Dunia Kampus | Event SEVIMA | Kampus Merdeka | kemendikbud

Ditjen Dikti: Ukuran Kampus Maju Adalah 8 Indikator Kinerja Utama (IKU)

SEVIMA.COM – Upaya Pemerintah untuk memajukan sistem pendidikan di tanah air, maka Kemendikbud memberlakukan sejumlah kebijakan baru. Mulai dari Kampus Merdeka dan Merdeka belajar yang kemudian disusul kebijakan-kebijakan lain yang masih berkaitan.

Salah satu kebijakan baru dari Kampus Merdeka yaitu mengenai Pendanaan untuk Perguruan Tinggi. Artinya melalui proses pelaksanaan Merdeka Belajar, maka disalurkan dana insentif untuk menunjang proses tersebut.

Namun, dana insentif ini tidak serta merta akan diterima oleh semua perguruan tinggi di tanah air. Hanya untuk PTN yang sudah memenuhi syarat dan ketentuan yang ditetapkan. Yakni memenuhi telah mencapai Indikator Kinerja Utama atau IKU.

Baca Juga: Apa Itu Indikator Kinerja Utama (IKU) Perguruan Tinggi dan Bonus Rp 500 Miliar

8 Indikator Kinerja Utama Menjadi Ukuran Kampus Maju

Dalam kegiatan Webinar Nasional yang digagas oleh SEVIMA, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud Republik Indonesia Ibu Dr. Ir. Paristiyanti Nurwardani,M.P. menyampaikan bahwa Ukuran Kampus Maju Adalah 8 Indikator Kinerja Utama.

“Saat ini ukuran kampus maju adalah 8 Kriteria ini atau Indikator Kinerja Utama (IKU), yaitu: 1. Lulusan Mendapat Pekerjaan yang Layak 2. Mahasiswa Mendapat Pengalaman di Luar Kampus 3. Dosen Berkegiatan di Luar Kampus 4. Praktisi Mengajar di Dalam Kampus 5. Hasil Kerja Dosen Digunakan oleh Masyarakat 6. Program Studi Bekerjasama dengan Mitra Kelas Dunia 7. Kelas yang Kolaboratif dan Partisipatif 8. Program Studi Berstandar Internasional. ” Ujar Paris melalui Online Zoom, Kamis (25/02/2021).

Paris juga menyampaikan kepada industri, untuk tidak heran kalau nantinya banyak mahasiswa dan dosen akan melakukan magang dan berkolaborasi dengan industri.

“Nanti tim SEVIMA atau Industri-industri yang lain jangan heran, jika dosen dan mahasiswa ingin magang di kantor Anda. Karena nantinya mahasiswa dan dosen harus keluar kampus, agar para dosen tahu kondisi dilapangan. Dosen juga harus menjadi jembatan bagi perusahan maupun masyarakat. Jadi semakin dosennya sering di luar kampus semakin bagus kampusnya.” Lanjut Paris

Baca Juga: Mewujudkan Kampus Merdeka untuk Indonesia Jaya

Sesditjen Dikti juga mengajak praktisi di Industri untuk saling berbagi pengalaman di perguruan tinggi serta mengajak perguruan tinggi untuk berkolaborasi dengan industri.

“Praktisi, ayo dong ajari kampus dan berbagi pengalaman. Jadi orang kampus harus mau ke industri, dan industri harus diundang ke kampus. Ayo sama-sama banjiri kampus dengan praktisi, dan dosen harus banjiri industri-industri.” jelas Paris

Adanya daftar 8 indikator ini pula, maka diharapkan mampu memacu semangat setiap instansi pendidikan negeri untuk terus maju dan berkembang. Setelah tahun ini berhasil mencapai dua pon indikator atau IKU. Maka akan muncul keinginan dan target untuk mencapai lebih dari dua di tahun berikutnya. Perlahan setiap PTN di tanah air akan mampu mencapai ke delapan poin di dalam IKU yang sudah ditetapkan Kemendikbud tadi.

