Kompetisi Menulis

Antara Pandemi dan Revolusi Pendidikan Secara Perlahan di Universitas Padjajaran

Penulis: Erlingga Agustiana
Mahasiswa Universitas Padjadjaran
Artikel ini Masuk dalam 10 Besar Kategori Mahasiswa di “Kompetisi Menulis SEVIMA #revolutionizeEducation” 

Pandemi Covid-19 yang menjangkiti dunia sejak awal tahun 2020 memaksa seluruh sektor penopang keberlangsungan hidup manusia untuk beradaptasi dengan segala bentuk ketidak-pastian. Penyesuaian ini tidak mengenal apa dan siapa sasarannya. Beberapa sektor yang terdampak secara luar biasa dalam skala internasional diantaranya ialah ekonomi, kesehatan, sosial-budaya, dan pendidikan.

Di Indonesia, pendidikan nasional di kala pandemi itu sendiri dituntut untuk berimprovisasi guna terus eksisten sesuai dengan kebutuhan di era industri 4.0. Oleh karenanya, sebuah gebrakan hingga revolusi di bidang pendidikan amat diperlukan untuk menjaga kapasitas serta kapabilitas sumber daya manusia di Indonesia agar terus relevan dengan masa dan tantangannya tersendiri. Revolusi ini harus dipastikan menyasar seluruh segmentasi dan tingkatan pendidikan, dimulai dari usia dini, dasar, menengah pertama, menengah atas, hingga tingkatan vokasi dan universitas.

Universitas dan vokasi menjadi tingkatan yang paling terdampak atas ini. Ini karena kedua tingkatan pendidikan tersebut berisikan orang-orang dari pelbagai latar belakang dan lokasi tempat tinggal. Selain itu, penyesuaian ini juga harus berlandaskan pada filosofi tri dharma perguruan tinggi. Salah satu universitas yang telah membuat gebrakan luar biasa cepat adalah Universitas Padjadjaran, dimana kampus tersebut merupakan kampus tempat penulis berkuliah dan mengembangkan dirinya.

 

(Sumber: Rektorat Unpad, Jatinangor. [Foto: Kantor Komunikasi Publik Unpad])

Universitas Padjadjaran (Unpad) menjadi salah satu kampus yang menyesuaikan dirinya secara signifikan di masa pandemi Covid-19 dengan program-program yang hingga saat ini telah dan akan dilaksanakan. Kebijakan yang diturunkan oleh kampus biru tersebut tak ayal, meskipun kerap menuai masukan hingga kritikan dari entitas mahasiswa, namun tentu patut diapresiasi mengingat tidak ada yang siap menghadapi perubahan secepat ini. Beberapa kebijakan kampus tersebut kemudian dituangkan dalam bentuk konkret dalam pelbagai macam wujud program, diantaranya:

  1. Website mandiri yang terintegrasi dengan kuota belajar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)

Unpad memiliki kanal pembelajarannya sendiri yang dapat diakses dengan kuota belajar bulanan Kemendikbud sebesar 45 (empat puluh lima) Giga Byte. Website tersebut dikenal dengan nama LiVE (Learning in Virtual Environment). Di sana, para dosen dapat dan mahasiswa dapat berinteraksi dari jarak jauh selama masa PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Tampilan User Interface yang sederhana agar mudah digunakan oleh dosen-dosen berusia lanjut namun masih memiliki semangat mengabdi dan mendidik menjadi kelebihan juga.

  1. Pusat Konseling yang melayani secara daring maupun luring

Rektor Unpad periode ini memiliki fokus akan isu kesehatan mental. Salah satu bentuk nyatanya ialah dengan menghadirkan layanan konsultasi kesehatan mental bernama Pusat Konseling Universitas Padjadjaran (PKUP) untuk melayani mahasiswa dan civitas lainnya yang memiliki gangguan kesehatan mental selama PJJ. Layanan ini dapat diakses secara daring maupun luring dengan protokol kesehatan, dan dilayani oleh profesional yang sudah memiliki jam terbang dan teruji secara akademik. Ini karena Unpad berpikir bahwa kesehatan psikologis sama pentingnya dengan kesehatan fisiologis.

  1. Kegiatan kemahasiswaan yang adaptif

Di masa pandemi seperti saat ini, segala kegiatan yang melibatkan aktivitas di luar dan/atau dalam ruangan dan diikuti oleh banyak orang mengalami pembatasan yang pada akhirnya berimplikasi dalam pelbagai hal. Perubahan drastis terjadi di tataran pelaksanaan hingga ke substansi dan filosofi kegiatan. Unpad sendiri mengimbau untuk mahasiswanya agar menyusun dan mengeksekusi segala bentuk program kerjanya dengan mempertimbangkan banyak hal, terutama Pembatasan Sosial Berskala Besar yang berlaku. Oleh karenanya, lembaga-lembaga kemahasiswaan dituntut untuk membuat inovasi dalam programnya. Salah satu lembaga kemahasiswaan yang didukung oleh Rektorat Unpad ialah Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Unpad (BEM Kema Unpad).

BEM Kema Unpad sendiri sudah banyak memiliki program kerja (dapat dicek di kema.unpad.ac.id) yang berdampak bagi masyarakat umum, terutama di bidang pendidikan. Dalam pendidikan, terdapat program bernama Taman Ilmu Unpad. Taman Ilmu ini hadir untuk mengabdi dan memberikan pendidikan kepada anak-anak di sekitar Jatinangor. Namun, dalam kondisi pandemi seperti saat ini, Taman Ilmu berevolusi secara filosofis maupun implementasi.

Dalam aspek filosofis, pandemi menyebabkan kegiatan ini berkurang di sisi kedekatan antara anak-anak sasaran dengan para mahasiswanya yang kemudian menyebabkan terdapatnya gap yang cukup signifikan. Alhasil, efektivitas dan tantangan seperti ini perlu diantisipasi dan diatasi di bagian eksekusi. Di sisi implementasi, Taman Ilmu ini jika dilihat dari segi keuntungan dalam pelaksanaan secara daring, dapat menjangkau lebih luas, tidak hanya dalam lingkup tertentu. Kemudian, pelibatan ini juga dapat menjadi celah kolaborasi yang lebih dalam antara penyelenggara dan pihak keluarga atau wali pendamping anak tersebut.

Pada akhirnya, kondisi ketidak-pastian ini hanya menyisakan satu hal yang pasti, yaitu ketidak-pastian itu sendiri. Kemudian perlu disadari bahwa berdasarkan sejarah, sebuah perubahan bernama revolusi tidak bisa dilakukan secepat kilat. Perlu adanya konsistensi dan komitmen dari pelbagai stakeholders untuk mewujudkannya. Karena pada akhirnya, situasi pandemi seperti ini akan mengubah seluruh tatanan kebudayaan dan sosial masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, revolusi pendidikan dapat mulai diinisiasi dari tingkatan terdekat, salah satunya kampus tempat penulis berkembang, Universitas Padjadjaran.

 

 

Bagikan artikel ini

Komentar