaga. Karyawan perlu disiapkan agar mampu update dan upgrade ketrampilan mereka terutama terkait digitalisasi berbagai sektor di dalam kampus. Karyawan perlu dibiasakan menggunakan teknologi, sehingga peran mereka tetap terasa. Lambat laun, akan mulai bisa menyesuaikan diri, tanpa terlalu khawatir, mereka akan kehilangan peran di dalam kampus dimana mereka bekerja.
Sekarang kita memiliki opsi dalam menyelenggarakan kegiatan akademik dan Tridarma yaitu menggabungkan sistem kegiatan tersebut, tidak semuanya harus offline karena kita sudah memiliki teknologi, sebaliknya tidak semuanya harus di online kan, karena kita tetap perlu berinteraksi secara sosial, karena kita telah membangun perkantoran yang memadai, karena kita perlu bertatap muka secara langsung. Kegiatan hybrid tentunya bisa semakin meningkatkan produktivitas, kita cenderung tidak menyukai rutinitas, kita selalu ingin mencari keseimbangan dalam setiap hal.
Tetap melibatkan civitas akademika adalah hal yang penting, mungkin dengan cara berbeda tidak seperti sebelumnya. Beberapa peran pasti akan beralih ke teknologi, namun demi menjaga kualitas hidup karyawan. Perlu ada peran baru untuk mereka yang tugasnya digantikan dengan teknologi, masih ada beberapa hal yang mestinya bisa dilakukan oleh mereka dan bisa membuat motivasi mereka tetap stabil hingga pensiun kelak.
Diposting Oleh:
Fadhol SEVIMA
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami