Berita | Liputan Media

Dirjen Pendidikan Vokasi: Link and Match Bukan Hanya Sekedar MoU

KOMPAS.com – Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Dirjen Diksi Kemendikbud Ristek) Wikan Sakarinto mengungkapkan pentingnya lulusan pendidikan yang harus sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan industri. 

Menurut Wikan, pendidikan vokasi sangat berhubungan erat dengan dunia industri. Dengan adanya pendidikan vokasi ini, perguruan tinggi bisa melahirkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan industri. 

Adanya link and match adalah untuk menyesuaikan lulusan dengan dunia industri, bukan hanya mengandalkan ijazah namun kompetensi. 

Lulusan yang mempunyai kompetensi bertujuan untuk BMW yang merupakan kepanjangan dari: 

(B) bekerja 

(M) melanjutkan studi 

(W) wirausaha 

Lulusan vokasi jangan hanya mengandalkan ijazah 

Ketiganya merupakan muara saat mahasiswa sudah berhasil menyelesaikan pendidikannya. 

“Setelah lulus nanti, mahasiswa tidak hanya mengandalkan ijazah saja. Mereka bisa mengembangkannya melalui berbagai macam kegiatan untuk meningkatkan masa depan mereka,” terang Wikan dalam webinar bertajuk ‘Strategi Nikah Massal antara Vokasi dan Industri’ seperti dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Minggu (6/6/2021). 

Untuk menunjang lulusan yang kompeten, lanjut Wikan, sangat dibutuhkan kemampuan yang baik melalui hard skills, soft skills, dan karakter. 

Dengan memiliki ketiga kemampuan tersebut, mahasiswa yang lulus diharapkan bisa memenuhi dunia industri. 

Wikan menekankan, program link and match bukan sekedar tanda tangan MoU saja. Namun, dengan adanya link and match ini bisa menjadi sebuah gerbang bagi lulusan vokasi agar sukses bisa memenuhi kebutuhan pasar dan dunia industri.

“Link and match itu bukan sekadar tanda tangan Mou namun bisa dengan paket 8+1,” imbuh Wikan.

Paket 8+1 dalam link and match Paket 8+1 untuk mendukung link and match ini antara lain: 

  1. Sinkronisasi kurikulum 
  2. Pengembangan soft skills dengan project based learning
  3. Pengajar dari industri 
  4. Magang minimal satu semester 
  5. Sertifikasi kompetensi 
  6. Pengajar belajar di industri
  7. Membuat produk yang dihilirkan ke pasar 
  8. Komitmen penyerapan tenaga kerja oleh industri

Webinar yang diadakan Komunitas Sentra Vidya Utama (Sevima) ini selain menghadirkan Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Wikan Sakarinto, turut hadir Wakil Ketua Komisi X DPR RI sekaligus Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (FPI-PII) Hetifah.

Vokasi siap majukan industri di masa depan 

Hetifah mengungkapkan, di masa depan pasti banyak bermunculan jenis pekerjaan baru. Hingga teknologi yang semakin maju dan berkembang pesat. Adanya perkembangan seperti ini, membutuhkan perhatian dari dunia pendidikan Indonesia. 

Inilah tips dari Hetifah agar vokasi dan industri segera ‘menikah’ dan menyukseskan pembangunan bangsa.

 “Apalagi masa yang akan datang diprediksi akan banyak sekali muncul jenis pekerjaan baru. Sehingga, munculnya teknologi yang semakin berkembang pesat akan menjadi PR khusus bagi dunia pendidikan,” ujar Hetifah.

Menurut Hetifah, adanya link and match pendidikan vokasi dengan dunia industri ini menjadi salah satu kunci berhasil industri masa depan. Dengan pendidikan vokasi ini Indonesia mampu mencetak kesiapan tenaga kerja dan SDM yang unggul di bidang industri.

 “Selama ini dosen belum pernah kerja di pabrik, orang pabrik juga tidak pernah mengajar di kampus. Pendidikan Vokasi harusnya jadi kunci untuk menciptakan kesiapan tenaga kerja yang unggul di bidang industri ini. Dengan demikian, teknologi di Indonesia akan lebih maju tanpa harus melakukan impor barang dari luar negeri,” pungkas Hetifah.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Dirjen Pendidikan Vokasi: Link and Match Bukan Hanya Sekedar MoU”.

Bagikan artikel ini
TAGS :

Komentar