5 Strategi Menyusun Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) yang Terukur
09 Feb 2026
06 Feb 2026

SEVIMA.COM- Kehadiran AI di dunia akademik memang menjadi pedang bermata dua. Bisa menjadi tools bagi perguruan tinggi untuk meningkatkan efisiensi asesmen, atau justru membuka celah kecurangan bagi mahasiswa dalam mengerjakan tugas.
Indonesia sendiri memiliki catatan panjang soal integritas ujian. Riset dari The Conversation (2025) yang melibatkan 259 mahasiswa dari tiga universitas negeri di Yogyakarta, Jakarta, dan Purwokerto mengungkap fakta mengejutkan lebih dari 70% mahasiswa mengaku pernah terlibat dalam berbagai bentuk kecurangan akademis mulai dari menyontek saat ujian hingga plagiarisme dalam tugas kuliah maupun tugas akhir.
Bagi Pimpinan dan Kaprodi, ini bukan sekadar angka. Ini adalah pertanyaan besar: apakah nilai di ijazah benar-benar mencerminkan kompetensi lulusan? Bagaimana mempertanggungjawabkan kualitas alumni ke dunia kerja jika proses asesmennya sendiri penuh celah?
Yang lebih mengkhawatirkan, era AI generatif memperburuk keadaan. Mahasiswa tidak lagi perlu menghafal contekan atau berbisik ke teman. Cukup ketik pertanyaan di ponsel, dan jawaban tersedia dalam hitungan detik. Dosen yang mengawas ujian 40 mahasiswa sekaligus mustahil mendeteksi semua pelanggaran. Sistem asesmen yang tidak beradaptasi akan semakin kehilangan validitasnya.
Paradoks AI, Jadi Ancaman atau Solusi?
Di sinilah paradoks menarik muncul. AI yang memudahkan kecurangan ternyata juga mampu menjadi penjaga integritas paling efektif. Kuncinya terletak pada bagaimana institusi memposisikan teknologi ini sebagai guardian (penjaga), bukan sekadar tool.
Pendekatan serupa kini tersedia dalam skala yang lebih canggih melalui AI proctoring. Sistem ini menganalisis perilaku peserta secara real-time: pergerakan mata, orientasi wajah, aktivitas audio, hingga keberadaan orang lain di ruangan. Bagaimana AI mampu mencegah kecurangan di perguruan tinggi saat asesmen?
Tiga Pilar Asesmen Berbasis AI yang Menjaga Integritas
Pertama, AI sebagai pengawas adaptif. Proctoring berbasis AI mendeteksi anomali yang luput dari pengawasan manusia: tab switching berulang, pola ketikan tidak konsisten, atau wajah yang tidak sesuai verifikasi awal. Sistem ini tidak menggantikan judgement dosen untuk soal esai atau proyek ia justru membebaskan dosen dari tugas pengawasan mekanis agar fokus pada evaluasi substantif.
Desain asesmen yang dinamis. Item bank yang besar dan pengacakan soal memastikan setiap peserta menghadapi tantangan unik. Beberapa sistem bahkan menyesuaikan tingkat kesulitan secara real-time berdasarkan performa peserta pendekatan yang tidak hanya mencegah kebocoran, tetapi juga memberikan pengukuran kemampuan yang lebih akurat.
Setiap sesi ujian terekam: kapan dimulai, dari perangkat mana, berapa lama per soal, anomali apa yang terdeteksi. Data ini bukan untuk mengintimidasi mahasiswa, melainkan menyediakan bukti objektif jika terjadi sengketa akademik sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi tim quality assurance institusi.
Adopsi AI di Sistem, SEVIMA Platform Kembangkan Fitur Menjawab Kebutuhan Kampus
SEVIMA CBT mengintegrasikan ketiga pilar tersebut dalam satu platform. AI Proctoring mendeteksi kecurangan melalui webcam dan analisis perilaku tanpa memerlukan pengawas manusia per sesi. Browser lockdown mencegah akses ke aplikasi atau tab lain selama ujian berlangsung. Randomisasi soal memastikan setiap peserta mendapat urutan dan varian berbeda.
Yang sering diabaikan adalah pentingnya time-stamped log. Fitur ini merekam seluruh aktivitas dengan penanda waktu menjadi bukti tak terbantahkan ketika mahasiswa mengajukan keberatan atau ketika auditor akreditasi meminta dokumentasi proses penilaian. Analytics dashboard kemudian mengidentifikasi pola anomali lintas kelas atau program studi, membantu pimpinan mengambil keputusan berbasis data.
Kombinasi auto-grading untuk soal objektif dengan manual review untuk soal esai menjawab kekhawatiran bahwa AI akan menghilangkan peran dosen. Sebaliknya, dosen mendapat waktu lebih untuk memberikan umpan balik bermakna pada tugas yang memang memerlukan penilaian manusia.
Mengapa Ini Keputusan Strategis, Bukan Sekadar Teknis
Adopsi AI dalam asesmen bukan proyek IT semata. Ini menyangkut reputasi institusi, validitas ijazah yang diterbitkan, dan kepercayaan dunia kerja terhadap lulusan. Kampus yang tidak mengadaptasi sistem asesmennya berisiko menghasilkan lulusan yang nilainya tidak mencerminkan kompetensi sebenarnya—kerugian jangka panjang yang jauh melampaui biaya investasi teknologi.
Implementasi yang berhasil memerlukan alignment antara pimpinan, dosen, dan tim IT. Pimpinan perlu memahami implikasi strategis dan menyediakan sumber daya. Dosen perlu dilibatkan dalam desain asesmen agar tidak merasa digantikan oleh mesin. Tim IT perlu memastikan infrastruktur mendukung dan data terlindungi.
Untuk mendiskusikan strategi ini lebih lanjut, SEVIMA menggelar Executive Workshop bertema “Lead The Future: Memimpin Orkestrasi Kampus Berdampak dengan AI & Kurikulum OBE” bersama Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Kepala LLDIKTI, Prof. Rhenald Kasali, serta ratusan Rektor dan Pakar AI. Khusus untuk pimpinan perguruan tinggi, Bapak/Ibu dapat mendaftar melalui sevi.ma/executive-obe.
Diposting Oleh:

Liza SEVIMA
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami