Kontak Kami

Dunia Kampus

 Strategi Generate RPS OBE dalam AI Hanya Hitungan Menit

23 Feb 2026

 SEVIMA.COM- Jam 10 malam, laptop masih menyala. Seorang dosen Teknik Informatika di kampus swasta Jawa Timur masih bolak-balik antara spreadsheet dan template Word. Besok deadline pengumpulan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) ke Kaprodi. Mata kuliah yang diampu semester ini ada lima. Yang sudah selesai? Baru satu.

Padahal dosen ini bukan tipe yang malas. Risetnya jalan, bimbingan skripsinya aktif, kelasnya selalu penuh. Tapi kalau ditanya apakah RPS-nya sudah benar-benar sesuai kurikulum Outcome Based Education (OBE), jawabannya belum tentu ya.

Pertanyaan ini memang jarang muncul. Sampai asesor BAN-PT yang mengangkatnya.

Menyusun RPS Itu Bukan Ngisi Form

Ada miskonsepsi yang masih sering beredar bahwa RPS itu tinggal isi template, tanda tangan Kaprodi, selesai. Kenyataannya jauh dari itu.

Satu dokumen RPS yang mematuhi OBE harus menurunkan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) ke dalam 16 pertemuan selama satu semester. Ini bukan asal comot. Ada 9 unsur wajib yang diatur Permendikbud No. 3 Tahun 2020 Pasal 12 mulai dari identitas mata kuliah, CPL yang dibebankan, kemampuan akhir tiap tahap, bahan kajian, metode, alokasi waktu, pengalaman belajar, kriteria dan bobot penilaian, sampai daftar referensi.

Dan semua unsur itu harus nyambung satu sama lain. CPL diturunkan jadi CPMK, dipecah ke Sub-CPMK. Tiap Sub-CPMK butuh metode asesmen yang cocok dengan level taksonomi Bloom-nya. Bobotnya harus proporsional.

Singkatnya ini merancang desain instruksional, bukan pekerjaan admin.

Dari survei internal terhadap 10 mitra kampus, rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu RPS yang benar-benar comply OBE adalah 3-6 jam. Kalau mengampu 5 mata kuliah, itu 30–40 jam per semester. Habis hanya untuk satu jenis dokumen. Dan semester depan? Prosesnya diulang lagi, karena Permendikbudristek No. 39 Tahun 2025 mengatur RPS wajib ditinjau berkala.

Waktu sebanyak itu seharusnya bisa dipakai untuk riset, publikasi, atau bimbing mahasiswa. Tapi kenyataannya habis di pekerjaan yang isinya mapping dan formatting berulang.

Yang Jarang Dibicarakan: Efek Dominonya

Di satu kampus swasta di Sulawesi Selatan, Kabiro Akademik-nya pernah curhat ke tim Sales SEVIMA. Waktu kompilasi data CPMK untuk dokumen LED akreditasi, angkanya berantakan. Bukan karena dosennya tidak kompeten, tapi karena RPS-nya disusun kebut semalam sebelum deadline.

CPL tidak nyambung dengan CPMK. Metode asesmen tidak cocok dengan level kognitif yang ditargetkan. Bobot nilai disebar rata tanpa mikir proporsi. Hasilnya? Data capaian pembelajaran yang tidak bisa dipertanggungjawabkan di depan asesor.

Dan kalau prodi dapat catatan dari BAN-PT, tebak siapa yang ditanya duluan? Dosennya.

Ironinya, justru dosen yang paling sibuk, yang paling banyak mengajar dan meneliti, yang paling rentan bikin RPS asal-asalan. Bukan karena tidak mampu, tapi karena waktunya memang tidak cukup.

3 Titik yang Paling Sering Jadi Temuan Asesor

Sebelum bicara solusi, coba cek dulu kondisi RPS di prodi Anda. Tiga hal ini paling sering muncul sebagai masalah saat asesmen, dan semuanya bisa dicek langsung dari dokumen yang sudah ada.

  1. Pertama, mapping CPL ke CPMK yang putus

CPMK seharusnya turunan langsung dari CPL. Kalau tidak bisa dilacak balik ke CPL mana yang dilayani, berarti mapping-nya putus. Dari hasil audit mutu internal di 40 kampus mitra SEVIMA, masalah ini ditemukan di lebih dari separuh dokumen RPS yang diperiksa.

  1. Kedua, asesmen yang tidak match dengan level kognitif

Contoh paling umum: CPMK-nya minta mahasiswa “menganalisis” (C4 Bloom), tapi asesmennya cuma kuis pilihan ganda yang mengukur “mengingat” (C1). Secara format rapi. Secara substansi, tidak koheren.

  1. Ketiga, bobot nilai yang tidak proporsional

CPMK utama, yang jadi fokus mata kuliah, seharusnya punya bobot lebih besar. Tapi di banyak RPS, semua CPMK dikasih bobot rata. Atau lebih parah: bobot terbesar justru jatuh ke CPMK yang bukan inti.

Kalau ketiganya sudah benar di prodi Anda, kemungkinan besar RPS-nya sudah solid. Kalau belum, setidaknya sekarang tahu mana yang perlu diperbaiki.

Dari Berjam-jam Menjadi Hitungan Menit, Bagaimana Strateginya?

Tiga titik gagal di atas sebenarnya bukan soal kemampuan akademik dosen. Itu soal alignment dan formatting, pekerjaan yang repetitif, detail, tapi bisa diotomasi.

Menjawab permasalahan ini, SEVIMA melakukan pengembangan Artificial Intelligence (AI) Rencana Pembelajaran Semester (RPS) di SEVIMA Platform. Melalui tools AI RPS Generator ini, dosen akan dipermudah untuk menghasilkan draft RPS yang lengkap dan align dari CPL ke CPMK. 

Dari CPL ke CPMK, dari CPMK ke metode asesmen, dari asesmen ke bobot penilaian. Semua sesuai kurikulum yang sudah ada di sistem.

Lalu bagaimana dengan peran dosen dengan AI RPS Generator ini? 

Perlu ditekankan AI RPS Generator beroperasi secara co-pilot, bukan autopilot. AI menghasilkan draft pertama lalu dosen mereview kesesuaian. Judgment akademik tetap di tangan dosen. Yang berubah hanya siapa yang mengerjakan pekerjaan clerical mapping dan formatting.

Hasilnya draft pertama yang sudah terstruktur dalam hitungan menit, bukan hari. Waktu dosen kembali ke tempat yang seharusnya, yaitu mengajar, meneliti, dan membimbing mahasiswa.

AI bukan pengganti judgment akademik. Tidak ada algoritma yang memahami konteks prodi lebih baik dari dosen yang mengampunya. Tapi formatting, mapping, dan alignment 9 unsur ke 16 pertemuan, itu beban administratif yang bisa disingkirkan. Dan dosen tidak seharusnya menghabiskan malam untuk pekerjaan yang bisa diselesaikan mesin dalam hitungan menit.

Diposting Oleh:

Liza SEVIMA

Tags:

-

Mengenal SEVIMA

SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami

Video Terbaru

[ LIVE ] Grand Launching Serial Webinar Ngaji PMB: Hikmah Ramadhan untuk Meningkatkan PMB 2026