Berita | Liputan Media

Tips Membangun Kurikulum di Kampus Islam

Surabaya (31/03/2021) – Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), merupakan kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yang bertujuan mendorong mahasiswa untuk menguasai berbagai keilmuan yang berguna untuk memasuki dunia kerja. Kampus Merdeka memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memilih mata kuliah yang akan mereka ambil.

Oleh karena itu, dalam Webinar bertajuk “Tips Membangun Kurikulum Kampus Merdeka serta Ekuivalensinya,” empat ribu anggota Komunitas SEVIMA berdiskusi tentang strategi penerapan kampus merdeka di kampusnya masing-masing. Acara digelar pada Rabu (31/03) pagi melalui Zoom.

Hadir sebagai narasumber khusus untuk membahas strategi implementasi Kurikulum Kampus Merdeka di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Bapak Kurniawan MPD selaku Ketua Program Studi IAIN Curup. Dan juga 33 Rektor dari PTN dan PTS se-Indonesia turut hadir dalam Live Zoom ini untuk mendiskusikan materi bersama para narasumber.

8 Kegiatan Mahasiswa yang Dapat Dilakukan di Luar Kampus

Sehubungan dengan merdeka belajar, Kurniawan mengatakan “Perguruan Tinggi harus memberikan hak bagi mahasiswa untuk secara sukarela (dapat diambil atau tidak): Dapat mengambil sks di luar perguruan tinggi sebanyak 2 semester (setara dengan 40 sks). Ditambah lagi, dapat mengambil sks di prodi yang berbeda di PT yang sama sebanyak 1 semester (setara dengan 20 sks),” papar Kurniawan.

Sedangkan kegiatan mahasiswa yang dapat dilaksanakan di luar kampus ada 8 kegiatan yaitu 1) magang/praktek kerja, 2) proyek di desa, 3) mengajar di sekolah, 4) pertukaran pelajar, 5) penelitian/riset, 6) kegiatan wirausaha, 7) studi/proyek independen, dan 8) proyek kemanusiaan.

Kurniawan juga memberikan contoh pelaksanaan kegiatan beberapa mahasiswa telah berhasil membuka bimbingan belajar dan startup seputar Pendidikan. Kegiatan ini kemudian bisa dikonversi menjadi SKS sekaligus kesempatan menerapkan ilmu mahasiswa. Hal ini berhasil ia lakukan dengan cara menyesuaikan kurikulum, menerima pendaftaran mahasiswa, menyusun syarat pendaftaran yang rinci, dan memberdayakan dosen pendamping sebagai pamong bagi para mahasiswa.

“Kebetulan karena program studi kami adalah Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, maka mahasiswa membuka bimbel untuk anak sekolah. Ilmu mengajar mereka praktekkan, uang mereka dapat, nilai mereka dapat juga,” jelas Kurniawan.

Langkah penyusunan Kurikulum Kampus Merdeka di Kampus PTKI
Kurniawan menambahkan, bahwa dalam melakukan penyusunan sebuah kurikulum MBKM pada PTKI harus memperhatikan beberapa hal. Tujuannya agar kurikulum tersebut bisa diserap dan diaplikasikan sebaik mungkin oleh para mahasiswa.

Berikut adalah langkah penyusunan kurikulum PTKI, antara lain:
Menentukan pola belajar
Memperhatikan beban belajar
Melakukan sebaran mata kuliah
Membentuk kegiatan belajar
Melakukan mekanisme pelaksanaan
Melakukan kemitraan.

Di dalam pola penyusunan kurikulum tersebut, program studi pendidikan memang berbeda dengan program studi non pendidikan. Program studi pendidikan tidak bisa mengikuti kegiatan magang atau melakukan kerjasama dengan Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI).

“Program studi pendidikan tidak bisa mengikuti kegiatan magang atau melakukan kerjasama dengan DUDI. Namun, mahasiswa di program studi pendidikan bisa menjalankan program pertukaran pelajar, pengabdian masyarakat, hingga mengajar di satuan pendidikan. Jika, kegiatan tersebut dilaksanakan dengan baik, maka pengaplikasian program MBKM di sebuah PTKI akan berjalan sesuai dengan rencana,” terang Kurniawan.

Selain itu, Kurniawan juga mengutarakan bahwa ada 4 langkah tepat untuk membangun kurikulum MBKM di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), yaitu:
Menyesuaikan program MBKM dengan Kurikulum Eksisting
Menerima pendaftaran mahasiswa yang ingin mengambil MBKM
Menyusun persyaratan bagi mahasiswa luar yang mengambil MBKM
Menetapkan dosen pendamping selama program MBKM berlangsung
Artikel ini dimuat di kumparan.com pada 1 April 2021

Bagikan artikel ini
TAGS :

Komentar