Penjelasan 8 IKU dalam Transformasi Pendidikan Tinggi

Dalam buku panduan yang diterbitkan Kemendikbud mengenai panduan Indikator Kinerja Utama ini dijelaskan secara detail ke semua poin IKU beserta proses pengumpulan datanya. Adapun yang masuk ke dalam 8 IKU tersebut adalah:

1. Lulusan Mendapat Pekerjaan yang Layak

Indikator pencapaian instansi pendidikan atau PTN yang pertama dalam kebijakan Merdeka Belajar adalah lulusan mendapatkan pekerjaan yang layak. Sehingga lulusan atau alumni dari suatu kampus mempengaruhi hasil pencapaian kampus tersebut.

Semakin banyak alumni yang berhasil mendapat pekerjaan yang layak, atau mungkin menekuni wirausaha dan melanjutkan studi. Maka pencapaian IKU yang pertama ini sudah dikatakan berhasil.

Baca Juga: PDDikti Feeder 4.0 untuk Pendataan Kegiatan Kampus Merdeka

Lewat ketetapan ini, maka diharapkan pihak kampus tidak hanya fokus dalam menyediakan kurikulum pendidikan yang memberikan ilmu pengetahuan. Namun juga membekali mahasiswanya dengan keterampilan yang punya nilai jual di dunia kerja atau di masyarakat. Supaya mereka tidak kesulitan mendapatkan pekerjaan.

2. Mahasiswa Mendapat Pengalaman di Luar Kampus

IKU kedua adalah mahasiswa mendapatkan pengalaman di luar kampus. Meliputi kegiatan magang kerja, riset, proyek desa, pertukaran pelajar, berwirausaha, dan juga lewat kegiatan mengajar.

Melalui IKU ini diharapkan pihak kampus memberi fasilitas lebih kepada mahasiswa untuk mengembangkan diri. Tidak hanya pasif di kelas namun melakukan kegiatan pembelajaran dengan model variatif, dan mampu memberi bekal keterampilan yang mumpuni.

3. Dosen Berkegiatan di Luar Kampus

IKU ketiga adalah dosen berkegiatan di luar kampus, sehingga aktivitas dosen tidak hanya di dalam kampus sendiri. Melainkan juga di luar kampus seperti mencari pengalaman industri sekaligus mengajar di kampus lain.

4. Praktisi Mengajar di Dalam Kampus

IKU berikutnya adalah praktisi mengajar di kampus, sehingga pengajar tidak hanya kalangan dosen namun juga praktisi. Yakni merekrut dosen yang sudah berpengalaman di suatu bidang sehingga ilmu yang dibagikan lebih kompleks, karena sudah terjun langsung di lapangan.

5. Hasil Kerja Dosen Digunakan oleh Masyarakat

IKU kelima adalah hasil kerja dosen digunakan oleh masyarakat. Yakni terkait hasil riset yang dilakukan sebaiknya memberikan manfaat besar bagi masyarakat di sekitar.

Baca Juga: siAkad Cloud Siap Adaptasi Kebijakan Kampus Merdeka

6. Program Studi Bekerjasama dengan Mitra Kelas Dunia

IKU berikutnya adalah berjalannya program studi yang bekerjasama dengan mitra kelas dunia. Sehingga pihak PTN akan menjalani kolaborasi dengan mitra untuk menyempurnakan program studi. Seperti magang, penyerapan lulusan, dan lain-lain.

7. Kelas yang Kolaboratif dan Partisipatif

IKU ketujuh adalah kelas yang kolaboratif dan partisipatif, sehingga pihak kampus bersama para dosen mampu menciptakan kelas yang mumpuni. Bisa melibatkan mahasiswa dan merangsang keterlibatan mereka dalam proses belajar di kelas.

8. Program Studi Berstandar Internasional

IKU terakhir atau ke delapan adalah program studi berstandar internasional, dan hal ini berhubungan dengan akreditasi internasional. Sehingga PTN diharapkan mampu meraih akreditasi internasional untuk bisa dikenal luas oleh dunia.

Melalui perhitungan dengan IKU inilah maka pemerintah dan pihak PTN sendiri bisa lebih mudah melihat perkembangan dari instansi pendidikan. Sehingga lebih mudah untuk mengejar target sekaligus lebih mudah untuk mendapatkan dana insentif yang disediakan oleh Kemendikbud. Silahkan baca panduan Kampus Merdeka disini: Panduan Program Kompetisi Kampus Merdeka 2021

Bagikan artikel ini

Komentar