Seberapa Siap Kampus Anda untuk OBE?
23 Feb 2026

“Dunia berubah, namun masih banyak perguruan tinggi masih bergerak dengan tempo lama. Belum lagi hadirnya AI yang meruntuhkan monopoli pengetahuan. Perguruan tinggi yang mampu membaca momentum akan bertahan, yang tidak akan ditinggalkan.”
SEVIMA.COM- Realitas inilah yang dibedah oleh Prof. Rhenald Kahasili, Guru Besar UI dalam Executive Forum SEVIMA bertajuk “Memimpin Orkestrasi Kampus Berdampak dengan AI dan Kurikulum OBE,” yang diselenggarakan di Rumah Perubahan (12/2/2026). Forum ini mempertemukan ratusan rektor, wakil rektor, dan dekan dari berbagai wilayah Indonesia untuk satu agenda menghadapi kenyataan bahwa dunia sudah berubah secara brutal, sementara pendidikan tinggi masih bergerak dengan tempo lama.
Melalui forum ini, Guru Besar yang menyelesaikan studi doktoral di University of Illinois Urbana-Champaign tersebut menyampaikan sejumlah insight strategis bagi pimpinan perguruan tinggi dalam merespons gempuran teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI).
Menurut Prof. Rhenald, dunia saat ini berada dalam kondisi BANI (Brittle, Anxious, Non-linear, Incomprehensible) yang menggambarkan realitas global dengan empat karakteristik utama. Pertama, brutal, di mana perubahan terjadi cepat dan disruptif. Kedua, anxious, yang memunculkan kecemasan institusional. Ketiga, non-linear, yang berarti perubahan tidak bisa diprediksi dengan pola lama. Keempat, incomprehensible, di mana kompleksitas semakin sulit dijelaskan dengan pendekatan konvensional.
“Sekarang masuk di era abad 21 ini, namanya menjadi BANI. B-nya itu singkatan dari brittle, yang artinya rapuh. Rapuh itu artinya ada ilusi of strength — ilusi kekuatan. Segala yang terlihat kuat adalah ilusi hari ini. Banyak yang rapuh, sama dengan kampus-kampus kita hari ini,” ujar Prof. Rhenald.
Dalam konteks perguruan tinggi, kondisi BANI adalah peringatan keras. Kampus bisa saja terlihat “kuat” karena memiliki ribuan mahasiswa, gedung megah, dan akreditasi baik namun rapuh karena kurikulum tidak relevan, struktur fakultas kaku, model belajar tidak mengikuti perkembangan. Ini terjadi akibat tidak membaca perkembangan saat ini.
“Di 1980-an, yang berkembang adalah komputer. Kampus-kampus yang masuk ke pendidikan komputer berkembang pesat. Kita melihat pergeseran itu. Bahkan di UI (Universitas Indonesia), minat ke jurusan akuntansi menurun, sementara peminat beralih ke fakultas ilmu komputer karena komputerisasi dan digitalisasi semakin dominan.
Di tempat kami, manajemen masih tinggi peminatnya karena terus beradaptasi. Intinya sederhana: setiap zaman punya momentum ilmunya sendiri. Kampus yang mampu membaca momentum itu akan bertahan, yang tidak, akan ditinggalkan.”
Hadirnya teknologi Artificial Intelligence (AI) sering dipahami sebatas chatbot atau otomasi administrasi. Namun bagi Rhenald, penggunaan AI dengan konsep seperti itu masih sangat dangkal dan hanya permukaan.
“Kalau AI hanya dipakai di level operasional, itu cuma otomasi. Tapi kalau strategik, kita membangun ulang semuanya.”
Selama ini, banyak kampus memahami transformasi digital sebagai sesuatu yang bersifat teknis dengan konsep migrasi sistem manual ke sistem online atau beralih menggunakan LMS. Padahal, hadirnya AI mengubah tiga lapis utama yang menggerakkan institusi, yaitu:
AI meningkatkan efisiensi tata kelola melalui automasi layanan akademik, chatbot mahasiswa, dan analitik data akademik. Lapis ini penting, tetapi belum menyentuh inti sistem pendidikan.
Jika dinaikkan ke level instruksional, AI mulai menyentuh proses pembelajaran. Ia dapat digunakan untuk simulasi berbasis algoritma, adaptive learning, sistem evaluasi cerdas, dan logika pembelajaran yang lebih interaktif. Pada tahap ini, AI mulai mengubah pengalaman belajar mahasiswa.
Inilah titik transformasi yang paling mendalam. Di level ini, AI tidak lagi sekadar alat bantu, melainkan instrumen transformasi. Kampus tidak lagi dilihat sebagai kumpulan fakultas dan jurusan yang berjalan sendiri-sendiri, tetapi sebagai ekosistem yang terintegrasi. Mata kuliah seperti matematika, misalnya, tidak lagi tersekat dalam satu jurusan, melainkan menjadi bagian dari sistem yang saling terhubung.
Pada tahap strategis, AI mendorong lahirnya jurusan baru, integrasi lintas disiplin, serta pendekatan pembelajaran yang benar-benar berbeda. Ini bukan lagi digitalisasi, melainkan redesign institusi.
“Begitu juga dengan dosen. Pendekatan mengajar tidak bisa lagi mengandalkan referensi lama tanpa konteks baru. Mengajar marketing, misalnya, tidak cukup hanya merujuk pada teori klasik. Dunia media sosial, algoritma platform, dan perilaku digital konsumen telah mengubah wajah pemasaran. Pendekatan baru membutuhkan perspektif baru termasuk dari generasi yang lebih memahami lanskap digital hari ini.
