Seputar Pendidikan

Prof M Nuh : Indonesia Menyongsong 100 Tahun Usia Kemerdekaan pada Tahun 2045

SEVIMA.COM – Menurut Prof. Muhammad Nuh, Tepat 24 tahun lagi Indonesia genap berusia satu abad. Ini artinya, banyak mimpi yang harus diwujudkan untuk menyongsong Indonesia emas.  

“Namun, perjalanan menuju Indonesia emas tidaklah mudah. Seribu rintangan datang silih berganti, tak terkecuali tantangan pandemi Covid-19. Memasuki tahun 2021, pandemi masih menghantui seluruh wilayah negeri. Berbagai lini mengalami kemunduran dan gulung tikar akibat pandemi yang tak kunjung berakhir,” ujar Prof. Muhammad Nuh pada Webinar SEVIMA pada Selasa (24/08) kemarin. 

Kemajuan negeri akan selaras dengan kemajuan pendidikan. Sayangnya, lagi-lagi pandemi ini menjadi tantangan yang mengancam kemajuan pendidikan Indonesia. Bermacam respons dan tindakan sudah dijalankan, mulai dari penggunaan teknologi, pembelajaran online hingga melakukan desain ulang aktivitas pembelajaran. Sehingga perlu mitigasi besar-besaran untuk menghadapi COVID-19

Prof. Mohammad Nuh, Ketua Dewan Pers Indonesia sekaligus Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, dalam Webinar SEVIMA, berbagai strategi yang harus disiapkan pendidikan Indonesia untuk menyambut 100 tahun usia kemerdekaan Indonesia. 

1. Menyiapkan Generasi 2045

 Tren usia anak kerja diperkirakan akan naik pesat pada tahun 2045 mendatang. Setelah itu, generasi muda akan semakin menurun. Sebelum mengalami penurunan jumlah usia anak kerja, pendidikan tinggi harus melakukan investasi sebaik mungkin agar terciptanya demographic dividend di pendidikan tinggi.  

 “Menyiapkan pendidikan tinggi sebaik mungkin sangat penting untuk terciptanya demographic dividend. Jika diabaikan, akan membuat demographic disaster di Indonesia mendatang,” singkat Pak Nuh.  

2. Memperkuat mata rantai terlemah

 Ibarat sebuah benda, pendidikan adalah sebuah rantai. Pelaku dunia pendidikan harus memperhatikan sisi terlemah dari rantai tersebut. Bila sisi terlemah ini bisa diselamatkan terlebih dahulu, maka mata rantai tersebut bisa menyokong beban berat di kemudian hari. 

 “Mata rantai terlemah harus diselamatkan terlebih dahulu. Jika tidak, maka tidak bisa digunakan untuk menyokong di kemudian hari. Sama halnya dengan dunia pendidikan, mata rantai lemah ini diibaratkan para pelajar yang berasal dari kondisi kurang mampu. Pemerintah harus menyiapkan generasi tersebut untuk bisa gemilang di Indonesia emas 2045 mendatang,”  kata Pak Nuh menggebu. 

 3. Manfaatkan tenaga expert untuk pendidikan Indonesia

Pendidikan merupakan sebuah dunia yang bersifat irreversible (tidak bisa diulang). Artinya, pemerintah harus tepat dalam merancang pendidikan dan harus dilakukan dengan penuh hati-hati. Manfaatkan tenaga expert untuk membentuk pendidikan Indonesia yang gemilang. 

“Membentuk pendidikan di Indonesia tidak bisa main-main. Bentuk pendidikan tidak bisa diuji coba, maka dari itu butuh tenaga expert untuk membentuk pendidikan Indonesia yang lebih baik dan gemilang,” tegas Pak Nuh. 

4. Melengkapi 3 modalitas kecerdasan dengan DQ dan IndQ

Kita punya janji untuk membawa Indonesia menuju kejayaan. Karena itu, tak bisa hanya mengandalkan 3 modalitas kecerdasan saja. Indonesia butuh Digital Quotient (DQ) dan Ind Quotient (IndQ). Digital Quotient diperlukan untuk membentuk kecerdasan yang bersumber dari potensi teknologi. Selain itu, kecerdasan yang bersumber dari nilai ke-Indonesia-an juga wajib dipenuhi. 

“DQ dan IndQ merupakan dua komponen penting menuju kejayaan Indonesia 2045. Kedua komponen ini sangat penting untuk memenuhi janji kemerdekaan Indonesia di Pembukaan UUD 1945, utamanya pada memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa,” tutup Pak Nuh. 

Mengenal SEVIMA

SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen selama 18 tahun dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui sistem informasi siAkadCloud

TAGS :

Komentar
Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!