Menggali Kisah Pak Hajar, Operator yang Dulu Sibuk Lembur, Kini Pulang Tepat Waktu
03 Aug 2026
03 Aug 2026
SEVIMA.COM- Di balik rapi dan teraturnya laporan data akademik sebuah perguruan tinggi, ada sosok-sosok operator yang bekerja tanpa banyak sorotan. Salah satunya adalah Desi Rovita, S.M., Kepala Seksi Data dan Pelaporan di Universitas Indo Global Mandiri (UIGM) Palembang.
Lebih dari 15 tahun berkecimpung dalam dunia pengelolaan data pendidikan tinggi, Desi menjadi saksi perubahan sistem pelaporan dari era EPSBED hingga kini memasuki era digitalisasi Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDIKTI) dengan Neo Feeder.
Namun, perjalanan panjang itu tidak selalu mulus. Tantangan, kesalahan input, hingga kebingungan teknis pernah ia alami. Hingga akhirnya, sebuah komunitas di dunia maya, grup Facebook SEVIMA, menjadi “penolong” yang mempermudah pekerjaannya sebagai operator kampus.
Menariknya, kampus tempat Desi bekerja belum menjadi mitra SEVIMA karena kebijakan internal kampus. Namun, lulusan S1 Manajemen UIGM tersebut tidak menutup diri terhadap komunitas operator kampus yang diinisiasi SEVIMA. Ia justru sangat terbantu oleh grup Facebook SEVIMA tempat para operator PDDIKTI dari seluruh Indonesia berkumpul dan saling membantu.
Salah satu momen paling berkesan bagi Desi adalah ketika ia menghadapi error pada sistem Neo Feeder. “Saat itu saya ada masalah, saya cari-cari di Facebook. Ketika ketemu, oh ini kayaknya komunitas Operator PDDIKTI atau Neo Feeder se-Indonesia Raya,” ujarnya mengingat awal mula bergabung dengan grup tersebut kepada SEVIMA, 16 Oktober 2025.
Dari sana, ia mulai aktif berinteraksi. “Saya sharing tentang masalah yang sedang dihadapi, kemudian dikomen oleh Mbak April. Sehingga sampai akhirnya saya bergabung di grup SEVIMA by WhatsApp. Saya berterima kasih sekali,” ungkapnya.
Melalui grup Facebook SEVIMA, Desi mendapat bantuan dari sesama operator hingga bisa berkomunikasi langsung dengan pihak Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Melalui cara itu, permasalahan yang dihadapi Desi bisa terselesaikan.
Bagi Desi, grup itu lebih dari sekadar media sosial. “Sangat-sangat membantu. Misal ada notifikasi dari grup, saya bisa baca kendala teman-teman lain. Kalau saya tahu, saya bantu jawab. Kalau enggak tahu, saya bisa belajar dari situ. Sangat bermanfaat sekali,” ujarnya.
Meski tidak memiliki latar belakang di bidang teknologi informasi, Desi membuktikan bahwa tekad dan kemauan belajar bisa mengalahkan keterbatasan. Lulusan administrasi ini awalnya tidak pernah membayangkan akan terjun ke dunia pengelolaan data kampus yang serba teknis. Namun, situasi yang menuntut dan tanggung jawab yang diemban membuatnya harus beradaptasi cepat.
Beruntung, di tengah kebingungannya mempelajari sistem pelaporan seperti Neo Feeder, ia bergabung dengan komunitas SEVIMA. Selain dari grup Facebook, Desi yang tengah menempuh pendidikan S-2 di kampus yang sama, juga belajar dari kanal YouTube buatan anggota komunitas. Semuanya menjadi sumber pengetahuan yang membimbingnya menguasai berbagai proses teknis, bahkan tanpa dasar IT sekalipun.
“Waktu itu saya belajar dari panduan dari Pak King Ramli di YouTube. Link-nya sangat membantu sekali. Saya bisa mengikuti langkah-langkahnya dan akhirnya berhasil memindahkan data dari laptop ke PC tanpa bantuan tim IT,” cerita Desi bangga. “Orang IT kami saja sampai heran, kok saya bisa sendiri. Padahal saya bukan orang IT,” tambahnya sambil tertawa kecil.
Dari pengalaman itu, Desi belajar bahwa kunci utama bukan sekadar kemampuan teknis, melainkan kemauan untuk terus belajar. Dukungan komunitas SEVIMA menjadi faktor penting yang menumbuhkan kepercayaan dirinya untuk terus berkembang.
Kini, ia tidak hanya menjalankan tugas sebagai operator data kampus dengan lebih percaya diri, tetapi juga menjadi contoh bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti belajar. Melalui semangat dan jaringan komunitas yang solid, Desi membuktikan bahwa siapa pun bisa berkembang, asal mau membuka diri terhadap perubahan dan terus mencari ilmu.
“Saya ini orang administrasi, bukan IT. Tapi karena ada komunitas dan sumber belajar yang terbuka, saya jadi bisa memahami sistem yang rumit sekalipun.”
