Kompetisi Menulis

Habis Pandemi Terbitlah Revolusi Edukasi

Penulis: Nita Linuria 

Dosen Akper Bunda Delima Bandar Lampung
Artikel ini Masuk dalam 15 Besar “Kompetisi Menulis SEVIMA #revolutionizeEducation”

Sebelum terjadinya pandemi, Revolusi  Industri  4.0 menuntut  Perguruan Tinggi melakukan penyesuaian dalam menerapkan Pendidikan Era Revolusi 4.0. Peserta didik, pendidik, serta tenaga pendidik dituntut menyesuaikan diri dan memanfaatkan Pendidikan Era Revolusi 4.0 dengan memanfaatkan teknologi informasi serta dapat  mengimplementasikannya.

Tentunya banyak hambatan  pada saat mengimplementasikannya dari sarana dan prasarana yang kurang memadai. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan dunia digital, serta sebagian peserta didik mungkin berada di daerah terpencil atau bahkan tidak memiliki laptop/smartphone sebagai salah satu media pembelajaran.

Pandemi yang mewabah  memaksa Perguruan Tinggi  menerapkan Pendidikan Era Revolusi  4.0, khususnya Perguruan Tinggi kami. Akademi Keperawatan Bunda Delima merupakan salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Wilayah Lampung, tentunya karena merupakan PTS bidang kesehatan, di masa pandemi harus menjadi role model setidaknya untuk lingkungan sekitar.

Pada masa pandemi mahasiwa tetap aktif bersosialisasi Gerakan 3M (memakai masker,mencuci tangan, dan menjaga jarak). Tidak hanya dengan bersosialisasi bahkan mahasiswa kami pun menghasilkan produk seperti masker, hand sanitizer yang dibagikan pada warga sekitar, mahasiswa memanfaatkan media sosial untuk melakukan sosialisasi.  Secara tidak langsung pandemi memacu mahasiwa untuk berpikir kreatif dan inovatif, pada tahap ini sebenarnya  mahasiswa  sudah melakukan revolusi edukasi #revolutionizeEducation terhadap masyarakat baik secara luar jaringan (luring) maupun dalam jaringan (daring).

Bagaimana dengan revolusi edukasi di kampus? Mahasiswa dan dosen  mempunyai tantangan untuk melakukan perkuliahan secara online, dan mengapa saya sebut tantangan? Sebelumnya kampus kami belum pernah melakukan perkuliah secara online, pandemi yang mewajibkan physical distancing tidak ada pilihan lain, perkuliahan harus tetap berlangsung. Pada saat itu dosen memanfaatkan platform pembelajaran online, jadi tidak ada ketentuan aplikasi yang dipakai oleh dosen.

Seperti kita ketahui Perguruan Tinggi wajib melakukan pelaporan melalui Pangkalan Data Pendidikan Tinggi, ketidakseragaman aplikasi yang dipakai oleh dosen, tentunya akan sulit pada saat pelaporan, maupun pengarsipan akademik.

Perguruan Tinggi  pun dituntut melakukan revolusi teknologi kampus, kampus kami memilih satu platform pembelajaran  yang wajib digunakan untuk perkuliahan online, dimana platform pembelajaran ini dirasakan paling tepat dan lengkap yaitu Sevima Edlink. Sevima Edlink merupakan aplikasi yang dikhususkan untuk dunia pendidikan dalam membatu dosen menghemat waktu, menjaga kelas tetap teratur, dan meningkatkann komunikasi dengan mahasiswa.

Dengan aplikasi Edlink mahasiswa dan dosen dapat melakukan perkuliahan online dimanapun dan kapanpun. Fitur yang terdapat pada Edlink tersebut sangat lengkap dimana aktivitas pembelajaran, laporan perkuliahan (presensi, nilai perkuliahan) langsung terintegrasi dengan sistem informasi akademik. Dengan tampilan kekinian mahasiswa pun sangat  nyaman dalam penggunaan aplikasi Edlink. Bagaimana tidak, presensi mahasiswa pun cukup dilakukan melalui smartphone. Bisa juga melakukan video conference, kuis interaktif, jadwal perkuliahan yang diingatkan dengan notifikasi, sharing,dan diskusi online.

Pada masa pandemi kampus kami benar-benar melakukan revolusi edukasi, beralih dari sistem luring menjadi daring. Hal ini merupakan perubahan besar pada sistem akademik, tentunya perubahan ini  berdampak sangat positif untuk kemajuan kampus kami kedepannya. Habis pandemi terbitlah revolusi edukasi #revolutionizeEducation2020.

 

Bagikan artikel ini

Komentar