Event | Event SEVIMA | Kompetisi Menulis

Revolutionize Education: Optimis Meningkatkan Potensi Meski Ditengah Pandemic Covid-19

Penulis: Okis Mulyatina
Mahasiswa Universitas Nasional Jakarta
Artikel ini Masuk dalam 10 Besar Kategori Mahasiswa di “Kompetisi Menulis SEVIMA #revolutionizeEducation” 

Pandemi Covid-19 telah melanda Indonesia sejak kasus pertama telah terkonfirmasi pada Februari 2020. Menimbulkan berbagai dampak pada segala aspek kehidupan masyarakat termasuk dalam dunia pendidikan. Beragam langkah dilakukan sebagai upaya untuk menekan penyebaran virus Covid-19 semakin merebak.

Dalam dunia pendidikan terjadi perubahan proses belajar mengajar yang selama ini biasa terjadi. Mengantarkan Revolutionize Education yang bersifat mengglobal melalui jaringan internet. Pendidikan sebelumnya dilakukan dengan sistem pembelajaran tatap muka sebagai metode konvensional menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)  secara virtual. PJJ dilakukan secara daring dengan memanfaatkan teknologi untuk kegiatan belajar-mengajar.

Pemanfaatan teknologi dalam dunia pendidikan bukanlah hal yang baru. Hal tersebut sudah mulai diterapkan secara perlahan pada tahun 2000an dibeberapa instansi pendidikan di Indonesia. dalam beberapa sektor sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan baik sebagai basis data pendidikan ataupun dalam kegiatan belajar mengajar.

Mengacu pada surat Edaran Kementrian Pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud) Diretorat Pendidikan Tinggi No 1 Tahun 2020 mengenai Pencegahan penyebaran Covid-19, Universitas Nasional Jakarta telah menerapkan secara keseluruhan kuliah dilakukan secara daring terhitung sejak bulan Maret. Setiap pelajar baik pada jenjang sekolah dasar, menengah hingga perguruan tinggi melaksanakan proses belajar dari rumah (Learn From Home) melalui sistem belajar daring atau online. Hingga pada bulan September 2020 penelitian Kemendikbud, menyatakan bahwa sudah ada 98% perguruan tinggi di Indonesia sudah menerapkan pembelajaran daring.

Proses pembelajaran mengalami penyesuaian yang diterapkan dalam proses kegiatan belajar-mengajar. Melalui metode baru dilakukan secara daring dari rumah masing-masing, yang sebelumnya dilakukan secara tatap muka (konvensional). Perubahan tersebut yang terjadi secara tiba-tiba mengakibatkan shock bagi civitas akademik baik mahasiswa ataupun dosen. Hal tersebut terjadi karena beragam ketidak siapan pendukung dalam menunjang pembelajaran daring menjadi tantangan tersendiri.

Pendidikan tidak dapat dilepaskan dari proses belajar mengajar sebagai suatu kegiatan yang bersifat holistik dalam satu kesatuan. Beragam aspek pendukung dalam proses belajar mengajar   menanamkan nilai, norma, budaya, moral, dalam diri individu yang membetuk sebuah karakter. Ditengah kondisi wabah pandemic Covid 19 mendesak perubahan secara tiba-tiba tanpa ada persiapan.

Dunia Pendidikan dihadapkan pada ketidak siapan sistem pembelajaran daring dengan beragam tantangan yang dihadapi. Proses pembelajaran daring membutuhkan akses teknologi informasi sebagai penunjang dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar seperti laptop, smartphone, tablet. ( Gikas & Grant, 2013 dalam Handarini, 2020). Menurut Moore at all dalam Firman & Sari, 2020 pembelajaran daring dapat dilaksanakan dengan fasilitas internet, teknologi, aksesbilitas, fleksibilitas dan kemampuan dalam menciptakan interaksi sebagai kegiatan yang menunjang pembelajaran[1].

Dengan kondisi yang terbatas mengakibatkan kesenjangan akses pendidikan bagi kelompok masyarakat tertentu. Pembangunan infrastruktur telekomunikasi yang belum tersebar dengan baik dibeberapa wilayah menghambat kegiatan belajar secara daring dapat berjalan dengan maskimal. Disisi lain kemampuan ekonomi yang berbeda bagi setiap keluarga dalam menyediakan gadget bagi anak untuk mengikuti kegiatan belajar secara daring. Menimbulkan kesenjangan akses pendidikan bagi kelompok pelajar atau mahasiswa dari keluarga ekonomi yang berbeda.

Dalam membentuk proses belajar sebagai upaya untuk menstransfer ilmu pengetahuan. Seperti yang disampaikan Ki Hajar Dewantara bahwa Pendidikan merupakan sebagai proses pembudayaan artinya bahwa sebagai proses mentransfer nilai luhur kepada generasi selanjutnya untuk memajukan dan mengembangkan budaya yang luhur. Dalam situasi pandemic mengharuskan sistem pembelajaran dilakukan secara jarak jauh memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi siswa.