Baca juga: Mengenal Lebih Dekat #sevimacommunity, Tempat Berkumpulnya Perguruan Tinggi
Desi memulai karier di dunia pendidikan pada tahun 2010. “Saya itu pertama kali bekerja di dunia pendidikan di perguruan tinggi pada 2010. Saat itu saya baru menyelesaikan kuliah diploma saya,” ucapnya.
Menariknya, profesi sebagai operator kampus data bukanlah cita-cita perempuan kelahiran Palembang tersebut. Ia semula bekerja di bagian front office, kemudian pindah ke persuratan, dan akhirnya ditugaskan di bagian akademik. Dirinya pun mengaku tidak memiliki latar belakang di bidang IT. “Namun karena enggak ada orang lagi, jadi ya mau enggak mau saya belajar EPSBED,” tuturnya.
Sistem EPSBED kala itu menjadi tonggak awal keterlibatan Desi dalam dunia data kampus. Ia mengenang tampilan aplikasi yang kecil dan rentan error. “Kalau salah pasti dia bunyi kan di EPSBED itu,” kenangnya sambil tertawa.
Seiring waktu, Desi sempat berpindah kampus untuk menambah pengalaman, hingga akhirnya pada 2018 ia bergabung dengan Universitas Indo Global Mandiri dan kembali dipercaya mengelola data melalui sistem Neo Feeder.
Dalam 15 tahun perjalanan itu, Desi telah menyaksikan transformasi besar-besaran pada sistem pelaporan data pendidikan tinggi. Dari EPSBED, Web Loader, hingga Neo Feeder yang kini terintegrasi secara daring.
“Kalau dulu kami itu kan di LLDIKTI, ketika selesai pelaporan, kita bawa semacam CD-RW atau flashdisk untuk dikumpulkan ke LLDIKTI. Kalau sekarang kan tinggal sinkron-sinkron saja sudah masuk semua,” katanya.
Meski digitalisasi membuat pekerjaan lebih cepat, Desi mengaku tantangan tetap ada. Salah satu yang paling diingatnya adalah saat ada kelulusan mahasiswa. “Waktu itu ada sekitar 400-an wisudawan kami. Di bagian nomor ijazah kan harusnya kosong, saya ter-copy paste nomor ijazah.”
Bagi Desi, kesalahan kecil bisa berujung panjang. “Kita sudah capek, kena marah pula. Itu tantangan beratnya,” ujarnya.
Kini, Desi menjadi pengelola tunggal data di kampusnya untuk menangani hampir lima ribu mahasiswa aktif. Meski demikian, ia tetap menjalankan tugasnya dengan tanggung jawab penuh. “Ya, gimana, mau nggak mau harus mau, karena memang kita dipercaya di situ,” katanya tegas.
Bagi Desi, keberadaan komunitas SEVIMA bukan sekadar tempat berbagi keluh kesah antaroperator, melainkan wadah pembelajaran yang sangat berharga. Melalui komunitas itu, para operator dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia bisa saling bertukar pengalaman, berbagi solusi, dan menumbuhkan semangat kebersamaan dalam menghadapi tantangan pengelolaan data kampus yang semakin kompleks.
Menurutnya, komunitas ini memiliki potensi besar untuk meningkatkan kemampuan teknis dan pemahaman para operator, terutama bagi mereka yang bekerja sendirian di kampus masing-masing seperti dirinya. Dukungan moral dan teknis yang ia rasakan dari komunitas membuat Desi semakin yakin bahwa semangat kolaborasi dapat memperkuat seluruh ekosistem pendidikan tinggi.
Melihat manfaat yang begitu besar, Desi pun berharap agar interaksi dalam komunitas SEVIMA bisa dilakukan secara lebih rutin. Ia menyarankan agar kegiatan diskusi tidak selalu mengandalkan pertemuan formal, melainkan bisa diadakan di grup Facebook agar mudah diakses oleh semua anggota.
“Untuk grup Facebook, kalau menurut saya mungkin ya setiap bulan lah kita ada sharing-sharing bareng di grup saja, enggak perlu Zoom,” sarannya dengan nada penuh harap.
Lebih jauh, Desi juga menyoroti pentingnya peningkatan sistem digital kampus yang lebih terintegrasi. Ia menilai, saat ini masih banyak aplikasi yang berjalan sendiri-sendiri, seperti SIMKATMAWA dan SINTA, sehingga operator harus melakukan entri data berulang kali. Kondisi itu dinilai menjadi salah satu beban kerja yang cukup berat bagi operator di lapangan.
Dengan rendah hati, ia menutup perbincangan dengan penuh rasa syukur. “Sangat terbantulah. Karena saya ini bukan orang IT, tapi bisa jalan karena komunitas SEVIMA. Semoga ke depan, semuanya bisa lebih baik dan saling membantu,” ujarnya, menggambarkan betapa besar arti kebersamaan dan semangat gotong royong dalam membangun sistem data pendidikan yang lebih maju.
Diposting Oleh:
Sabella SEVIMA
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform.
Jadwalkan Diskusi