Kontak Kami

Dunia Kampus

Jadi Pilihan Puluhan Ribu Mahasiswa, Unjani Alami Lonjakan Total Mahasiswa Hingga 231%

09 Apr 2026

SEVIMA.COM- Di tengah tekanan penerimaan mahasiswa baru yang semakin kompetitif, beberapa kampus justru berhasil tumbuh. Salah satunya layak dijadikan cermin ialah Universitas Jenderal Achmad Yani atau biasa disebut Unjani.

Berlokasi di Cimahi bukan Bandung kampus ini dalam tiga tahun terakhir mencatatkan pertumbuhan yang sulit diabaikan: dari kisaran 8.000 hingga 12.000 mahasiswa aktif, kini mencapai 26.500. Tumbuh 231 persen. Tanpa pindah lokasi, tanpa merger dengan PTN, tanpa intervensi luar biasa dari yayasan.

Universitas ini berbenah tingkatkan kualitas dan sistem di balik pergerakan pertumbuhannya. 

Unjani Punya Pelatihan untuk Rancang Mahasiswa Disiplin Ketika Menjalani Masa Studi

Hampir semua perguruan tinggi swasta berkompetisi di dua hal yang sama yaitu fasilitas fisik dan nama program studi. Unjani memilih langkah yang berbeda sejak awal.

Berdiri sejak 1990 sebagai penggabungan beberapa sekolah tinggi di bawah naungan Yayasan Kartika Eka Paksi milik Angkatan Darat, Unjani mewarisi sistem nilai yang kemudian dijadikan fondasi institusional: disiplin, loyal, dan santun. Tiga kata yang tidak berhenti di brosur penerimaan mahasiswa baru ia masuk ke kurikulum, ke sistem pembinaan, ke budaya kampus.

Seluruh mahasiswa baru wajib menjalani Latihan Dasar Kedisiplinan dan Kepemimpinan (LDKK), yang dilaksanakan langsung di fasilitas militer. Bukan untuk mencetak tentara untuk mencetak pemimpin yang punya fondasi disiplin sebelum masuk ke ruang akademik. Dosen baru dan karyawan baru melewati jalur yang sama. Mahasiswa yang kemudian terpilih memimpin organisasi kemahasiswaan menjalaninya kembali setelah dilantik.

“Kalau dulu namanya Diksar Militer. Sekarang kita sebut LDKK atau Latihan Dasar Kedisiplinan dan Kepemimpinan (LDKK). Tempatnya tetap sama, tapi intinya tetap satu yaitu disiplin,” kata Prof. Dr. Ir. Damawidjaya Biksono, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng. Wakil Rektor II Unjani saat diwawancara oleh Tim SEVIMA pada Selasa (3/3) lalu. 

Di luar LDKK, ada Mata Kuliah Wajib Universitas yaitu Ke-Achmad Yanian dengan bobot 2 SKS yang mencakup sejarah dan nilai-nilai Jenderal Achmad Yani, termasuk kunjungan wajib ke situs bersejarah terkait. Konsep besarnya disebut smart military campus namun bukan militarisme, tapi adaptasi nilai kepemimpinan Angkatan Darat ke dalam ekosistem akademik sipil.

Hasilnya bukan klaim brosur.

“Begitu ketemu mahasiswa Unjani, coba perhatikan sendiri,” ujar Prof. Damawidjaya Biksono “Mereka berbeda.”

Unjani merancang diferensiasi karakter semacam ini tidak bisa disalin dengan anggaran promosi berapapun. Ia dibangun bertahun-tahun, konsisten, dan menjadi alasan mahasiswa merekomendasikan kampus ini ke adik kelas dan rekan sebaya mereka.

Rancang Sistem Tingkatkan Kompetensi Dosen untuk Hasilkan Pembelajaran Unggul 

Banyak kampus swasta menghadapi masalah yang sama yaitu  dosen terbaik pergi begitu meraih gelar Doktor. Destinasinya sering kali adalah PTN atau kampus swasta besar dengan kompensasi lebih kompetitif.

Unjani tidak merespons dengan keluhan. Mereka merespons dengan kebijakan struktural.

Unjani mendorong dosen-dosen yang mengajar untuk turut belajar hingga meraih gelar Doktor mereka. Bukan hanya sekadar diturunkan menjadi aturan, Unjani juga turut memperkenalkan sistem tunjangan sebagai penghargaan atas dosen. Penghargaan terhadap pendidik di Unjani berefek domino menghasilkan pembelajaran yang unggul.

Sistem tunjangan berjenjang diperkenalkan: tunjangan Doktor Rp. 3 juta per bulan, tambahan Rp. 3,5 juta untuk Jabatan Fungsional Dosen Lektor Kepala (LK). Kombinasi keduanya mendorong total penghasilan bulanan melampaui Rp10 juta.