Menurut Edgar Dale dalam teori Cone of Experience atau Kerucut Pengalaman memahami bahwa pembelajaran merupakan sebagai sebuah proses bagi para pelajar  melalui pengalaman belajar dengan proses pengamatan, observasi, tindakan yang dialami oleh dirinya sendiri. Memahami pengalaman sebagai proses belajar bagi individu untuk memahami sebuah informasi yang didapat menjadi pengetahuan dalam dirinya.

Namun dalam situasi pandemic Covid 19 yang membatasi ruang gerak masyarakat termasuk dalam proses kegiatan belajar mengajar. Memberikan pengalaman yang berbeda dalam pembelajaran daring. Dilihat dari sudut pandang  positif pengalaman belajar daring memberikan keleluasaan bagi pelajar mengakses infomasi. Melatih kemampuan dalam menganalisis segala bentuk informasi yang didapat melalui media. Hal tersebut memberikan kesempatan bagi pelajar atau mahasiswa dalam memanfaatkan waktu dari rumah dalam mengoptimalkan potensi diri. Meskipun ditengah pandemic dengan kondisi pertemuan secara tatap muka terbatas tidak menghalangi bagi mahasiswa dalam belajar atau bahkan menghasilkan karya. Sebagai bentuk efektifitas dan efisiensi pemanfaatan teknologi dalam bidang pendidikan.

Tidak terkecuali di Universitas Nasional Jakarta yang memanfaatkan website, zoom meeting, moodle, google meet serta aplikasi lainnya untuk memaksimalkan kegiatan pembelajaran yang dilakukan secara daring. Melalui pembelajaran dari rumah memberikan waktu bagi para mahasiswa memiliki waktu yang lebih banyak dalam meng-eksplore kemampuan belajar secara mandiri. Dengan memanfaatkan internet dalam mencari informasi bahan belajar sebagai bentuk partisispasi siswa dalam belajar. Partisipasi aktif mendorong interaksi antar dosen dan mahasiswa dapat membantu mengembangkan potensi lebih baik dalam memahami suatu materi yang dipelajari (Pedrosa de jessus at all dalam Davis & Summers).

Proses belajar bagi mahasiwa dilakukan melalui platform media digital secara mandiri dengan memanfaatkan internet. Untuk mengakses beragam materi sebagai media pembelajaran yang dapat dilakukan dengan efisisen dan efektif. Dalam proses belajar daring mahasiswa diharapkan tidak hanya aktif dalam memahami apa yang dibaca atau dilihat melalui digital baik itu e-book, hand book, jurnal, youtube, berita. Namun pembelajaran dilakukan dengan mengasah potensi melalui beragam interaksi yang dilakukan secara virtual. Hal tersebut dilakukan dengan partisispasi dalam aktivitas yang dilakukan secara virtual untuk meningkatkan skill seperti video conference, webinar dalam rangka proses belajar-mengajar ataupun keikutsertakan dalam  partisipasi kegiatan kemahasiswaan. Dalam teori Cone Experience  memberikan gambaran bagi mahasiswa dalam memahami informasi melalui pengalaman memiliki resitensi yang lebih tinggi sebagai pengetahuan bagi individu.

Keberhasilan pembelajaran daring yang dilakukan jarak jauh bergantung pada partisipasi pelajar atau mahasiswa dalam proses belajar. Partisipasi belajar dibangun melalui  kesadaran serta kemampuan berfikir kritis dan inovatif dalam memahami informasi yang kemudian akan mempengaruhi terhadap resistensi pengetahuan yang akan diserap oleh mahasiswa.

Dalam proses belajar daring mengurangi interaksi pembelajaran secara langsung mahasiswa dalam kehidupan nyata. Digantikan melalui  peran teknologi dengan beragam aplikasi video conference untuk menggantikan pertemuan tatap muka yang biasa terjadi di ruang kelas. Memberikan kesempatan diskusi bagi dosen dan mahasiswa dalam menghadapi problem solving dalam proses  pembelajaran daring. Sehingga diharapkan dapat terus meningkatkan tujuan pembelajaran daring yang efektif dan efisien.

Melalui pembelajaran daring, mahasiswa dan dosen diharapkan dapat mengoptimalkan teknologi dalam kegiatan belajar-mengajar. Dengan memanfaatkan media digital melalui berbagai platform online untuk mengembangkan kemampuan hard skill dan soft skill. Menciptakan iklim pembelajaran yang baik dalam mencapai mutu pendidikan yang sesungguhnya sebagai Revolutionize Education melalui pemanfaatan teknologi.

Bagikan artikel ini

Komentar