Lomba Artikel

Transformasi Digital PT Tak Sebatas Alih “Mode” Tapi Strategi INAKOL

Penulis: Dr. I Nengah Muliarta, S.Si., M.Si., CETP, CPS., C.Mt.
Kampus: Universitas Warmadewa

Transformasi digital bagi perguruan tinggi  (PT) di era-digital bukan lagi sebatas tren tetapi menjadi sebuah kebutuhan. Tatkala menjadi sebuah kebutuhan maka PT berkewajiban melakukan transformasi digital dalam upaya meningkatkan daya saing. Langkah ini juga menjadi bagian dalam meningkatkan pelayanan bagi mahasiswa dan mitra kerja.

Permasalahannya di lapangan upaya transformasi digital bukan sebatas alih mode atau cara, tetapi lebih pada merancang strategi. Merancang strategi yang inovatif, adaptif dan kolaboratif (INAKOL) guna menghasilkan operasional yang lebih efisien, memiliki nilai lebih dan memiliki ciri khas. 

Kenyataan dalam implementasi di lapangan tidak jarang PT mengklaim telah melakukan transformasi digital, kendati baru sebatas memindahkan sistem administrasi manual yang menggunakan hard paper ke paperless. Upaya yang dilakukan semestinya tidak terhenti pada bentuk  dokumen, namun lebih pada dokumen dapat diakses dengan mudah dan tersedia dalam waktu cepat.

Dokumen yang bentuknya sudah digital selanjutnya tersimpan secara baik, yang selanjutnya dapat ditemukan dengan mudah, kendati orang yang bertugas telah berganti. Wawasan pengelola dalam hal ini semestinya ditransformasi agar tidak terhenti pada pelayanan penyediaan dokumen. Penyediaan dokumen paperless, semestinya diikuti dengan layanan pendaftaran, absensi, pendaftaran wisuda hingga legalisasi ijazah secara online sebagai sebuah inovasi. 

Realita lainnya yaitu kegiatan perkuliahan juga sebatas memindahkan pertemuan luring ke daring, tanpa disertai upaya untuk mengubah strategi belajar mengajar dan penilaian. Kondisi ini terjadi karena sebagian besar masih berpandangan bahwa transformasi digital merupakan sebuah proses sederhana dan disaat semua proses telah menggunakan tools serta menggunakan teknologi terbaru.

Manajemen PT sering terlalu bangga dengan menyatakan telah menerapkan e-learning dalam proses pembelajaran, padahal proses pembelajaran masih menggunakan konsep dosen menjelaskan dan mahasiswa menyimak. Proses pembelajaran belum disertai dengan kurikulum, penyusunan rencana pembelajaran semester (RPS), hingga modul pembelajaran berbasis e-learning.

E- learning yang dibanggakan PT juga sering belum mengadaptasi proses perkuliahan yang mengadaptasi konsep sinkron dan asinkron. Institusi PT memiliki kewajiban menyusun strategi pembelajaran yang memungkinkan mahasiswa dapat belajar, kapan saja, dimana saja, namun dengan aturan dan batas waktu yang jelas. 

Proses perkuliahan yang mengadaptasi transformasi digital dalam proses pemberian tugas atau ujian semester kepada mahasiswa, seharusnya tidak lagi pada level menjawab soal esai atau analisis situasi. Format tugas dan ujian mestinya mengarah pada kolaborasi penyelesaian proyek, atau minimal mampu merumuskan solusi bagi permasalahan yang ada di masyarakat. 

Langkah ini tidak saja dalam upaya mengasah daya pikir dan analisis, namun lebih luas untuk mengembangkan keterampilan umum dan khusus mahasiswa. Karya-karya mahasiswa tersebut,  walaupun dalam bentuk tugas juga dapat diakses oleh masyarakat, sehingga dapat diadaptasi. Metode pemberian tugas dan ujian semester yang mengarah pada penyelesaian proyek tentu harus diikuti dengan indikator dan instrumen pencapaian guna sebagai pedoman dalam penilaian. 

Transformasi digital kampus menuntut perguruan tinggi untuk mampu menyediakan bahan ajar yang mudah diakses serta terbaru. Mahasiswa dan dosen membutuhkan e-book atau publikasi jurnal terbaru agar dapat mengikuti isu-isu penelitian terkini. Dampaknya perpustakaan universitas hingga program studi wajib berinovasi dalam melayani civitas akademika. Sumber-sumber literatur baru akan melahirkan ide-ide penelitian yang inovatif dan kreatif. 