“Kita kasih tunjangan Doktor, kita kasih tunjangan Lektor Kepala. Begitu Doktor dan Lektor Kepala, gajinya sudah di atas sepuluh juta. Tujuannya satu: menjaga SDM Unggul. Karena aset utama kampus itu dosen,” kata Prof. Damawidjaya Biksono.

Sistem ini tidak hanya menahan orang, ia mendorong dosen untuk terus naik jenjang akademiknya.

“Kalau sudah Lektor Kepala, tinggal kita dorong dua tahun lagi jadi profesor. Itu bantu akreditasi juga. Jadi ini strategi, bukan sekadar pengeluaran,” lanjutnya.

Dampak dari kebijakan ini pun terlihat jelas, dari 600 dosen aktif sekitar 350 sudah bergelar doktor. Dampak ikutannya langsung terasa pada kualitas akademik dari 44 program studi yang berjalan, lebih dari separuhnya sudah meraih akreditasi Unggul. Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Gigi, termasuk program profesi, seluruhnya Unggul. Program Program Joint dan Double Degree sudah berjalan.

Membuka Segmen yang Jarang Ada di Perguruan Tinggi Lain

Selagi hampir semua perguruan tinggi berebut di jalur SNBT dan SBMPTN, Unjani membuka dua segmen yang nyaris kosong dari persaingan.

Pertama: prajurit TNI Angkatan Darat aktif. Banyak anggota yang pangkatnya sudah Kapten tapi ijazahnya masih SMA  tidak ada waktu untuk kuliah konvensional karena mereka di lapangan, di Kodim, di Batalyon. Unjani menjawab ini dengan kelas Dispersat: program Pendidikan Jarak Jauh berbasis satuan militer. Mahasiswa belajar dari markas masing-masing, dengan kurikulum identik dengan kelas reguler. Bagi Keluarga Besar Angkatan Darat, ada diskon 20% yang berlaku langsung.

Kedua yakni jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau atau RPL, yang menyasar lulusan D3 yang ingin melanjutkan ke S1, dan para profesional yang ingin mendapat pengakuan akademik formal.

“RPL itu sebenarnya pasarnya lebih besar dari mahasiswa baru reguler,” kata Prof. Damawidjaya Biksono. “Tahun kemarin kita dapat sekitar dua ribuan dari jalur RPL saja.”

Dua segmen ini hampir tidak disentuh kompetitor. Keduanya bukan hasil improvisasi musiman keduanya dibangun dari kemampuan membaca kebutuhan yang tidak terlayani, lalu meresponsnya dengan sistem yang serius.

Infrastruktur Digital yang Tumbuh Bersama

Pertumbuhan mahasiswa tanpa infrastruktur pengelolaan yang memadai hanya menghasilkan kekacauan operasional. Unjani menyiapkan ekosistem digitalnya seiring pertumbuhan itu terjadi.

Aktivitas perkuliahan berjalan dalam sistem LMS terintegrasi. Fitur berbasis AI untuk pembuatan RPS dan pengelolaan konten pembelajaran sudah aktif digunakan, mengikuti arah kebijakan nasional yang mendorong adopsi teknologi di perguruan tinggi.

“Dari arahan Menteri dan Wapres, adopsi AI sudah jadi arah kebijakan. Kita harus mengikuti  dan kita sudah bergerak ke sana,” kata Prof. Damawidjaya Biksono.

Bagi Unjani, ini bukan respons reaktif terhadap regulasi. Ia adalah kelanjutan logis dari sistem yang sudah bergerak ke arah yang sama sejak beberapa tahun terakhir.

Masih Awal Pembukaan Periode Calon Mahasiswa Baru 2026, Unjani Sudah Diserbu Ribuan Mahasiswa 

Milestone loncatan ini dimulai sekitar 2023. Sebelumnya, total mahasiswa tidak pernah menembus 20.000. Kini Unjani berada di posisi kedua kampus swasta dengan student body terbesar di kawasan Bandung Raya.

“Setiap tahun target kita tercapai. Tahun kemarin 7.000 masuk. Sekarang baru Maret, sudah 1815 Maba yang registrasi sudah registrasi,” kata Prof. Damawidjaya Biksono. “Dulu di bulan yang sama hanya mencapai 800-an Maba yang registrasi.

Tiga tahun. Tiga strategi yang saling menguatkan yaitu identitas karakter yang tidak bisa ditiru, SDM dosen yang dijaga dengan kebijakan konkret, dan segmen mahasiswa yang selama ini diabaikan industri.

Unjani tidak menunggu mahasiswa datang. Mereka membangun sistem yang membuat mahasiswa mencari. Dan hasilnya sudah berbicara sendiri.

Diposting Oleh:

Liza SEVIMA

Tags:

-

Mengenal SEVIMA

SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami

Video Terbaru

Tidak dapat mengambil data RSS.