Kompetisi Menulis

Revolusi Pembelajaran Signifikan Di Sekolah Tinggi Bahasa Asing Pontianak

Penulis: Alexander
Mahasiswa Sekolah Tinggi Bahasa Asing Pontianak
Artikel ini Masuk dalam 10 Besar Kategori Mahasiswa di “Kompetisi Menulis SEVIMA #revolutionizeEducation” 

Pandemi COVID-19 adalah krisis kesehatan terbesar yang mempengaruhi banyak sektor kehidupan manusia saat ini. Salah satu sektor yang terdampak oleh pandemi COVID-19 adalah sektor pendidikan. Di Indonesia, banyak perguruan tinggi dan universitas ditutup sebagai upaya dalam mengurangi penyebaran virus korona. Selain daripada itu, potensi resiko mahasiswa untuk terpapar virus korona pada pendidikan tinggi adalah sebesar 86.034.287 orang. Akibatnya, beberapa perguruan tinggi dan universitas mulai menerapkan kebijakan kegiatan belajar mengajar jarak jauh. Salah satu penguruan tinggi yang mengalami dampak ini adalah Sekolah Tinggi Bahasa Asing Pontianak.

Di Sekolah Tinggi Bahasa Asing Pontianak, setiap kegiatan belajar mengajar akan dilaksanakan secara daring menggunakan dua aplikasi yaitu (1) Zoom Meeting sebagai pertemuan antara mahasiswa dan dosen (2) Google Classroom sebagai wadah berdiskusi dan pengumpulan tugas. Dua aplikasi ini yang digunakan dalam menunjang pembelajaran secara jarak jauh dengan baik. Dengan adanya pembelajaran jarak jauh, terdapat adanya revolusi signifikan yang terjadi pada aspek aktivitas belajar mengajar dan penilaian. Oleh karena itu, penulis akan membahas mengenai revolusi pembelajaran signifikan yang terjadi di Sekolah Tinggi Bahasa Asing Pontianak pada aspek aktivitas belajar mengajar dan penilaian.

Zoom Meeting Mahasiswa Sekolah Tinggi Bahasa Asing Pontianak

Student-Centered

Pertama, Sekolah Tinggi Bahasa Asing Pontianak menerapkan aktivitas belajar mengajar yang berfokus pada mahasiswa (student-centered). Dalam pembelajaran jarak jauh ini, setiap dosen pada Sekolah Tinggi Bahasa Asing Pontianak menerapkan pembelajaran secara student-centered atau berfokus pada mahasiswa, sehingga partisipasi mahasiswa dalam pembelajaran sangatlah utama.

Sebelum pandemi COVID-19 terjadi, dosen-dosen di Sekolah Tinggi Bahasa Asing Pontianak memberikan dan menjelaskan materi secara holistik pada setiap pertemuan (teacher-centered). Namun, pada pembelajaran jarak jauh ini, setiap dosen memberikan materi dan mahasiswa mengkaji materi tersebut. Revolusi ini terjadi akibat penyesuaian jadwal kelas daring yang terbatas untuk melakukan tatap muka di Zoom Meeting.

Akibatnya, dosen-dosen lebih banyak memberikan materi kepada mahasiswa dalam mengkaji, menelaah, dan memberikan pemahaman materi secara mandiri. Meskipun mahasiswa dituntut secara mandiri, setiap dosen akan memberikan kesempatan kepada mahasiswa secara fleksibel dalam bertanya mengenai materi yang sulit. Selain itu, dosen-dosen juga akan memberikan pertanyaan konfirmasi kepada mahasiswa terkait pemahaman pada materi tersebut. Hal ini menciptakan model pembelajaran yang berfokus pada mahasiswa untuk menjadi kritis dan analitik pada materi yang diberikan.

Metode Pendekatan Saintifik

Adapun model pembelajaran student-centered yang diterapkan oleh dosen-dosen Sekolah Tinggi Bahasa Asing Pontianak adalah metode pendekatan saintifik. Sebelum pandemi COVID-19 terjadi, setiap dosen menyampaikan materi dengan menggunakan metode pengajaran langsung, sehingga materi hanya bersumber dari referensi yang telah diberikan oleh dosen bersangkutan. Namun, pada pembelajaran jarak jauh, metode tersebut tidak lagi digunakan dan berevolusi dengan metode pendekatan saintifik.

Metode pendekatan saintifik adalah pendekatan yang mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dengan menerapkan observasi, tanya jawab, bereksperimen, mengasosiasikan, dan mengkomunikasikan dalam proses belajar mengajar. Metode ini kerap kali digunakan oleh setiap dosen untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang aktif dalam mengkonstruksikan konsep atau prinsip melalui tahapan mengamati (mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan beberapa pertanyaan, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan informasi dengan berbagai teknik, menganalisis informasi, menarik kesimpulan dan mengkomunikasikan informasi yang telah ditemukan.

