Kompetisi Menulis

Terpaksa Disrupsi Karena Pandemi

Penulis : Indri Sudanawati Rozas, M.Kom
Staf Pengajar Prodi Sistem Informasi
UIN Sunan Ampel Surabaya

Artikel ini Masuk dalam 15 Besar “Kompetisi Menulis SEVIMA #revolutionizeEducation” 

#revolutionizeEducation

Kalau kita bicara tentang disrupsi maka sudah cukup lama sebenarnya terminologi ini muncul di permukaan. Namun sayang sebagian orang masih enggan, entah karena enggan belajar, atau karena merasa disrupsi ini merepotkan, atau karena takut tersingkirkan. Tentu saja banyak alasan dari masing-masing sudut pandang.

Dan pandemi merubah semuanya. Suka tidak suka, terpaksa ataupun bahagia, semua manusia masuk ke dalamnya. Ya, mau tak mau dunia terjun juga ke digital era. Para orang tua yang dulu menjauhkan gadget dari anaknya, sekarang dengan sukarela memberikan waktu kepada anaknya untuk bergadget ria. Ya karena ini adalah ruang belajar mereka. Tentu saja dibutuhkan kontrol dan pengawasan yang jauh lebih cekatan agar anak-anak tetap fokus belajar dibandingkan dengan bermain dan bersenang-senang.

Di sisi yang lain para guru juga terpaksa ber-evolusi. Sebagaimana kita tahu, jika dulu platform YouTube hanya menjadi tempat menyenangkan bagi orang-orang yang memang menginginkan eksistensi dan keterkenalan, maka kini hampir semua orang yang berprofesi menjadi guru dan dosen menjadi youtuber dadakan.

Tak terkecuali saya yang tadinya tak pernah membayangkan, ternyata saya akan menjadi youtuber juga pada masanya. Saya, adalah produk kolonial yang terpaksa mengikuti zaman. Kuliah melalui daring memaksa saya untuk merekam video materi, dan akhirnya untuk kali pertama saya mendengarkan suara milik sendiri, yang kemudian saya sadari jauh dari kategori merdu sekali. Pengalaman yang sungguh penuh arti.

Bukan hanya masalah kendala suara tentu saja. Karena ini hambatan receh saja.

Ada hal yang jauh lebih krusial untuk dipikirkan oleh para guru dan dosen yang kini namanya mulai berkibar. Bahwa dengan membuka diri dalam platform YouTube, para guru dan dosen harus memastikan bahwa materi yang ia berikan memang sesuai dengan standar kebenaran keilmuan yang diterima secara global.

Mengapa demikian? Tentu saja, jika dulu ada seorang dosen atau guru melakukan kesalahan dengan mengajarkan sesuatu yang tidak sesuai standar kebenaran keilmuan, maka belum tentu itu bisa diketahui (karena mahasiswanya juga tidak mengerti). Maka kini yang menjadi audience dari video yang ia unggah bukan hanya murid atau mahasiswa yang duduk di kelasnya, namun seluruh penduduk dunia dari level pendidikan apapun juga.

Dan inilah yang menurut saya inti dari revolusi pendidikan. Di mana sekarang semua pengajar di seluruh dunia akan terawasi secara global. In case ada sebuah kesalahan yang fatal dalam sebuah video pengajaran, saya yakin para netizen tak akan segan untuk meninggalkan komentar untuk meluruskan. Di satu sisi hal ini mungkin terlihat memalukan bagi pemilik konten, apalagi komentar tersebut pasti terbaca oleh murid/mahasiswa yang bersangkutan. Tetapi sebenarnya ini adalah kontrol yang dibutuhkan agar kebenaran tetap menjadi kebenaran. Agar pendidikan memang mengajarkan hanya sesuatu yang benar, sesuai standar keilmuan global.

Menurut saya inilah berkah dari pandemi yang sesungguhnya. Bukan begitu, pembaca?

Sehingga, jika saya ditanya: siapa yang menjadi pemrakarsa utama dari disrupsi di seluruh dunia? Jawaban saya tegas sekali: pandemi.

 

Bagikan artikel ini
TAGS :

Komentar