Transformasi digital tidak saja menuntut kampus untuk melakukan inovasi dan adaptasi, tetapi juga kolaborasi guna memperluas jaringan. Kolaborasi antar perguruan tinggi membuka peluang untuk dilakukannya pertukaran mahasiswa, kerjasama penelitian hingga kerjasama pengabdian masyarakat. Kolaborasi ini tentu sangat sejalan dengan penerapan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM).

Transformasi digital mempermudah mahasiswa mengambil mata kuliah ke prodi atau fakultas berbeda dalam satu kampus atau ke prodi atau fakultas yang sama di luar perguruan tinggi asal. Intinya transformasi digital PT memberikan peluang yang luas bagi kampus untuk menjalankan fungsi Tridarma PT secara inovatif, adaptif dan kolaboratif (INAKOL) dalam bingkai MBKM. 

Transformasi Digital Dengan Algoritma Non-Bilangan Biner

Langkah melakukan transformasi digital PT di Indonesia harus diakui menemui beragam tantangan karena permasalahan di setiap PT sangat berbeda. Kondisi ini yang menyebabkan upaya transformasi digital mesti dilakukan secara algoritma non-biner. Transformasi digital memang harus dilakukan dengan langkah algoritma atau dilakukan dengan pedoman instruksi yang jelas dan bertahap sehingga target yang dituju dapat tercapai, tetapi tidak menggunakan pendekatan bilangan biner 0 dan 1 (tanpa kompromi). Artinya transformasi digital harus dilakukan dengan pendekatan “rasa yang pernah ada” yaitu rasa kemanusiaan.  

Transformasi digital tidak semata-mata hanya berbicara atau berhadapan dengan tools, namun tetap mengedepannya pentingnya relasi sosial. Layanan digital memang menghadirkan kecepatan layanan, tapi belum tentu memberikan kepuasan layanan, karena sebagai makhluk sosial tetap memerlukan interaksi sosial. Implementasi transformasi digital juga sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, sehingga rasa kemanusiaan mesti tetap dikedepankan. 

Rasa kemanusiaan penting dalam transformasi digital kampus karena akses internet dan jaringan internet belum merata. Kondisi ini menyulitkan bagi mahasiswa di daerah pelosok dan perbatasan, sehingga merdeka belajar dari mana saja dan kapan saja belum dapat berjalan dengan optimal.

Jaringan internet terkadang tersedia tetapi kecepatan akses yang lambat, sehingga mahasiswa tidak dapat mengikuti kuliah daring dan terkadang gagal melakukan absensi. Apabila absensi saja mahasiswa gagal maka akan berpengaruh pada kesempatan mereka untuk mengikuti UTS dan UAS. Menghadapi kondisi seperti ini, PT harus menyiapkan strategi pembelajaran, termasuk membuat tools yang mudah diakses dan tidak menyalahkan mahasiswa. 

Transformasi digital kampus menyebabkan dosen tidak lagi menjadi sumber pengetahuan, namun lebih pada fasilitator. Sumber pengetahuan mahasiswa sudah beralih ke web, khususnya search engine atau mesin-mesin pencari.

Dampaknya potensi plagiasi tinggi, sehingga dosen dalam pemberian tugas harus lebih inovatif dan kreatif. Dosen juga punya kewajiban untuk memperkenalkan tools yang ada, seperti tools cek plagiarisme dan pharafrase. Langkah ini berkaitan dengan pengembangan karakter mahasiswa, mengingat relasi sosial dalam bentuk pengawasan dari dosen tak optimal karena proses daring. 

Pengelola PT pada sisi lain memiliki kewajiban melakukan sosialisasi, baik kepada dosen, pegawai dan mahasiswa agar civitas akademika merasakan bahwa transformasi digital merupakan kebutuhan dan bukan sebuah paksaan. Sosialisasi juga mesti diikuti dengan peningkatan kapasitas dan kemampuan SDM. Transformasi digital PT di Indonesia secara bertahap nantinya diharapkan mampu meningkatkan kapasitas kampus sehingga mampu bersaing dengan universitas kelas dunia. 

Catatan penting dalam transformasi digital PT yaitu jaminan keamanan data bagi civitas akademika. Jaminan keamanan data ini penting agar konsumen, dalam hal ini mahasiswa merasa nyaman dengan data mereka. Jangan sampai di kemudian hari mahasiswa menjadi korban dari upaya penyalahgunaan data.

Data kampus merupakan data penting karena bersifat pribadi dan hanya untuk kalangan kampus saja. Warga kampus juga perlu diingatkan agar tidak menggunakan nomor induk mahasiswa sebagai password, begitu juga untuk dosen dan pegawai karena web kampus dapat diakses oleh siapa saja.

Mengenal SEVIMA

SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen selama 18 tahun dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui sistem informasi siAkadCloud

TAGS :

Komentar