Berita | Liputan Media

SEVIMA Kisahkan Perjuangan Digitalisasi Perguruan Tinggi di IDX Channel TV

SEVIMA.COM – IDX Channel TV adalah saluran televisi resmi bursa untuk menjangkau generasi milenial. Dengan kekuatan informasi berita seputar perdagangan saham, Channel ini juga memberikan informasi seputar kebijakan ekonomi dan aksi bisnis korporasi.

Pada Jum’at (20/08) pagi, Chief Marketing Officer (CMO) SEVIMA Bapak Ridho Irawan berkesempatan mengisi acara di IDX Channel TV untuk mengenalkan bagaimana peran SEVIMA dalam proses perjuangan digitalisasi perguruan tinggi di Indonesia.

Perjuangan ini dilakukan SEVIMA seiring arah kebijakan Pemerintah untuk mendorong proses digitalisasi di dunia pendidikan. Di saat yang bersamaan, adanya pandemi membuat teknologi menjadi sarana utama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Bagaimana peran SEVIMA? Berikut kutipan wawancara CMO SEVIMA di IDX Channel TV kisahkan inspirasi SEVIMA dalam proses digitalisasi perguruan tinggi di Indonesia.

1. Apa yang menginspirasi anda mendirikan SEVIMA?

SEVIMA ini kepanjangan dari SENTRA VIDYA UTAMA, nama dari perseroan kami. Awalnya kami bergerak di bidang jasa IT solution, yang melayani kebutuhan IT perusahaan-perusahaan dari berbagai industri. Seiring berjalannya waktu, rupanya kami banyak menerima permintaan dan juga memenangkan tender untuk kebutuhan solusi IT di perguruan tinggi. Hingga semakin lama tim kami menjadi semakin ahli dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan di perguruan tinggi.

Lalu kami mulai meluncurkan produk open-source yang bisa digunakan kampus kecil-menengah secara gratis. Dan karena kami melihat banyak permintaan dan request untuk penambahan fitur pada produk kami itu, baru lah perusahaan resmi didirikan oleh Sugianto Halim pada 2006, dan kami mulai meluncurkan produk-produk yang sifatnya komersial. 

2. Bagaimana anda membaca marketnya saat itu?

Kami melihat Indonesia ini termasuk negara dengan jumlah perguruan tingginya besar. Hampir sama dengan di Amerika, ada lebih dari 4000 perguruan tinggi. Di China saja yang penduduknya 5x penduduk Indonesia, jumlah perguruan tingginya hanya 1/2 dari jumlah perguruan tinggi di Indonesia.

Namun 70% dari perguruan tinggi di Indonesia ini merupakan perguruan tinggi kecil-menengah,yang jumlah mahasiswanya <1000, bahkan banyak juga perguruan tinggi micro yang jumlah mahasiswanya <500. Perguruan tinggi ini yang biasanya kategori perguruan tinggi yang baru didirikan/ sedang berkembang, sehingga belum memiliki divisi IT, ataupun belum memiliki infrastruktur teknologi yang menunjang. Apalagi sejak ada pandemi seperti ini, setiap Kampus diharuskan beradaptasi dengan memanfaatkan tools yang menyediakan solusi-solusi seperti yang dimiliki SEVIMA.

3 & 4. Bagaimana kehadiran SEVIMA dapat menjadi solusi bagi dunia pendidikan? Kepraktisan apa yang akan didapatkan konsumen saat menggunakan sistem ini?

Core product kami adalah Siakad. Sistem informasi akademik. Jadi ini merupakan sebuah operating system untuk proses administratif, operasional dan akademik di kampus. Mulai dari pendataan mahasiswa, dosen, mengelola kurikulum belajar, pelaporan ke Dikti, hingga untuk pembayaran SPP kuliah, bisa dilakukan melalui Indomaret, atau aplikasi seperti Tokopedia/ Shopee. 

Sehingga perguruan tinggi bisa fokus pada core bisnisnya, yakni memberikan layanan pendidikan. 

5. Bagaimana pendapat anda mengenai digitalisasi pendidikan yang sedang digaungkan pemerintah ? Akankah ini menjadi tren jangka panjang?

Sejak pandemi covid-19 ini memang mau tidak mau menuntut dunia pendidikan untuk beradaptasi. Kemendikbud juga kami lihat banyak mengeluarkan terobosan-terobosan, agar dunia pendidikan terus mengikuti perkembangan jaman ya. Seperti program Kampus Merdeka itu, kami pun menyesuaikan produk-produk kami agar mahasiswa bisa melaporkan aktivitas pembelajaran di luar kamis melalui Siakad. Kampus juga bisa mengawasi aktivitas mahasiswanya.

