Akademik & Mutu | Perguruan Tinggi
Implementasi OBE di 33 Prodi IAIN Parepare: Dari Dokumen Kurikulum ke Pembelajaran yang Diukur
19 Oct 2026
SEVIMA.COM – Pasca terbitnya Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 tanggal 20 Mei 2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Kondisi Pandemi, sebagai awal dimulainya masa new normal (kenormalan baru).
Sejumlah Kementerian/Lembaga negara telah menindakalnjutinya dengan sejumlah peraturan yang diberlakukan untuk wilayah dan lingkungan pekerjaan, termasuk untuk aktivitas perekonomian, keagamaan dan Aparatur Sipil Negara.
Sementara untuk dunia pendidikan seperti yang dikemukakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim menetapkan Tahun Akademik 2020/2021 di perguruan tinggi tetap dimulai pada Agustus 2020. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa pembelajaran di jenjang pendidikan tinggi ini tetap dilaksanakan dengan berani. Baca: Pembelajaran di Perguruan Tinggi Masih Harus Dilakukan dengan Berani
Salah satu metode pembelajaran yang cocok digunakan untuk saat ini adalah metode blended learning. Blended Learning adalah pola pembelajaran campuran antara pembelajaran di kelas (tatap muka) dan online (webinar, LMS). Namun untuk saat pandemi ini yang digunakan adalah metode online dengan memanfaatkan multimedia baik sinkron (synchronous) dan asinkron (asynchronous).
Contoh online learning sinkron adalah dialog online dan video konferensi. Setiap alat pembelajaran real-time, seperti pesan instan yang memungkinkan siswa dan dosen untuk bertanya dan menjawab pertanyaan dengan segera, adalah pembelajaran sinkron. Daripada belajar sendiri, siswa yang mengikuti pembelajaran sinkron dapat berinteraksi dengan siswa lain dan dosen mereka selama pelajaran berlangsung.
Baca juga: Cegah Corona, Beberapa Kampus Ternama Gunakan EdLink Untuk Kuliah Online
Manfaat utama pembelajaran sinkron adalah bahwa hal ini memungkinkan siswa menghindari perasaan terlindungi karena mereka berkomunikasi dengan orang lain selama proses belajar. Namun, pembelajaran sinkron tidak begitu fleksibel dalam hal waktu karena siswa harus menyisihkan slot waktu tertentu untuk menghadiri sesi pengajaran langsung atau belajar online pada waktu yang sebenarnya (real-time). Jadi mungkin tidak ideal bagi mereka yang sudah memiliki jadwal sibuk.
Pembelajaran asinkron di sisi lain dapat dilakukan bahkan saat siswa atau dosen sedang offline (tidak aktif). Kursus dan komunikasi yang disampaikan melalui web, email dan pesan yang diposting di forum komunitas adalah contoh sempurna dari e-learning asinkron. Dalam hal ini, siswa biasanya akan menyelesaikan mata kuliah mereka sendiri dan hanya menggunakan internet sebagai alat pendukung, bukannya menjelajah secara online hanya untuk kelas interaktif.
Seorang siswa mampu mengikuti kurikulum dengan kecepatan mereka sendiri tanpa harus khawatir tentang masalah penjadwalan. Ini mungkin merupakan pilihan sempurna bagi pengguna yang senang bersantai dalam setiap rencana pelajaran dalam kurikulum, dan lebih memilih untuk mencari topik sendiri.
Namun, bagi mereka yang kurang memiliki motivasi untuk mengerjakan tugas sendiri mungkin merasa tidak mendapat manfaat signifikan dari pembelajaran asinkron. Pembelajaran asinkron juga dapat menyebabkan perasaan terlindungi, karena tidak ada lingkungan pendidikan/pembelajaran interaktif yang nyata.
Baca juga: Hadapi New Normal, dengan Update Strategi Pembelajaran Digital
Perguruan tinggi seharusnya cenderung lebih mudah beradaptasi dengan blended learning, karena siswa sudah menggunakan pola belajar mandiri, berbeda dengan siswa sekolah.
Dalam pelaksanaanya blended learning rekan-rekan perlu meramu blended learning di masing-masing institusi pendidikan, karena penerapan blended learning pasti berbeda-beda karena harus berorientasi pada siswa, sesuai kebutuhan. Fokusnya adalah pemberian materi dan panduan yang jelas.
Posisi multimedia dalam blended learning bukan tujuan, tapi cara mencapai tujuan. Untuk memudahkan pembelajaran yang dirasa sulit ketika disampaikan secara langsung.
A. Animasi mempermudah pemahaman siswa
b. Simulasi meningkatkan kreativitas siswa
c. VR/AR/MR Meningkatkan keterlibatan belajar siswa
d. Multimedia berbasis AI mempercepat penguasaan siswa
e. Multimedia Gamifikasi membuat siswa ketagihan belajar
f. Proses Evaluasi (Tes/Ujian) berjalan efektif dan menyenangkan dengan berbagai metode seperti: Gamifikasi, media sosial, AR/VR/MRMR, IOT Big Data, Sistem Pakar, Machine Learning.
Itulah beberapa pembahasan terkait pembelajaran menggunakan metode blended learning di masa pandemi. Adanya pandemi Covid-19 ini memaksa kita melangkah lebih cepat dalam hal inovasi pembelajaran. Untuk perguruan tinggi yang ingin memulai penerapan blended learning bisa menggunakan SEVIMA EdLink yang sudah banyak digunakan perguruan tinggi di Indonesia. Semoga pandemi ini cepat berlalu dan kita bisa melakukan aktifitas normal kembali.
Diposting Oleh:
Fadhol SEVIMA
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform.
Jadwalkan Diskusi