Sebagai contoh, mahasiswa kelas 1 D1 pada mata kuliah Introduction to Linguistic, pada awal pembelajaran, dosen terkait memberikan dan tidak menjelaskan materi tersebut. Namun, mahasiswa 1 D1 diminta untuk membaca terlebih dahulu materi tersebut, merumuskan pertanyaan mengenai materi yang telah diberikan, menganalisis beberapa permasalahan pada materi tersebut, mengajukan pertanyaan pada sesi Zoom meeting, dan mengumpulkan informasi tambahan pada sumber lain. Oleh karena itu, model pembelajaran student-centered dengan metode pendekatan saintifik dinilai sangat efektif bagi mahasiswa untuk memiliki pemikiran yang kritis dan mengasah keterampilan pemecahan masalah.

Penilaian Formatif dan Sumatif

Kedua, revolusi juga terjadi pada pemberian penilaian baik formatif maupun sumatif. Penilaian pada Sekolah Tinggi Bahasa Asing Pontianak pada dasarnya  adalah penilaian partisipasi mahasiswa secara formatif, penilaian tugas atau kuis secara formatif, dan penilaian tengah semester atau akhir semester secara sumatif. Sebelum pandemi COVID-19, semua penilaian akan dilakukan di kampus secara berkala pada waktu tertentu dan berjalan selama proses belajar mengajar. Dengan demikian, pada pertemuan tertentu (tidak setiap pertemuan), maka mahasiswa akan diberikan tugas untuk baik dikerjakan di rumah maupun di kampus. Setelah itu, mahasiswa wajib mengumpulkan paling lama tiga hari atau dihari tugas diberikan di kampus. Penilaian tersebut secara objektif dinilai sesuai dengan kompetensi mahasiswa setelah mempelajari beberapa materi.

Contoh dari penilaian formatif adalah mengisi soal, memrefleksikan materi terkait, dan merancang sebuah produk tertulis dan lisan. Disamping itu, penilaian sumatif dilaksanakan di kampus secara tatap muka dan diberikan waktu pengerjaan selama satu jam. Penilaian sumatif ini bersifat closed book, sehingga mahasiswa diwajibkan untuk mempelajari materi tersebut sebelum penilaian dilangsungkan. Namun, pada saat pandemik COVID-19 berlangsung, setiap dosen Sekolah Tinggi Bahasa Asing Pontianak akan menugaskan penilaian formatif secara persisten dan variatif pada setiap pertemuannya.

Setiap pertemuan, mahasiswa akan ditugaskan untuk mengerjakan penilaian formatif dan mengumpulkan tugas tersebut pada Google Classroom. Penilaian formatif tersebut dikumpulkan dengan tanggal jatuh tempo yang telah dinegosiasikan dengan dosen terkait. Hal ini menjadikan mahasiswa dapat mengutarakan pendapatnya dalam pengumpulan tugas.

Revolusi dari penilaian formatif pada setiap sesi memiliki tujuan yang terarah yaitu memantau pembelajaran mahasiswa pada setiap pertemuan dan memberikan umpan balik berkelanjutan sehingga dosen-dosen Sekolah Tinggi Bahasa Asing Pontianak dapat mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan mahasiswa dan area target yang perlu diperbaiki. Disamping daripada itu, penilaian formatif yang diberikan juga bersifat variatif berkaitan dengan perkembangan teknologi seperti pemanfaatan sosial media sebagai media publikasi. Sebagai contoh, mahasiswa kelas 2 D1 pada mata kuliah Creative Writing yang mempublikasikan hasil presentasi dalam bentuk video yang sangat menarik ke berbagai media sosial.

Pemanfaatan Sosial Media dalam Penilaian Formatif

Dengan demikian, revolusi ini memberikan penilaian formatif pada Sekolah Tinggi Bahasa Asing Pontianak lebih memfokus pada kemampuan mahasiswa secara menyeluruh di setiap pertemuannya dan menjadikan mahasiswa lebih kreatif dalam memproduksikan tugasnya. Revolusi penilaian formatif juga tidak hanya terjadi pada penilaian formatif, penilaian sumatif juga mengalami perubahan setelah pandemi COVID-19. Penilaian sumatif pada Sekolah Tinggi Bahasa Asing Pontianak menjadikan penilaian secara open-book atau taken home. Dalam arti ini, mahasiswa dapat membuka buku sebagai referensi dalam menjawab soal sumatif.

Namun, untuk waktu pengerjaan tetap sama yaitu selama satu jam. Terdapat adanya revolusi juga pada soal sumatif yaitu soal yang diberikan tidak lagi sebatas kemampuan siswa pada level mengingat dan memahami. Namun soal yang diberikan lebih mengarah pada level menganalisis, mengevaluasi, dan merancang suatu produk tertulis dan lisan. Kedua revolusi ini menjadikan Sekolah Tinggi Bahasa Asing tetap menjalankan pembelajaran jarak jauh dengan baik.

Bagikan artikel ini

Komentar