Dunia Kampus | Featured

Wacana Skenario “New Normal” di Perguruan Tinggi

08 Juni 2020

Jumlah kasus virus corona belum mengalami penurunan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa pada Rabu (20/5) terjadi penambahan jumlah kasus harian terbesar (lebih dari 100.000 kasus di seluruh dunia) sejak wabah bermula di Wuhan akhir Desember 2019. Adapun dampak ekonomi yang dihasilkan akibat pandemi ini membuat pertumbuhan ekonomi hanya sebesar 2,97% di kuartal pertama 2020, padahal kasus pertama Covid baru diumumkan pada 2 Maret 2020.

Meskipun jumlah kasus belum mengalami penurunan dan melihat kegiatan ekonomi yang sudah lama terhenti, pemerintah akhirnya menggaungkan wacana skenario new normal. Skenario ini menitikberatkan pada perubahan budaya masyarakat untuk berperilaku hidup sehat di tengah pandemi Covid-19 atau bisa dikatakan beradaptasi dengan Covid-19. Pemerintah berharap adanya skenario new normal dapat membuat masyarakat tetap produktif di tengah keniscayaan risiko wabah corona dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Beberapa sektor akan dibuka kembali seperti sektor pendidikan, khususnya perguruan tinggi.

Skenario Pesimistis

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh McKensey Global Institute, pandemi Covid-19 berdampak pada beberapa hal, mulai dari proses pengajaran dan pembelajaran, dosen, hingga kondisi finansial perguruan tinggi. Pada skenario pesimistis, pembelajaran online akan dilakukan hingga 2021. Sebagian besar siswa akan menyelesaikan perkuliahan semester ini secara daring dan kelulusan akan dilakukan secara virtual (tanpa seremonial formal).

Kemudian, pergeseran signifikan terjadi pada pembelajaran online yang tentunya menjadi tantangan besar perguruan tinggi. Standar pembelajaran online yang layak perlu dikembangkan perguruan tinggi agar mampu memfasilitasi consumer needs, dalam hal ini mahasiswa. Selain itu, dosen yang tidak siap dengan pembelajaran ini dituntut memberikan effort lebih untuk melek teknologi dan menjadi kreator konten edukasi yang kreatif.

Hal ini tentunya memakan waktu yang awalnya dialokasikan untuk penelitian dalam rangka peningkatan scholarly productivity perguruan tinggi. Dalam hal finansial, seperti yang telah disampaikan oleh Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia Budi Djatmiko, perguruan tinggi khususnya swasta (PTS) menjadi lembaga pendidikan tinggi yang paling terdampak, karena sebagian besar pemasukan PTS berasal dari dana mahasiswa. Keterlambatan pembayaran ini disebabkan kesulitan finansial sebagian besar orangtua mahasiswa di tengah pandemi.

Beberapa Langkah

Untuk menjawab tantangan di tengah pandemi dan mempersiapkan skenario new normal perguruan tinggi, beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh perguruan tinggi meliputi;

1. Membentuk task force team sebagai nerve center

Pembentukan tim kerja yang fokus pada tanggung jawab bidang tertentu dapat membantu pemimpin institusi pendidikan untuk melakukan perencanaan dan pengelolaan respons terhadap Covid-19.

Tanggung jawab tim kerja tersebut meliputi empat bagian. 1. Pertama, melakukan analisis kondisi kampus pada umumnya dan online learning pada khususnya. Kedua, fokus pada apa yang urgent untuk dilakukan, perlu diputuskan apa yang harus dilakukan dengan cepat guna merespons consumer needs. Ketiga, fokus untuk mendesain portofolio actions (baik jangka pendek maupun jangka panjang) dengan pragmatic operating model guna memperjelas rencana dan tindakan aksi tersebut. Keempat, menyampaikan rencana dan merespons tanggapan secara fleksibel dan efisien.

Baca juga: Pandemi Covid-19 Ancaman Serius Bagi Perguruan Tinggi, Apa yang Harus dilakukan?

Dalam rangka meningkatkan efektifitas pembentukan tim kerja ini, perlu dilakukan tracing apa yang sedang dilakukan tim, kapan, dan oleh siapa. Pertemuan antaranggota tim dilakukan secara intensif dan seefisien mungkin guna merespons dan menjawab tantangan yang ada di lapangan.

2. Memperhatikan kebutuhan mahasiswa, dosen, dan ketahanan finansial

Universitas perlu memperhatikan kebutuhan yang diperlukan oleh mahasiswa seperti melakukan optimalisasi standar pendidikan berbasis online. Mahasiswa membutuhkan pengalaman belajar secara online yang menarik, sehingga universitas perlu menyediakan konten edukasi yang mampu meningkatkan minat dan kuriositas mata kuliah yang diambil.

Selain itu, dosen perlu didukung untuk dapat melanjutkan penelitian, karena scholarly productivity mencerminkan kinerja universitas yang mana memiliki pembobotan tinggi (sebesar 60% dari keseluruhan indikator) dalam pemeringkatan perguruan tinggi tingkat dunia, yakni Times Higher Education dan Quacquarelli Symonds Rank. Selain penelitian, dosen perlu diberikan dukungan agar mampu melakukan pengajaran online secara efektif dan bahkan jika dimungkinkan diadakan pelatihan untuk menjadi kreator konten edukasi.

Kemudian yang terakhir, universitas perlu melihat bagaimana kondisi finansial institusi di tengah sistem pembelajaran yang serba online. Dengan adanya ketidakpastian yang berkelanjutan di tengah wabah Covid, universitas perlu melakukan berbagai skenario untuk mendorong ketahanan finansial. Skenario tersebut perlu melihat core competence dari universitas tersebut misalnya dengan mendirikan online courses berbayar yang fee-nya dapat menjadi pemasukan universitas, atau bisa juga dengan mendirikan sebuah bisnis konsultasi yang bekerja sama dengan industri.

3. Fokus pada pendaftaran mahasiswa baru dan proses pengajaran tahun akademik selanjutnya

Melihat waktu pendaftaran mahasiswa baru semakin dekat, institusi pendidikan perlu melakukan perencanaan pada tahun ajaran berikutnya dengan mendirikan command center untuk mengelola aktivitas mahasiswa dan khususnya sebagai pusat informasi bagi mahasiswa yang berpotensi tidak mendaftar seperti mahasiswa internasional dan lower-income students.

Command center diharapkan mampu menjadi garda terdepan informasi yang dibutuhkan oleh mahasiswa. Selain optimalisasi pusat informasi, perguruan tinggi juga harus dapat menjawab tantangan bagaimana agar mampu memberikan perubahan signifikan pada model pengajaran saat ini menjadi pengajaran yang lebih fleksibel, terukur, berbiaya rendah, dan yang terpenting adalah yang menarik.

Baca juga: Hadapi New Normal, dengan Update Strategi Pembelajaran Digital

Memetakan Potensi

Agar dapat menjawab berbagai macam tantangan dalam pandemi ini, pemimpin universitas perlu memetakan potensi kerusakan dan mencari alternatif solusi dengan beragam skenario untuk memecahkan masalah tersebut.

Perencanaan baik jangka pendek maupun jangka panjang diperlukan agar universitas tetap menunjukkan produktifitas di tengah wabah ini dan mampu mengakomodasi consumer needs. Dengan demikian diharapkan perguruan tinggi mampu menghadirkan skenario new normal yang efektif guna menunjang produktivitas sektor pendidikan.

Sumber: https://news.detik.com/kolom/d-5039862/skenario-new-normal-perguruan-tinggi

Bagikan artikel ini

Komentar