Senior dari Era EPSBED
22 Jul 2026

SEVIMA.COM – Ada satu hal yang jarang diakui tentang pekerjaan operator: ia terlihat seperti pekerjaan yang sunyi, tetapi sebenarnya jarang benar-benar dijalani sendirian. Dua cerita berikut menunjukkan hal itu dari dua sudut yang berbeda.
Husnul Ramdani dari Institut Teknologi Lombok mengenang puncak periode pelaporan dengan jujur: ia menyebutnya ujian bagi kesabaran sekaligus stok kopi. Ia masih ingat betul rasanya menatap layar pukul dua dini hari, dalam suasana yang sepi, ditemani hanya bunyi ketikan dan seruputan kopi. Untuk menggambarkan momen itu ia bahkan mengutip Squidward, tentang satu hari indah yang dihabiskan untuk bekerja sampai matanya nyaris lepas. Ada masa ketika ia bingung karena ada laporan yang masih keliru padahal rasanya sudah benar, ditambah drama sinkronisasi yang jarang mulus di akhir periode.
Yang menyelamatkannya bukan hanya ketekunannya sendiri. Husnul menggali informasi dari para senior di komunitas, dan satu per satu masalah terurai sampai indikatornya berubah menjadi seratus persen. Dari situ ia menyimpulkan sesuatu yangingin ia bagi: bergabung dengan komunitas itu penting, dan punya sistem akademik yang memungkinkan pelaporan dicicil sejak awal membuat operator tidak terjebak kemacetan sinkronisasi di detik-detik terakhir. Pesannya untuk rekan se-Indonesia hangat dan tegas — jangan pernah merasa pekerjaanmu kecil, karena operator adalah penjaga gerbang integritas data institusinya.
Baca juga: Senior Dari Era EPSBED
Cerita kedua datang dari Rudhy Jhoe di STAI Syarif Muhammad Raha, dan ia bercerita tentang sisi pendampingan. Berawal dari sebuah bimbingan teknis, Rudhy menyadari satu hal yang membekas: keberhasilan pelaporan tidak diukur dari banyaknya data, melainkan dari kualitas dan kesesuaiannya. Ketika ia mengevaluasi datanya sendiri, ternyata masih ada ketidaksesuaian antara sistem akademik dan PDDikti, serta data yang belum terkirim. Mulanya ia mengira itu perkara mudah.
Ternyata tidak. Maka dimulailah hari-hari pendampingan: komunikasi intensif lewat live chat, Zoom, dan grup WhatsApp; sinkronisasi yang diulang berkali-kali. Rudhy melukiskannya dengan indah — seperti menunggu bulan purnama yang cahayanya masih tertutup awan. Sehari sebelum penutupan, progresnya masih belum genap seratus persen. Ia kembali berkoordinasi, responsnya cepat, dan pendampingan berlanjut secara lebih intensif selama beberapa jam. Pada malam itu, pukul 20.08 waktu setempat, seluruh kendala akhirnya tuntas dan laporannya mencapai seratus persen. Rasa khawatir yang sekian lama membayang pun sirna.
Kami menaruh dua cerita ini berdampingan dengan sengaja. Husnul diselamatkan oleh komunitas; Rudhy oleh pendampingan. Keduanya menunjukkan hal yang sama: tidak ada operator yang seharusnya berjuang sendirian. Sepuluh tahun ini kami belajar bahwa membangun aplikasi saja tidak pernah cukup — yang sama pentingnya adalah orang-orang yang menjawab di live chat tengah malam, dan komunitas tempat para senior berbagi tips tanpa pamrih. Kalau ada satu hal yang ingin kami jaga di sepuluh tahun berikutnya, itu adalah memastikan tidak ada operator yang merasa ditinggal sendirian di depan layar pada pukul dua dini hari.
Salam Satu Data. Mari terus saling menguatkan.
#10TahunGoFeeder #CeritaOperator #RevolutionizeEducation
Diposting Oleh:

Sabella SEVIMA
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform.
Jadwalkan Diskusi