Dunia Akademik | Dunia Kampus | Seputar Pendidikan

Prof M Nuh : Hadapi COVID-19, Pendidikan Tinggi Perlu Mitigasi Besar-Besaran

SEVIMA.COM – Sudah hampir setahun lebih, dampak pandemi Covid-19 sangat terasa di kalangan pendidikan tinggi Indonesia. Untuk itu, pendidikan tinggi harus melakukan mitigasi akademik besar-besaran dengan memanfaatkan teknologi sebagai enabler (pembuka akses) dan disruptor (perombakan), tidak hanya sebagai alat.

Hal ini diungkapkan Prof. Mohammad Nuh, Ketua Dewan Pers Indonesia sekaligus Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II dalam Webinar SEVIMA pada hari Selasa, (24/08). Bahwa pendidikan tinggi harus melakukan mitigasi akademik besar-besaran dengan memanfaatkan teknologi.

“Diibaratkan, seperti kita melihat rame-rame di jalan. Orang pada umumnya hanya akan mengintip sejenak lalu bilang ‘oh ada kecelakaan’ setelah itu lewat lagi. Jangan sampai momentum COVID-19 kita sikapi seperti ini. Ketika melihat COVID-19, kita tidak hanya tuntaskan, tapi juga jadikan momentum untuk perubahan untuk belajar dan mengatasi berbagai permasalahan di masa depan,” ungkap Nuh didampingi oleh Prof. Suprapto (Ketua LLDIKTI VII), Sugianto Halim MMT (CEO SEVIMA), serta Ratusan pimpinan dan civitas akademika perguruan tinggi se-Indonesia yang tergabung dalam Komunitas SEVIMA.

Strategi Mitigasi ala Prof. Nuh

Perguruan tinggi sudah harus menaruh fokus lebih besar pada aspek kualitas akademik dan keberlangsungan organisasi. Apa yang bisa dilakukan PT? Berikut beberapa di antaranya. 

1. Manfaatkan Demographic Dividend dan Digital Dividend

Menurut sosok yang pernah memegang tanggung jawab di sektor informasi dan pendidikan ini, Indonesia mempunyai dua modal utama. Pertama, modal demographic dividend yakni keuntungan memiliki usia produktif sebesar 64% dari total populasi. 

“Rasio usia produktif di atas 64 persen sudah lebih dari cukup bagi Indonesia untuk melesat menjadi negara maju. Ini adalah rasio usia produktif terbaik Indonesia yang mulai kita nikmati nanti tahun 2045,” Ungkapannya

Kedua, modal digital dividend yakni dengan ini pendidikan bisa pemanfaatan teknologi informasi untuk mengatasi sejumlah permasalahan pendidikan di tanah air.

“Kedua modal tersebut sangat penting sebagai bekal menuju Indonesia emas pada 25 tahun mendatang. Kedua modal yang bisa berjalan bersama tersebut bisa membawa Indonesia menuju transformasi dari intangible asset, tangible, real asset, dan akan membentuk real power pada sebuah negara,” jelas Pak Nuh. 

2. Harus Memanfaatkan Teknologi Digital

Melihat kondisi selama pandemi ini, technology digital menjadi sebuah keharusan yang digunakan dalam dunia pendidikan. Digital technology sudah menjadi sebuah lifestyle yang melekat pada dunia pendidikan Indonesia. Inilah saatnya kita harus mengubah teknologi ini sebagai penyokong utama untuk memajukan pendidikan. 

“Transformasi dunia pendidikan akan melesat hebat dengan memanfaatkan dan mempersiapkan generic purpose of technology (tujuan dasar teknologi) untuk melaksanakan proses digitalisasi di dunia pendidikan,” terang Ketua Dewan Pers 

3. Mengurangi Kesenjangan Digital

Selama Covid 19 ini semua proses belajar mengajar dilakukan dari (bukan di) rumah. Pada pembelajaran daring ini berbagai kesenjangan digital sangat dirasakan. Pak Nuh mengungkapkan, pendidikan di indonesia harus dilakukan mitigasi akademik besar-besaran, sebagai sebuah konsekuensi dari recursive process.

“Kesenjangan digital selama belajar daring menyebabkan losses in learning (kehilangan di dalam pembelajaran) yang menjadikan timbulnya stunting learner (pembelajar stunting) dan pseudo participation (pembelajar semu). Kesenjangan tersebut harus segera ditutup agar proses mitigasi akademik secara besar-besaran bisa terlaksana,” ucapnya. 

4. Mengubah Mindset dalam Melakukan Perubahan 

Banyak rencana yang sudah disiapkan menuju 25 tahun mendatang. Namun, perlu diingat bahwa sampai detik ini kita masih stuck dengan pemikiran konvensional. Common barrier (penghalang) pendidikan di Indonesia diibaratkan seperti myopia, yaitu tak bisa melihat ke depan dengan jelas. 

“Indonesia punya banyak mimpi pada 25 tahun mendatang. Namun Indonesia masih mengalami common barrier yaitu miopi atau rabun jauh, sehingga 2045 jauh disana kita tidak bisa menjangkau. Inilah yang harus diatasi Indonesia untuk masa depan,” jelasnya. 

5. Bawa Semangat untuk Memenuhi Janji Kemerdekaan

Menurut Pak Nuh, pendidikan sebagai kunci utama kejayaan Indonesia di tahun 2045. Untuk itu kita harus punya semangat tinggi untuk memenuhi janji kemerdekaan tersebut. 

“Sebaik-baiknya orang, adalah orang yang melunasi janjinya. Sebaik-baiknya negara adalah negara yang melunasi janjinya. Sehingga apa yang kita lakukan hari ini adalah menyiapkan agar janji kemerdekaan itu bisa kita lunasi,” tutup Pak Nuh. 

Mengenal SEVIMA

SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen selama 18 tahun dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui sistem informasi siAkadCloud

TAGS :

Komentar