Liputan Media

Sesditjen Dikti: Manfaatkan “Rezeki” Kampus Merdeka, Karena Tak Datang Dua Kali

JAKARTA (27/02) Rezeki jangan ditolak, karena takkan datang dua kali. Inilah pandangan Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Dr. Paristiyanti Nurwandani, atas program Kampus Merdeka yang dicanangkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai langkah terobosan di dunia pendidikan tinggi.

Terlebih lagi, lanjut Paris, melalui program Kampus Merdeka, Kemdikbud memberikan wadah kepada para perguruan tinggi untuk belajar di manapun dan difasilitasi secara berlimpah oleh negara. Diantaranya: 1) Pertukaran pelajar, 2) Magang/praktik kerja, 3) Asistensi mengajar di satuan pendidikan, 4) Penelitian/riset, 5) Proyek kemanusiaan, 6) Kegiatan wirausaha, 7) Studi/proyek independen, dan 8) Membangun desa/Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT)

“Jadi, Kampus Merdeka sebagai program holistik, menekankan pengembangan kapasitas sekaligus pemberdayaan mahasiswa, mahasiswa, dan mahasiswa. Misalnya bisa magang dengan ekuivalen nilai 20 SKS, mengajar di daerah dan mendapat uang saku, serta banyak lainnya. Jadi jangan sampai mahasiswa menyia-nyiakan kesempatan emas ini,” ungkap Paris dalam Webinar Ulang Tahun Sevima ke-18 pada Jum’at (26/02) sore.

Baca juga : Cara Instalasi Feeder PDDikti Lengkap Dari Awal [Terbaru]

Menjelaskan Implementasi Kampus Merdeka

Webinar Ulang Tahun Sevima ke-18 mengupas Implementasi Kampus Merdeka pada 25 Februari 2021. Webinar ini dilatarbelakangi untuk mendorong semangat para perguruan tinggi agar sukses menjalankan kelas merdeka di setiap perguruan tinggi. Pada Webinar ini, dua pembicara kunci hadir mengupas topik tersebut. Yaitu Dr. Ir. Paristiyanti Nurwardani,M.P. (Sekretaris Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi) dan Sugianto Halim, M.MT (Direktur Utama SEVIMA). 300 kampus se-Indonesia anggota Komunitas SEVIMA, tercatat sebagai anggota yang menyimak Webinar selama kurang lebih tiga jam ini.

Paris menyampaikan, bahwa program kampus merdeka merupakan salah satu kebijakan terbaru dari Kemdikbud RI yang digagas oleh Mendikbud RI, Nadiem Makarim. Sementara itu, dalam penerapan kelas merdeka juga selalu dibersamai dengan tujuan untuk mencapai Indonesia jaya. Frasa Indonesia jaya tersebut merupakan salah satu bentuk kebijakan baru dari Dirjen Pendidikan Tinggi. Yang mana jika keduanya diimplementasikan secara bersama akan membentuk semangat baru bagi pendidikan di Indonesia menuju Indonesia jaya yang berakhlak mulia.

Hal-hal tersebut penting, karena Kelas Merdeka menekankan pada kemampuan soft-skill seperti akhlak mulia, karakter, dan kesehatan. Berbeda dengan fokus dunia pendidikan yang selama ini cenderung menekankan Ijazah, Nilai IPK, dan Transkrip Nilai.

“Kenapa soft skill dan kampus merdeka ini penting? Untuk mengalihkan kesalahan mahasiswa yang selama ini berfokus pada transkrip, transkrip, dan transkrip. Padahal, transkrip itu, setelah mahasiswa diwawancarai Pak Sugianto (Direktur Utama SEVIMA, merujuk pada aktivitas mahasiswa melamar pekerjaan di perusahaan), nggak akan terpakai lagi. Di dunia kerja, yang penting skill!,” tegas Paris.

Kelas Merdeka, “Memerdekakan” Mahasiswa

Diutarakan langsung oleh Paris, bawah Program kampus merdeka memang disiapkan untuk melatih mahasiswa agar bisa beradaptasi dan mengupgrade skillnya di luar perkuliahan. Ketika mahasiswa mulai memasuki semester 4, mereka diharapkan mampu mengasah minat dan bakat mereka sesuai dengan tujuan dan kepentingan masing-masing.

“Melalui program kampus merdeka ini diharapkan mahasiswa mampu mengasah minat dan bakat mereka ketika memasuki semester 4. Maka, mereka pun bisa memenuhi skill sesuai dengan tujuan dan kepentingan sesuai tujuan masing-masing,” ungkap Paris.

Agar mahasiswa bisa dengan mudah meraih mimpi yang diharapkan. Paris menyampaikan jika sebaiknya mahasiswa sudah mulai merancang cita-citanya dari semester 5. Ini diharapkan agar mahasiswa sudah siap dengan kehidupan pasca kampus. Ketika waktu tersebutlah, mahasiswa bisa memilih program-program pendidikan yang mereka kehendaki di luar kelas.

“Untuk mendukung mahasiswa mampu berkarya di luar kelas, Negara siap memfasilitasi. Misalnya untuk industri yang mengakomodasi pemagangan berbasis vokasional, diberikan Super Deduction Tax (Diskon Pajak) sebesar 200% dari nilai biaya pendidikan. Ada juga program Kedaireka, dimana Kemdikbud mendanai Matching Fund (biaya fasilitasi industri dan perguruan tinggi), supaya civitas kampus bisa mengerjakan proyek dan konsultasi di dunia industri,” lanjut Paris.

Senada dengan ulasan Paris, Sugianto selaku pembicara juga menekankan terkait posisi industri yang sudah lama menantikan kolaborasi semacam ini. Bahkan, pihaknya sudah sempat menawarkan kepada dosen maupun civitas akademik kampus lain, untuk bekerja di perusahaan yang dipimpinnya sebagai Tenaga Ahli, Terampil, maupun dalam kapasitas konsultasi.

“Nah, masalah dosen di masa lampau adalah dilema terkait tugasnya di kampus yang tidak dapat ditinggalkan maupun bertentangan dengan ajakan untuk membantu industri. Melalui program kampus merdeka, hal ini justru akan difasilitasi dan dijadikan tugas dosen,” ungkap Halim.

Acara Webinar Ulang Tahun SEVIMA ini tak hanya mengulas seputar Implementasi Kampus Merdeka dari kacamata regulator saja. Juga hadir sebagai pembicara panel yaitu M. Ramli, S.AP. (Kepala Bagian PDDIKTI Universitas Muhammadiyah Mataram), Apriliyani (Kepala Bagian Riset Produk SEVIMA), dan Azmi Yoga (Arsitek Senior Software SEVIMA), yang mengupas lebih dalam tentang bagaimana Kampus Merdeka dapat diadministrasikan dalam sistem akademik kampus.

Bagikan artikel ini

Komentar