Berita | Liputan Media

Mengambil Hikmah Idul Adha di Masa Pandemi

SEVIMA.COM– Momen Idul Adha merupakan salah satu momen hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah Hijriyah. Setiap negara pun menyambut hari raya iduladha dengan hal yang berbeda. Jika pada umumnya Hari Raya Idulfitri relatif lebih meriah di Indonesia, namun ini berbeda di wilayah Saudi Arabia, khususnya di Makkah al Mukarromah dan sekitarnya. Hari Raya Iduladha  di sini justru dirayakan jauh lebih meraih. Ini bersamaan dengan pelaksanaan agenda ibadah haji dan umrah yang diikuti oleh sebanyak 2 jutaan umat Islam dari seluruh belajar Bumi. 

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, di tahun ini 1441 H, kejadian yang tak pernah diduga. Proses pelaksanaan ibadah haji hanya diikuti sebanyak 10.000 orang muslim dari Saudi Arabia saja. Hal ini dilakukan bertepatan dengan gerakan pencegahan pandemi Covid-19. 

Melalui Talkshow yang diadakan oleh SEVIMA, Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd.M.A., guru besar Universitas Negeri Yogyakarta mengungkapkan, terlepas dari kondisi dan situasi yang sangat memprihatinkan ini, Idul Adha yang sangat penting bagi umat Islam dulu, kini dan mendatang tetap memiliki banyak hikmah.

“Meskipun dalam kondisi dan situasi yang sangat memprihatinkan ini, Hari raya Idul Adha sangat penting bagi umat Islam dulu, kini dan mendatang. Sehingga tetap akan mendatang banyak hikmah bagi kita semua,” jelasnya.

Hikmah Idul Adha di masa pandemi

Pertama, dalam ibadah haji, proses thawaf dan sai menjadi salah dua dari rukun haji lainnya harus dijalani oleh setiap jamaah haji dan umrah. Thawaf yang merupakan gerakan mengitari tujuh putaran Rumah Allah (Ka’bah) yang menggambarkan gerakan menyatu dengan Allah dalam keadaan fitrah dengan mengenakan pakaian hitam putih.

Sai sendiri merupakan gerakan jalan dan lari antara bukit Shafa dan Marwa, yang dilakukan bolak tujuh kali tempuh menggambarkan tentang sebuah kehidupan dunia yang diwarnai dengan ikhtiar mencari nafkah dan aktivitas bisnis untuk kehidupan. 

Kegiatan thawaf dan sai tersebut dapat menggambarkan kehidupan akhirat, yang mana membangun hubungan dengan Allah swt (hablum minallah) dan kehidupan dunia, membangun hubungan horizontal  antara manusia dan alam (hablum minannas dan hablum minal ‘alam). Keduanya harus diupayakan dengan maksimal dan seimbang, sehingga bisa saling melengkapi. 

Kedua, pengorbanan Ibrahim dan Ismail sangat penting untuk dijadikan teladan inspirasi. Jika tidak ada iman dan takwa yang tertanam di dalam hati Ibrahim dan Ismail, maka tidak mungkin ketaatan itu muncul untuk mewujudkan impiannya. 

Berdasarkan perintah Allah, Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih Ismail melalui mimpi. Kesiapan tersebut untuk memenuhi perintah yang menggambarkan betapa taat dan cintanya kedua insan ini (antara Ayah dan Anak). Disinilah kita bisa memetik hikmah bahwa ketaatan kepada Allah dari seorang anak Adam, serta ketaatan seorang anak kepada ayahnya adalah penting sekali. Melihat ketulusan dan keikhlasan Ibrahim dan Ismail, Allah SWT kemudian memberikan balasan kebaikan dengan mengirimkan, seekor gibas (kambing). Sungguh membahagiakan semua.

Ketiga, berpakaian ihram di tengah-tengah padang Arafah ketika wukuf, berhenti sejenak di Arafah. Bahwa di Arahan, semua orang berpakaian sama dan sederhana. Menggambarkan bahwa di hadapan Allah swt kita semua sama. Tidak ada yang berbeda, jenis suku/bangsa, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, status sosial dan ekonomi, dan sebagainya. Hanya tingkat ketakwaan yang membuat mulia di sisi-Nya.

Keempat, bahwa dalam memenuhi perintah dari Allah swt, jalan yang dilalui Ibrahim tidaklah alami dengan mulus. Apalagi digoda dengan keberadaan Ismail anak yang paling dicintai yang dinanti selama beratus-ratus tahun.  Bujukan syaitan pun juga tak menghentikan niat dan tekadnya untuk melawan syaitan yang terlemah berhenti mengganggu. 

Akhirnya Ibrahim pun menghadapi syaitan adalah melawannya. Salah satu cara yang dilakukan Ibrahim dengan mencari batu kerikil sebagai senjatanya di malam hari. Untuk tidak mudah diketahui strategi yang akan dipakai dalam melawan musuh (syaitan). Kita dalam meraih kebaikan seringkali dihadapkan banyak rintangan. Kita tidak boleh menyerah dan menghindar, tetapi harus kita hadapi dengan menguasai persoalannya dan strateginya, sehingga dapat kita raih kesuksesannya.

Kelima, kesempatan dan kemampuan untuk bisa menunaikan ibadah haji (utamanya tahun ini dalam era pandemi convid-19) adalah suatu kenikmatan yang sangat banyak dan tak terhingga. Itulah yang membuat kita perlu mensyukuri seluruh hidup, dengan cara salat dan berkorban. Dengan meningkatkan kedua hal ini dengan baik maka akan bisa meraih kebahagiaan dunia dan akhirat secara seimbang.

Iduladha tahun ini dan tahun kemarin memang memiliki cerita yang sangat unik. Tahun ini kita kembali memiliki tantangan yang berat namun kita bisa mengambil hikmah yang besar. Adanya pandemi ini membuat perubahan perilaku dan ibadah yang dilakukan akhirnya berbeda dengan sangat signifikan. 

Sebagai umatnya, kita harus lebih memprioritaskan keselamatan daripada lainnya. Peristiwa yang mengena seseorang dan berakhir dengan korban memiliki cerita tersendiri, yang sangat berharga bagi semua orang. 

Meskipun pada pandemi ini kondisi ibadah kita tak berjalan semestinya, namun bukan berarti kita harus mengubah semua keimanan yang kita miliki. Kondisi ini memang bukan perkara yang mudah, upaya pencegahan dari penularan Covid-19 ini perlu diwaspadai karena sangat membahayakan kehidupan banyak orang. Dengan adanya keterbatasan tersebut, setidaknya kita mampu memetik hikmah sebanyak-banyaknya dari kejadian tersebut. 

Bagikan artikel ini
TAGS :

Komentar