Tren jangka panjangnya, kami melihat setelah pandemi nanti, sebagian proses belajar mengajar akan kembali tatap muka seperti biasa, namun juga sebagian akan ada ‘new normal’. Tren blended learning ini rasanya juga here to stay. Kami melihat mulai muncul tidak hanya bank digital ya, tapi juga kampus digital. Dengan memanfaatkan teknologi, kampus-kampus ini bisa melayani lebih banyak mahasiswa, dari berbagai kota di Indonesia.

6. Lalu bagaimana dengan keamanan datanya?

Untuk pengelolaan data ini sifatnya ada yang internal & external. Untuk external kami menggunakan vendor yang sudah teruji secara global, mereka sudah spesialis pada bidangnya data security. Sedangkan untuk data yang kami manage secara internal, semua ada log dan backup nya. Secara berkala kami lakukan audit data, backup data, ini kami lakukan otomatis, sesuai standar industri.

7. Bagaimana dengan cakupan pasar SEVIMA sejauh ini?

Jadi kalau di Indonesia ini ada 4700 perguruan tinggi, setidaknya 10% sudah menggunakan produk kami. Produk kami menjangkau perguruan tinggi kecil, menengah dan besar, dengan range biayanya mulai dari Rp 2jt/bulan, hingga Rp 20jt/ bulan juga ada, tergantung jumlah mahasiswa dan solusi-solusi yang dibutuhkan perguruan tinggi.

8. Bagaimana dengan persaingan industri IT?

Untuk produk Siakad, kami yakin SEVIMA ini market leader. Untuk produk yang lain ya, seperti LMS (learning management system), financial service, pendaftaran mahasiswa baru, ini memang ada beberapa pemain. Beberapa dari mereka bahkan perusahaan besar kelas global. Kami sedang mengupayakan untuk memberikan value proposition yang berbeda, yang menjadi solusi nyata bagi permasalahan perguruan tinggi ataupun proses belajar mengajar di Indonesia.

9. Strategi bersaing?

Pasar edutech ini pasar yang besar, kalau di perguruan tinggi ada 7 juta mahasiswa, di K-12 (SD, SMP, SMA) ada 40jt siswa. Jadi dengan pasar yang sebesar itu, kami ingin menawarkan solusi yang berbeda, yang tepat guna, untuk ceruk pasar yang sempit. Tidak perlu bersaing.

Selain itu juga industri pendidikan ini sifatnya social enterprise, kita tidak bisa hanya berorientasi pada profit dan kompetisi, karena semua edutech di Indonesia pasti memiliki tujuan yang sama untuk memajukan pendidikan di Indonesia.

10. Ekspansi market kedepan?

Kami sedang menyiapkan produk-produk baru untuk melengkapi Siakad, core product kami. Jika awalnya Siakad ini ditujukan untuk proses administrasi kampus, kami ingin juga menyiapkan produk untuk mahasiswa, dosen, calon mahasiswa, calon alumni, dsb. Jadi kedepannya kami sedang membangun tech ecosystem ya. 

Kalau ibarat di Gojek, mereka start dari GoRide, lalu ada GoCar, GoFood, GoSend, GoPay, dan sekarang mereka menjadi tech ecosystem yang powerful. Kami banyak belajar & terinspirasi dari raksasa tech Indonesia lainnya. 

11. Harapan kepada industri IT pendidikan di tanah air?

Harapan kami agar industri pendidikan ini terus mengikuti jaman. Kemajuan teknologi ini kan tidak bisa di rem, kalau dulu generasi 90-an kita belajar dengan kertas dan papan tulis. Sekarang menggunakan laptop, powerpoint, zoom. Mungkin tidak lama lagi, anak2 kita akan belajar menggunakan VR/ AR, pengajarnya ada di China/ India, pembayaran SPP nya pun mungkin dilakukan melalui blockchain. Dengan terbukanya akses pendidikan melalui teknologi ini, diharapkan kualitas dan mutu pendidikan semakin baik.

Selain itu kami juga berharap agar biaya pendidikan ini harus bisa dijangkau oleh berbagai kalangan. Kekuatan teknologi seharusnya bisa memberikan kemudahan, efisiensi, sehingga kualitasnya semakin baik, biayanya pun semakin terjangkau.

Itulah rangkuman wawancara CMO SEVIMA di IDX Channel TV kisahkan inspirasi SEVIMA dalam proses digitalisasi perguruan tinggi di Indonesia. Semoga digitalisasi di dunia pendidikan ini membantu proses dan kualitas pembelajaran di dunia pendidikan semakin lebih baik lagi. Yuk bergabung dengan siAkad Cloud.

 

Bagikan artikel ini
TAGS :

Komentar