Karena itu, AI tidak bisa hanya dipahami sebagai alat operasional. Jika hanya berhenti pada otomasi akademik, maka transformasi tidak pernah benar-benar terjadi. Transformasi strategis berarti keberanian membongkar sistem lama, bukan sekadar menambal.
Rhenald secara terbuka menyatakan bahwa AI telah meruntuhkan monopoli ilmu. Dosen yang dulunya sebagai pusat informasi kini bisa ditemukan mudah di berbagai AI seperti ChatGPT dan Gemini.
“Jangan anti AI. AI meruntuhkan monopoli pengetahuan dosen. Hari ini ada ChatGPT, Gemini, Claude, Meta AI, dan berbagai sistem lain yang mampu menjelaskan konsep lintas disiplin dalam hitungan detik. Dosen bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan,” ujarnya.
Menurut Rheald, di masa depan dosen bukan lagi pusat informasi, melainkan kurator, validator, pembangunan konteks, dan pembentuk cara berpikir kritis. Pengetahuan bisa diakses siapa pun, tetapi kebijaksanaan tetap membutuhkan pendampingan manusia.
“Tapi the good thing is: diperlukan pengetahuan untuk bisa mendapatkan pengetahuan. Makanya dosen tetap hebat dibandingkan mahasiswanya. Kenapa? Karena dosen sudah punya referensi. Orang yang punya referensi bisa melakukan prompting di AI yang jauh lebih baik,”
Prof. Rhenald mengkritik paradigma lama yang memposisikan pendidikan sebagai proses memindahkan isi buku ke otak mahasiswa. Ia mengacu pada pedagogi konstruktivistik yang terinspirasi dari John Dewey, serta model experiential learning seperti yang diterapkan di Babson College, di mana mahasiswa dihadapkan pada kebingungan terlebih dahulu, mengerjakan proyek nyata, dan teori hadir belakangan sebagai alat refleksi.
“Padahal, kalau saudara mempelajari pedagogi konstruktivistik pedagogi yang dipengaruhi oleh pemikiran seperti John Dewey saudara akan memahami bahwa pendidikan pada dasarnya adalah membangun manusia. Kita membangun, bukan mengisi.”
Dengan pendekatan ini, pembelajaran bukan lagi soal hafalan konten, melainkan proses pembentukan struktur berpikir. Mahasiswa tidak dilatih untuk mengingat, tetapi untuk mengalami, merefleksikan, dan pada akhirnya membangun kerangka pemahaman mereka sendiri. Peran kampus bergeser dari penyedia informasi menjadi ruang konstruksi manusia seutuhnya.
Dari seluruh paparannya, satu benang merah muncul kuat bahwa hadirnya Artificial Intelegent hanyalah katalis. Yang dipertaruhkan bukan teknologi, melainkan relevansi institusi.
“Orang yang berhasil bukan yang tahu semuanya, tapi yang bisa mengendalikan dirinya.”
Transformasi perguruan tinggi tidak dimulai dari software, melainkan dari mindset kepemimpinan. Kampus yang bertahan bukan yang terbesar atau tertua.
Melainkan yang berani bereksperimen, membangun manusia, dan menjadikan AI sebagai akselerator bukan ancaman.
Pada kesempatan di forum ini, SEVIMA memperkenalkan Edlink Dosen Pro AI, sebuah pengembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan yang dirancang untuk mendukung proses akademik dosen sekaligus membantu implementasi Kurikulum Outcome-Based Education (OBE) di tingkat institusi.
Pengembangan sistem ini berangkat dari riset yang didanai melalui Hibah Riset Prioritas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dalam skema Ajakan Industri. Hasil riset tersebut kemudian dikembangkan menjadi solusi yang dapat digunakan di lingkungan perguruan tinggi.
Dalam demonstrasi singkat yang ditampilkan pada forum, diperlihatkan bagaimana teknologi AI dapat membantu mengonversi bahan ajar seperti presentasi PowerPoint menjadi format video pembelajaran, menyusun draft Rencana Pembelajaran Semester (RPS) yang terstruktur sesuai kerangka OBE, hingga menyusun bank soal yang terpetakan pada taksonomi Bloom serta selaras dengan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL).
Selain itu, peserta juga diperkenalkan pada sejumlah pengembangan lainnya yang memanfaatkan AI untuk mendukung tata kelola dan evaluasi pembelajaran, mulai dari analitik akademik hingga sistem presensi berbasis pengenalan wajah. Pendekatan ini diarahkan untuk membantu perguruan tinggi memetakan capaian pembelajaran secara lebih terstruktur dan terukur.
Forum ini sendiri bukan penyelenggaraan pertama. Sejak 2023, SEVIMA secara rutin menghadirkan forum diskusi pimpinan perguruan tinggi di berbagai kota, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Bali. Setiap forum mengangkat tema yang relevan dengan dinamika pendidikan tinggi, termasuk digitalisasi kampus, implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), dan penguatan Kurikulum OBE.
Dengan pendekatan diskusi dan demonstrasi, forum ini diharapkan menjadi ruang berbagi praktik baik sekaligus refleksi bersama dalam menghadapi percepatan transformasi pendidikan tinggi.
Diposting Oleh:

Liza SEVIMA
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami